Arsip Bulanan: April 2014

Gadis yang akan Menempuh Jalannya

Saatnya menempuh jalan masing-masing.

 

Gadis itu kini berusia pertengahan tujuh belas tahun. Astaga, apa saja yang telah ia lakukan selama 17 tahun ini? Bayangkan, 3 tahun lagi ia mencapai kepala duapuluh. Ia.. beranjak dewasa.

Sampai saat ini ia sama sekali belum merasa dirinya.. kau tahu, dewasa. Sebenrlagi dalam hitungan bulan ia akan menginjak perguruan tinggi. Ya ampuun! Hidup ini terasa singkat baginya. Rasanya baru kemarin ia memasuki SMA dan sekarang ia tinggal menunggu hasil kelulusan.

        Tapi, ia masih merasa ada yang kurang. Saat di sekolah menengah pertama ia selalu membayangkan dirinya di saat 17 tahun. Ia membayangkan dirinya menjadi gadis gemilang yang memiliki banyak prestasi, diandalkan oleh orangtuanya, mempunyai banyak teman, dan sebagainya. Tapi yang ia rasakan sekarang tidak mendekati hal itu. Ia merasa belum mencapai apa-apa. Bahkan naskah novelnya pun ia acuhkan. Lanjutkan membaca Gadis yang akan Menempuh Jalannya

Manusia yang Sedang Berkembang

Ini aneh.

Saya baru merasakan perasaan ini setelah Ujian Nasional yang baru saya selesaikan seminggu yang lalu. Dan entah kenapa saya mulai berpikir, dunia ini makin menggila. Oh, atau mungkin saya baru tahu betapa gilanya dunia ini.

Sikap apatis terhadap pemerintah baru saya rasakan setelah pemilu 2014 dan terutama saat UN tengah di selenggarakan. Tahulah, kunci jawaban dan tetek bengeknya beredar dimana-mana. Di kelas saya pun hanya 10 persen yang tidak memakainya. Dan saya termasuk yang 10 persen itu. Bayangkan saja, soal UN ini terdiri dari berbagai macam paket. Darimana semua kunci tu berasal? Tentu saja dari pihak dinasnya sendiri. Sungguh mengecewakan. Dan satu pertanyaan gila muncul, apakah KPK pernah memeriksa Dinas Pendidikan?

Dan itu yang saya herankan dari diri saya. Mendadak, pemikiran saya menjadi sangat kritis. Dan yang lebih gila lagi melihat berita tentang pedofilia yang meraja lela, kasus korupsi seperti kasus ketua bpk, atau desas desus partai islam yang retak. Semuanya ada di kepala saya. Oke mungkin salah satu dari pembaca ada yang terkekeh atau bahkan tertawa dengan apa yang saya rasakan saat ini. Terserah. Saya sudah tidak peduli apa kata orang lagi. Tapi jujur dlam lubuk hati saya, (rakyat)Indonesia ini menyedihkan. Ya contoh terdekat adalah saya sendiri dan teman-teman sekalian yang pernah mencontek. Sejak kelas 12 ini saya baru menyadari betapa bodohnya tindakan mencontek itu. Ya betapa tidak? Orang yang melakukannya berarti tidak percaya diri dengan ilmu yang ia punya. Mereka(termasuk saya juga dulu) tergantung terhadap orang lain atau hanya pada secarik kertas yang berisi pembodohan-pembodohan lainnya. Mungkin yang saya jelaskan tadi terlalu sarkastik, tapi setelah saya menimang-nimang kembali tidak ada kata-kata lain yang cocok.

Entah karena faktor sebentar lagi menjadi mahasiswa,  tapi jujur, saya ingin mengubah semua ini. Di negeri ini. Negeri yang seharusnya kaya, bukan negeri yang dibodoh-bodohi oleh manusianya sendiri. Bahkan salah satu dari teman saya pun bertekad untuk menjadi menteri pendidikan kelak. Yah, walaupun cita-cita saya tidak setinggi itu tapi saya ingin mengubah negeri ini. Saya bertekad. Tidak peduli teman-teman menertawakan, atau pembaca yang membaca tulisan ini meremehkan. Saya tetap bertekad.

Dan mungkin.. dengan tekad dan prinsip yang saya pegang sekarang akan membawa saya pada kesuksesan di masa depan nanti.

Sekian,

Manusia yang sedang berkembang.

