Arsip Bulanan: Mei 2014

Mencari Arah

Terhuyung
Lalu.. tegap.
Tinggi, rendah.
Jalanan panjang, siap diterjang

Mencari arah
Ke penjuru galaktika
Diam, tapi mantap
Diam, tapi peluh berkejaran
Disingkaplah sebuah tekad

Tekad, tekad, tekad, berani
Berani, berani, lalu dijuang
Dijuang, tak sia-sia

Sampai darah bergelora, arah menuntun suatu labuhan

-ketika jarum jam menunjukan angka 9, pulang untuk berjuang-

Dan Tuhan pun akan selalu memilih jalan yang terbaik untuk makhluknya.

 

Sang Gadis tersenyum seharian hari ini. Sudah cukup. Sudah cukup matanya sembab kemarin sore. Akhir-akhir ini ia selalu bahagia. Tersenyum, menjalani hari dengan kemalasan tingkat dewa yang sukar hilang. Tetapi setelah sesuatu yang terjadi kemarin, segalanya terasa berubah. Semangat dan gairah hidupnya seolah-olah meresap masuk ke dalam raganya. Seolah mainan elektronik yang baru diisi baterai baru. Ajaib.

Hidup ini selalu ajaib, pikirnya. Belakangan ini ia jarang sekali merasakan hal-hal yang tidak penting seperti, yah, kau tahulah, galau, sedih dan semacamnya. Karena ia menemukan satu kunci.

Bahagia adalah bersyukur terus menerus.

Ia betul-betul merasakan betapa bahagia itu sangat mudah dan sesederhana yang tak ia bayangkan. Dan ia sama sekali tidak merasa lelah. Sama sekali tidak. Karena ia tahu tidak ada usaha manusia sedikitpun diabaikan oleh Tuhan. Gadis itu memejamkan matanya ketika ia mengangkat tangannya, bersimpuh pada-Nya. Hanya seperti itulah ia merasakan bahagia menerpanya dengan lembut. Sejuk. Seolah energi positif berada di genggaman.

Suatu hari, seseorang bertanya pada sang Gadis, “Apakah kamu seorang beriman?” Sang Gadis menawab dengan tegas, “Tentu saja, iya!” dan seseorang itu menjawab, “Maka dari itu, berjuanglah, bangkitlah sebelum kamu dijatuhkan.”

KARENA PERJUANGAN MASIH PANJANG

Momen seperti ini adalah bukan momen yang hanya untuk di sia-sia kan saja. Tapi momen dimana kita merubah takdir, merubahnya menjadi sesuatu yang jauh lebih baik. Sesuatu yang patut untuk diperjuangkan!

Maraknya Pedofilia, salah siapakah?

 

stop

Sejak kasus penganiayaan seksual yang terjadi di TK JIS, berita ini spontan menyebar luas. Dan, kasus-kasus yang sama pun menyeruak dari daerah-daerah tertentu di Indonesia. Ternyata, telah banyak kasus pedofilia ini di Indonesia, namun mereka yang menjadi korban menganggap hal ini tabu untuk dibicarakan. Tapi, akhirnya pun terkuak.

Jujur saja, saya sangat sedih melihat betapa banyaknya anak yang menjadi korban.Masa depan mereka solah dibuat gelap dan terus terbayang-bayang trauma. Jadi, apa penyebab maraknya kekerasan seksual ini? Siapa yang perlu disalahkan? Bahkan, pelaku pun salah satu korban di masa lalu yang akhirnya melampiaskan pada hal yang sama. Mengapa?

Menurut Hemat saya, ada 3 faktor yang mempengaruhi banyaknya kasus ini.

  1.  Perhatian dan bimbingan orangtua yang kurang
  2. Faktor Lingkungan dan Pergaulan yang mendukung terjadinya kekerasan seksual
  3. Kelainan jiwa pada diri pelaku

 

Perhatian dan bimbingan orangtua yang kurang menyebabkan anak tertutup pada orangtuanya. Sehingga dalam pergaulan anak yang kurang bimbingan orangtua akan cenderung pendiam dan kurang percaya diri. Karena kurang percaya diri inilah anak takut mencoba atau mengetahui hal-hal yang baru.

Akibatnya, ia cenderung “keluar” dari pergaulan. Biasanya, anak-anak seperti inilah yang dijadikan sasaran pelaku. Dan akhirnya, hal yang tidak diinginkan pun terjadi.  dalam hal ini, ada anak yang segera memberitahukannya pada orangtua, adapula yang tidak sama sekali memberitahu. Jadi, kasus yang kita lihat selama ini seperti permukaan gunung es yang muncul, padahal di dalamnya ada lebih banyak kejadian pada kenyataannya.

Jika anak-anak yang akan menjadi tunas bangsa dimusnahkan mentalnya, apa yang akan terjadi pada Indonesia nanti?