Kenapa harus menunggu meledak?
Kenapa selalu ada yang terus mengalah?
Kenapa tabir itu masih ada?
Dan.. kenapa aku hanya bisa diam dan tak melakukan apa-apa?
Kenapa rasa empati di dada harus di tekan?
Kenapa.. kenapa selama ini rasanya, rasanya.. terbelakang

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s