Manusia yang Sedang Berkembang

Ini aneh.

Saya baru merasakan perasaan ini setelah Ujian Nasional yang baru saya selesaikan seminggu yang lalu. Dan entah kenapa saya mulai berpikir, dunia ini makin menggila. Oh, atau mungkin saya baru tahu betapa gilanya dunia ini.

Sikap apatis terhadap pemerintah baru saya rasakan setelah pemilu 2014 dan terutama saat UN tengah di selenggarakan. Tahulah, kunci jawaban dan tetek bengeknya beredar dimana-mana. Di kelas saya pun hanya 10 persen yang tidak memakainya. Dan saya termasuk yang 10 persen itu. Bayangkan saja, soal UN ini terdiri dari berbagai macam paket. Darimana semua kunci tu berasal? Tentu saja dari pihak dinasnya sendiri. Sungguh mengecewakan. Dan satu pertanyaan gila muncul, apakah KPK pernah memeriksa Dinas Pendidikan?

Dan itu yang saya herankan dari diri saya. Mendadak, pemikiran saya menjadi sangat kritis. Dan yang lebih gila lagi melihat berita tentang pedofilia yang meraja lela, kasus korupsi seperti kasus ketua bpk, atau desas desus partai islam yang retak. Semuanya ada di kepala saya. Oke mungkin salah satu dari pembaca ada yang terkekeh atau bahkan tertawa dengan apa yang saya rasakan saat ini. Terserah. Saya sudah tidak peduli apa kata orang lagi. Tapi jujur dlam lubuk hati saya, (rakyat)Indonesia ini menyedihkan. Ya contoh terdekat adalah saya sendiri dan teman-teman sekalian yang pernah mencontek. Sejak kelas 12 ini saya baru menyadari betapa bodohnya tindakan mencontek itu. Ya betapa tidak? Orang yang melakukannya berarti tidak percaya diri dengan ilmu yang ia punya. Mereka(termasuk saya juga dulu) tergantung terhadap orang lain atau hanya pada secarik kertas yang berisi pembodohan-pembodohan lainnya. Mungkin yang saya jelaskan tadi terlalu sarkastik, tapi setelah saya menimang-nimang kembali tidak ada kata-kata lain yang cocok.

Entah karena faktor sebentar lagi menjadi mahasiswa,  tapi jujur, saya ingin mengubah semua ini. Di negeri ini. Negeri yang seharusnya kaya, bukan negeri yang dibodoh-bodohi oleh manusianya sendiri. Bahkan salah satu dari teman saya pun bertekad untuk menjadi menteri pendidikan kelak. Yah, walaupun cita-cita saya tidak setinggi itu tapi saya ingin mengubah negeri ini. Saya bertekad. Tidak peduli teman-teman menertawakan, atau pembaca yang membaca tulisan ini meremehkan. Saya tetap bertekad.

Dan mungkin.. dengan tekad dan prinsip yang saya pegang sekarang akan membawa saya pada kesuksesan di masa depan nanti.

Sekian,

Manusia yang sedang berkembang.

Okay, myself, it’s just an usual exam. You ever did it 3 years ago. It’s quite simple. Don’t think that the’re so hard. You can beat ’em. You already preparate it. You don’t have to be afraid. Remember.. fear is your enemy. Don’t feel it. Just beat it. You can do it!

Hidup hanya ingin merasa senang setiap hari? Percayalah, masa kecilmu dapat diperkirakan kurang bahagia, tidak ada kehangatan. Lalu saat umurmu beranjak dewasa, kau masih mendambakan hal-hal yang seharusnya kamu dapat ketika kecil.

Kita tidak pernah tahu bahwa rival kita mempunyai hati yang lebih lembut dibandingkan orang terdekat di sekeliling kita. Satu hal yang patut kita hargai dari seorang rival adalah.. dia tidak pernah menikam kita dari belakang. Tidak seperti domba-domba di sekeliling kita, yang bisa tiba-tiba berubah menjadi serigala. –SLR

Kita tidak pernah tahu bahwa rival kita mempunyai hati yang lebih lembut dibandingkan orang terdekat di sekeliling kita. Satu hal yang patut kita hargai dari seorang rival adalah.. dia tidak pernah menikam kita dari belakang. Tidak seperti domba-domba di sekeliling kita, yang bisa tiba-tiba berubah menjadi serigala. –SLR