White Grey Part 2

.Oka.

          Menyebalkan. Mengapa Aliana tidak mau ku ajak kencan? Padahal, kita sudah lama pacaran kan? Ini memang hal memalukan. Kami sudah pacaran kurang lebih tiga bulan dan kami sama sekali belum kencan. Sama sekali norak, kan?

          Sudah beberapa kali ini aku mencoba mengajaknya, tetapi ia tetap menolaknya. Menurutku tempat yang kupilih cukup bagus dan nyaman untuk kita berkencan. Apalagi waktu itu aku pernah memberi ia kesempatan untuk memilih tempat. Sayangnya dia hanya menjawab, “Terserah kamu saja..”

“Hei! Cowok yang melamun di sana!”

          Tiba-tiba terdengar suara tak asing dari arah lapang. Aku mendongak untuk melihatnya.

          Fia. Gadis itu sedang berdiri dengan tangan kanannya yang sedang merangkul bola basket. Matanya menyipit karena silau matahari sore.

“Melamun apa sih? Serius amat..” sahutnya sambil men-dribble bola basket.

          Aku tersenyum. Saat aku sedang bad mood pasti Fia datang. Kebetulan yang menjadi kebiasaan.

“Mau tahuuu ajaa..” jawabku jahil.

          Fia mencibir. Lalu memantulkan bola basket ke arahku. Otomatis aku menangkapnya.

“Menantangku main basket?” tanya ku sambil tersenyum.

          Fia mengangkat bahu dengan gaya cool sambil mengerlingkan mata.

One on one.” Sahutnya mantap.

          Aku pun mendribble bola ke tengah lapang, sementara Fia berusaha merebut bola. Kadang tembakan Fia pun masuk ke ring dengan mulus, kadang juga meleset. Sejauh ini permainan kami cukup seimbang, tetapi setelah lima belas menit kami bermain Fia mulai lelah sepertinya.

“Capek?”

“Enggak.” Sahutnya dingin. Ada yang aneh dari Fia.

          Aku menarik tangannya seraya melangkah ke pinggir lapang, menandakan kita harus beristirahat. “Aku masih mau main..!” kata Fia memaksa.

“Fia, tapi..”

          Perkataanku berhenti ketika melihat raut wajah Fia yang begitu serius. Tapi, matanya tidak memandangku melainkan ke arah pinggir lapang sebelah kanan. Aku mencoba melihat apa yang ada disana. Menurutku tidak ada yang aneh. Hanya ada beberapa siswa-siswi yang sedang mengobrol. Memangnya, apa yang salah?

          Fia tiba-tiba menoleh padaku. Tersenyum.

“Lanjutin mainnya yuk!” tiba-tiba wajah murung Fia berubah menjadi ceria.

          Aku hanya bisa mengangguk dan tak habis pikir atas sikap Fia yang misterius itu.

“Ajarkan aku tembakan three point dong, Ka.” Sahut Fia yang berdiri di dekat ring basket.

          Aku mengangguk, “Perhatikan baik-baik ya.” Kataku. Lalu aku pun berdiri di luar lingkaran lapang dan menembak bola. Bola pun melambung dan akhirnya masuk ring, lalu..

“AWW!!”

          Ternyata Fia tertimpuk bola dari ring dan terhuyung jatuh, aku pun segera menghampirinya. Mengapa ia berdiri tepat di bawah ring seperti itu?!

“Ya, ampun Fia! Kenapa berdiri di situ?? Jadi ketimpuk bola kan..”

          Fia masih mengusap-usap kepalanya. Sepertinya cukup sakit. “Sudah kubilang kan, sebaiknya kita istirahat dulu.” Kataku mengomel.

“Iya, iya.. Maaf deh.”

          Fia mencoba untuk berdiri, dan aku pun mencoba membantunya. Tapi ia malah terhuyung lagi dan.. YA AMPUN!! TIDAK. Fia pingsan?!

“Fia! Fiana!! Bangun Fi.. Fia! Fiana!”

          Fia masih belum sadarkan diri. Matanya masih terus terpejam. “Fia… Bangun Fi! Jangan buatku panik setengah mati dong!” tapi tetap ia tidak sadarkan diri juga. Bagaimana ini?  Kenapa Fia pingsan?! Apa gara-gara aku?! Ayolah Fia bangun!

Dan pada saat aku hendak menggendongnya untuk di bawa ke UKS terdengar sebuah suara tawa kecil.

“Panik setengah mati? Sebegitu paniknya ya kalau aku pingsan?”

