Menulis di Embun Pagi

Pagi itu, tanganku menari di jendela yang berembun..

 

Begini saja, mari kita akhiri segala drama yang kau perbuat.

Dan, bagaimana dengan 2 wajahmu itu?

Aku sudah angkat tangan sejak awal.

Adakah orang sebodoh itu?

Aku.

Dan garis khianat yang semakin jelas di landai pantai telah menyingkap

Kau

 

Katanya kau lelah

Bukankah dirimu perbuat?

Bukankah karena 2 wajahmu?

Bukankah, kau yang membuat tali mati?

Tidak tahu diri

 

Dan jika akupun yang harus kau tikam lagi

Tolong

Tolong, bukalah matamu, hatimu

Agar kau tidak hanya untuk mendengar

Tapi, memahami

 

Matahari seketika terbit, tanganku berhenti, tulisan itu aku ingat sampai mati.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s