Paradoksial Hidup (Dialog)

X: “Terkadang kita hanya membutuhkan diri kita sendiri untuk hidup.”

Y: (Sedang minum, lalu tersedak) “Kau bilang apa?”

X: “Terkadang kita hanya membutuhkan diri kita sendiri untuk hidup.”

Y: “Kau ini mahkluk anti-sosial ya!”

X: (menggeleng)  “Bukan begitu. Kau akan merasakannya nanti, ketika….”

Y: “Ketika?”

X: “Ketika semua orang di sekitarmu mengkhianatimu. Bahkan, orangtuamu sendiri.”

Y: “Menurutku tidak, ya, walaupun kenyataan pahit kita pasti membutuhkan mereka. Atau kelak, kitabakan menbutuhlan orang lain juga.  Kau hanya terlalu berlebihan.”

X: …

***

5 Tahun kemudian mereka bertemu lagi.

Y: ” Kau benar.”

X: ” Maksudmu?”

Y: ” Apa yang dikatakan olehmu lima tahun lalu. Itu benar.”

X: (mengeritkan dahi,  mencoba mengingat)

Y: ” Dua tahun terakhir hidupku kacau. Kekasihku sendiri teganya berselingkuh dengan sahabatku sendiri, aku dicurangi di pekerjaanku, bahkan orangtuaku sendiri.. ah, sudahlah. Intinya.. aku merasakan apa yang kau katakan dahulu, Bung. Aku memang hanya membutuhkan diriku sendiri.”

X: (mengingat, lalu tersenyum kecut) “Justru perkataanku salah.”

Y: (menggeryit) “Tidak, Bung, itu benar!”

X: (menggeleng) “Awalnya, aku merasa terpuruk. Kacau sekaligus tidak percaya. Tapi setelah kau bilang dahulu bahwa kita akan membutuhkan oranglain juga, aku mulai percaya. Aku percaya pada hidupku dan aku percaya kepada orangtuaku lagi. Dan setelah itu, percayalah, semua akan baik-baik saja.”

Y: “Terimakasih, Bung. Aku harap bisa sepertimu”

X: “Tidak, akulah yang berterimakasih.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s