          Sialan. Fia menjahiliku. Kenapa aku bisa ditipu semudah ini? “Kau itu menyebalkan sekali ya..” kataku sambil tersenyum jengkel. Fia berdiri dari pangkuanku, lalu tertawa terbahak-bahak. “Kau belum tahu jurus menggelitik dari Oka ya..” sahutku kesal seraya mengejarnya untuk menggelitik pinggangnya. Titik kelemahan Fia memang digelitik pinggang dan leher. Spontan, Fia pun berlari menghindari gelitikanku.

“Kau mau kutimpuk bola lagi ya?!” tantangku masih dengan wajah kesal.

          Fia membalikkan badannya, lalu menjulurkan lidahnya padaku. Gadis itu masih belum jera juga rupanya.

“Coba saja kalau bisa!” Sahut Fia mengolokku lagi.

          Sampai matahari terbenam pun kami masih berkejar-kejaran. Tapi, kurasa ini justru hal menyenangkan. Sudah lama aku tidak tertawa selepas ini. Sudah lama aku tidak sebebas ini berlari. Dan sudah lama aku tidak melihat senyum, seindah gadis itu saat ini.

***

.Fedro.

          Ada sesuatu yang terjadi di sore ini. Gue gak tau ini cuma perasaan gue aja yang lagi kacau atau emang kenyataannya kaya gitu. Tapi bener, ada yang aneh.

          Tadi sore gue liat Fia sama Oka main basket di lapang. Tentu saja itu bukan hal aneh buat gue, Ari dan Rian. Fia dan Oka emang udah dekat dari dulu sejak mereka jadi pengurus OSIS di SMA ini. Tapi, ada hal yang aneh sore itu. Bukan antara Oka dan Fia, tetapi antara Rian dan Fia.

          Tadi gue emang sempet di pinggir lapang. Dan tanpa sengaja gue ngeliat pemandangan yang ganjil. Walaupun lagi main basket sama Oka, mata Fia terus ngekorin Rian yang lagi ngobrol sama temen-temen sekelasnya di pinggir lapang sebelah kanan. Dan yang paling keliatan banget adalah pas Fia mandangin Rian lagi ngobrol sama cewek yang berambut panjang dengan akrabnya. Dan pandangan itu pandangan yang gak biasanya. Well..entahlah, tapi yang ada di pikiran gue sih Fia gak suka kalo Rian deket sama cewek itu.

Weird?

          Ya, memang. Fia bukan tipe cewek yang gampang jealous karena temennya punya temen baru yang lebih deket. Dan pas waktu Rian deket sama Marisa, Fia fine-fine aja kok. Gak menunjukkan reaksi senang ataupun sedih. Bahkan, waktu Rian ditolak Marisa aja dia gak ngetawain Rian. Justru, malah bersimpati. Tapi sekarang? Kok aneh ya bro?

          Walaupun gue keliatan paling cuek diantara Ari, Rian dan Fia tapi gue sebenarnya gak secuek yang mereka pikirin. Gue juga diem-diem suka merhatiin kebiasaan mereka dan hal-hal tentang mereka bertiga.

          Tadi sore juga gue liat Fia pura-pura pingsan buat ngejailin si Oka, dan tau gak apa reaksinya Rian? Gue kira si Rian gak merhatiin Fia sama Oka lagi di lapang, tapi ternyata Rian langsung bangun dari duduknya pas Fia terhuyung di lapang. Walaupun gue gak jelas ngeliatnya tapi gue yakin, Rian sempet khawatir pas Fia jatuh di lapang. Yah, walaupun sebagai sahabatnya Fia juga gue sempet khawatir pas ia tepar waktu itu, tapi sih gue tenang-tenang aja karena ada Oka di sana. Mungkin ini emang hal sepele, tapi enggak buat gue yang udah kenal lama sama mereka berdua. Ada hal yang di sembunyiin dari mereka berdua, atau lebih tepatnya ada perasaan yang di sembunyiin mereka berdua.

          Dan gue gak tau perasaan apa itu.

***

.Fia.

          Aku, Rian, Fedro dan Ari setiap hari Sabtu pasti berkumpul bersama di rumah Ari. Terutama di Gazebo rumah Ari yang cantik menyudut di halaman belakang rumahnya. Itu seperti basecamp kami di hari Sabtu.

“Kok lo jadi suka Korea sih, Yan?” tanya Ari sambil ikut menonton video yang ada di ponsel Rian.

Boyband-boyband Korea itu keren banget, Ri! Lo harus liat deh video yang lainnya.” Jawab Rian masih terpaku dalam video tersebut.

