Gadis yang Ditemani Sang Venus

Gadis itu kini menyepi. Duduk di sudut ranjangnya, memeluk lututnya erat-erat. Tak pedulikan rasa sesak di dadanya yang kian menjadi-jadi. Ia hanya menangis. Karena ia memang perlu menangis, begitu katanya.

Kini rasa sesak di dadanya tertutupi oleh rasa sakit di ulu hatinya. Astaga.. apakah ia tidak cukup kuat untuk menghadapi semuanya ataukah justru ia terlalu kuat dan akhirnya melampaui batas?
Rasanya, ia sudah berusaha. Membuat semuanya tepat waktu, mengerjakan dengan benar, membagi waktunya semaksimal mungkin. Tapi.. apakah ada yang peduli? Nyatanya tidak.

Semuanya menganggap gadis itu sama saja. Kedua tempat itu seolah menolak. Dan ia lelah. Fisikal dan mental. Apakah ia menyerah?

Gadis itu menghela napas berat seraya menyeka air matanya yang tiada hentinya mengalir. Ia merasa tidak terima karena ia tahu ia sudah melakukannya semaksimal mungkin dan ternyata semua pihak menganggap tak lebih dari sia-sia saja.

Gadis itu merebahkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamarnya. Menerawang. Megingat hal yang paling tidak disukainya yang akan terus membayang-bayanginya. Dan seketika saja ia mengepalkan tangannya dan meninju udara.

Setidaknya, ia masih berjuang. Ia akan terus berusaha. Walau ia tahu dirinya sudah tidak utuh lagi.

Malam ini yang setia menemaninya hanya sang Venus yang bersemayam di langit barat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s