Arsip Bulanan: Maret 2013

Hujan..
Di pagi sendu tak lambang sinar mentari
Ketika hari ini

Dingin..
Tak tunjuk celcius atau fahrenheit
ku buta
Ketika hari ini

Kelam..
Rona wajah yang meredup, beraura biru
tidaklah biru langit, kini.. Langit sedang berkabung
ketika hari ini

Lama..
Waktu bak menjelma menjadi siput lamban, tak kenal cela
Kejenuhan merayap ke sekujur diri
ketika hari ini

Hilang..
Sesuatu telah lepas, menjauh, dan hilang
Ataukah kuhilangkan?
Karena kekuatanku hanyalah kelemahan
ketika hari ini

Mereka berdua akan pergi. Sebentar lagi.. hanya menunggu waktu saja. Lalu semuanya akan menguap begitu saja. Memori yang telah di bentuk hanyalah memori kosong belaka. Tak berarti apa-apa.

Terbang sendirian memang lebih menyenangkan. Begitu bebas tanpa batas. Resikonya tentu saja.. kesepian. Ketika kita di masa itu butir-butir mimpi terpaut. Namanya mimpi, bukan? Kurasa.. Itu semu.
Terkadang, jika kita bermimpi kita harus tau padanan kita sampai sejauh mana.

Terkadang, dibuat kecewa oleh diri sendiri lebih miris dibandingkan oleh orang lain.

Akhir-akhir ini tidurku sering tidak nyenyak, dan di iringi mimpi-mimpi aneh yang mengganggu benak. Aku harap, dua orang itu tidak merasakan apa yang aku rasakan. Semoga saja..

Ya, aku tahu realitanya. Karena mereka sebentar lagi pergi, aku harus melepaskan mereka terlebih dahulu bukan?

Gadis itu kini merasa lebih baik. Tiada yang lebih baik lagi ketika dirinya menikmati metamorfosanya sendiri. Ia senang dengan dirinya yang sekarang, ia benar-benar mengerti “Bahagia Itu Sederhana”.

Menurutnya, definisi bahagia itu adalah ketika kita telah melakukan sesuatu atau menerima sesuatu tanpa menyakiti orang lain dan tentunya.. direstui oleh Tuhan. Bahagia tidak rumit. Hanya saja, banyak orang yang menggunakan cara rumit untuk menggapainya. Dan bahagia tidaklah semu, tetapi nyata dan teraih. Begitulah menurut gadis petualang itu.

Ia tidak peduli orang-orang mencemoohnya, bersikap sinis atau bahkan menganggap dirinya gila. Karena ia sedang belajar bagaimana menata dirinya dengan baik. Mandiri akan perasaannya sendiri. Dan berpura-pura untuk kuat hanyalah sesuatu yang sia-sia. Tapi mencoba untuk lebih kuat itu lebih baik, tidak ada pretensi.

Gadis itu kini bak terbang dari sangkar burung yang membelenggunya. Dia bebas. Dan terbang sendirian rasanya indah sekali, walaupun hanya sepi yang kerap kali menemuinya.

Gadis itu kini merasa lebih baik. Tiada yang lebih baik lagi ketika dirinya menikmati metamorfosanya sendiri. Ia senang dengan dirinya yang sekarang, ia benar-benar mengerti “Bahagia Itu Sederhana”.

Menurutnya, definisi bahagia itu adalah ketika kita telah melakukan sesuatu atau menerima sesuatu tanpa menyakiti orang lain dan tentunya.. direstui oleh Tuhan. Bahagia tidak rumit. Hanya saja, banyak orang yang menggunakan cara rumit untuk menggapainya. Dan bahagia tidaklah semu, tetapi nyata dan teraih. Begitulah menurut gadis petualang itu.

Ia tidak peduli orang-orang mencemoohnya, bersikap sinis atau bahkan menganggap dirinya gila. Karena ia sedang belajar bagaimana menata dirinya dengan baik. Mandiri akan perasaannya sendiri. Dan berpura-pura untuk kuat hanyalah sesuatu yang sia-sia. Tapi mencoba untuk lebih kuat itu lebih baik, tidak ada pretensi.

Gadis itu kini bak terbang dari sangkar burung yang membelenggunya. Dia bebas. Dan terbang sendirian rasanya indah sekali, walaupun hanya sepi yang kerap kali menemuinya.

Petualangan adalah hal yang menyenangkan baginya. Hal baru yang sangat luar biasa. Petualangan hidup telah ia gapai selama 16 tahun lamanya. Dalam petualangan hidupnya, ia menemukan berbagai macam petualangan yang membentuknya sebagai pribadi yang sekarang. Gadis itu tahu apa arti dari perjuangan, kegigihan, keteguhan hati untuk mencapai apa yang harus digapainya. Terutama saat ini ia sedang berpetualang dengan batinnya, yang ia sebut “Petualangan Hati”. Ia mulai menentukan hal-hal untuk meniti kelanjutan hidupnya dalam petualangan di dunia bernama bumi ini.

Gadis itu tahu, jika umurnya masih panjang ia akan mengalami petualangan hidup yang bertingkat lebih jauh daripada masa kini. Tapi gadis itu terkadang berpikir akan perubahan yang terjadi pada dirinya sejak menginjak umurnya yang ke-16. Ia kerap kali bertanya-tanya, “Kenapa aku bisa seperti ini?” lalu sedetik kemudian ia bergumam “Aku merindukan diriku yang masih polos seperti dulu..”

Ya! Sewajar dengan umurnya, gadis itu terombang-ambing oleh dirinya sendiri. Tapi, seketika ia tahu apa yang disebut benar itu adalah…
Ketika suatu hal dihalalkan dalam kitab suci Al-Quran, ketika kedua orang tua tidak melarang, dan.. ketika tidak ada kegelisahan yang menyerang hati.