          Tiba-tiba Fedro mendecakkan lidah.

“Alaah.. Jangan, Ri. Masa kita sebagai cowok nonton cowok lagi lenggak-lenggok gak jelas sih? Jeruk makan jeruk dong nantinya..” sahutnya meremehkan.

          Aku tertawa mendengar perkataan Fedro.

“Lo..gak maho[1] kan, Yan?” gumamku dengan nada candaan di sana.

“Sialan, Fi. Ya enggaklah!”

          Aku, Ari, dan Fedro tertawa serentak. Nada bicara Rian yang mengelak itu memang lucu sejak pertama kami mengenalnya. “Dari siapa sih lo tiba-tiba jadi K-Pop lovers?” tanya Fedro sambil asyik dengan PSP-nya. “Dari..”

“Dari Lita,”

          Entah kenapa, aku pun spontan mengatakannya sebelum Rian menjawab. Rian sempat menoleh cepat padaku. Sementara aku hanya tersenyum pada Fedro, “Di kelas gue, banyak pengagum Korea, Fed. Gak heranlah, Rian pun ketularan kaya gitu.” Gumamku santai.

“Kok, lo gak ketularan Fi?” tanya Ari mendongak dari novel ilmiah favoritnya.

“Ketularan? Gak, makasih deh. Waktu SMP gue udah cukup ngenal Korea.”

Rian mengangkat alis. “Lah? Trus kenapa sekarang lo jadi anti-Korea gitu?” tanyanya heran. Aku mengangkat bahu, “Waktu SMP gue obsesi banget ke hal-hal berbau Korea. Majalah-majalah gue borong se-abreg, gak lupa buat search di internet, dan sampai hunting makanan Korea di berbagai hypermarket. Dan yang paling parah tuh waktu gue abisin uang SPP cuma buat tiket konser band indie Korea. Dari situ gue gak konsen belajar, di omelin orangtua, dan.. AH! Pokoknya gue gak mau terjerumus kaya gitu lagi. Tapi, gue bukan penganut rasisme lho ya..”

          Fedro terkekeh.

“Makanya, kalo kita cinta sama suatu hal itu jangan melampaui batas atau sebaliknya. Karena cinta dan benci itu bedanya tipis banget..” Fedro menyahut dengan bijaknya tidak seperti biasa.

“Wuidiih..Gila si Mas Fed!”

“Ada gerangan apa lo bisa bijak kaya gitu Fed?” tanya Rian sambil terkekeh.

          Fedro tersenyum menggelitik. “Tadi malem abis nonton ‘Mario Teguh Goldenways’, hehehe.” Aku kaget mendengarnya, “Elo? Seorang Fedro bisa nonton motivator event kaya gitu? Gak salah?”

          “Gak tau nih, gue juga ketularan bijak dari temen sebangku gue si Fito.” Sahutnya sambil tertawa kecil. “Oh.. Fito yang juara umum itu kan?” Ari menyahut. Dan mereka mengobrol banyak hal tentang orang-orang di kelasnya.

          Sementara Ari dan Fedro membahas tentang hal yang lainnya, aku hanya terfokus dalam iPod-ku yang sedang memutar lagu-lagu kesukaanku. Aku sempat menoleh sebentar pada Rian yang duduk di sampingku, ia juga masih terpaku dalam video boyband favoritnya. Lalu, aku pun bersedekap sambil memejamkan mata mendengarkan alunan lembut Piano Mozart yang melantun dari earphone ku.

“Lagi denger lagu apa, Fi?” tiba-tiba aku langsung membuka mata dan menoleh.

          Rian yang bersuara.

“Mozart, Piano Sonata in C.” kataku singkat.

          Tiba-tiba Rian mengambil salah satu earphone di telingaku, dan menempelkannya di telinganya sendiri. Ternyata, video boyband nya itu sudah selesai ia tonton.

“Lagunya melow sekali, serasa ingin tidur.” Gumamnya sambil menguap.

          Aku memandangnya sejenak. Wajahnya seperti anak kecil, dari dulu memang tidak berubah.

“Pinjam bahu ya.” Katanya. Lalu ia menempelkan pelipisnya di bahu kiriku, dan memejamkan mata.

          Aku pun menyandarkan kepalaku pada sandaran kayu gazebo, ikut memejamkan mata seperti Rian. Dan menikmati lantunan piano di earphone-ku.

Rasanya.. damai sekali.

***


[1] Manusia Homo

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s