Arsip Bulanan: Oktober 2014

#Day2 MEMAAFKAN

Hari ini saya belajar dan mencoba untuk ikhlas. Memaafkan oranglain adalah salah satu cara kita untuk memaafkan diri kita sendiri. Saya pernah mendapatkan kutipan bahwa menunda maaf dan menyimpan dendam untuk oranglain sama saja dengan menyakiti diri kita sendiri.

Suatu hari saya membaca buku lalu ada pertanyaan yang paling saya ingat dan akan saya ingat seumur hidup “Apa manfaatnya jika anda masih menyimpan dendam dan enggan untuk memaafkan?” Jujur, hati saya sangat terpukul membacanya dan saya merutuki diri sendiri akan hal itu. Bodoh, bodoh, bodoh.. Tuhan saja mau memaafkan hambanya yang berlumur dosa mengapa manusia tidak? Pikir saya waktu itu.

Awalnya, saya mengalami kesulitan. Saya mengklaim bahwa meminta maaf itu lebih mudah dibandingkan memaafkan. Saya masih tidak terima oleh perlakuan orang-orang terhadap saya waktu dulu. Saya masih mengingat kebaikan saya akan orang itu, padahal Tuhan pun dengan ikhlas memberikan rahmat kepada hambanya. Sekali lagi, manusia tidak.

Manusia terlalu mementingkan egonya, terkadang. Tidak semua manusia seperti itu tapi kebanyakan manusia begitu. Termasuk diri saya sendiri yang merasa tidak terima disakiti oranglain, tapi faktanya adalah saya yang menyakiti diri sendiri.

Ketika saya memutuskan untuk memaafkan orang yang sangat berat saya maafkan sebelumnya ada perasaan lega yang muncul tiba-tiba. Hati mendadak tenang dan ringan. Mungkin, selama ini hal itu menghantui saya tanpa saya sadari. Tapi kini sudah tidak, karena keajaiban memaafkan yang luar biasa.

Karena saya percaya untuk menjadi manusia diatas rata-rata perlu perjuangan yang gigih, termasuk membuka hati dan pikiran kita lebih luas untuk menjadi manusia yang lebih baik. Memaafkan salah satu caranya.

Tuhan, terimakasih atas keajaiban-keajaiban yang telah Engkau berikan sampai saat ini. Termasuk mempertemukanku dengan buku yang sangat luar biasa “21 Days to be Transhuman”. Mama, terimakasih atas doa-doa mu yang selalu engkau panjatkan di tiap sujud dan tangismu. Engkau adalah representasi dari transhuman sebenarnya. Untuk sahabatku yang luar baisa, Windy Utami Dewi. Kamu mengajarkan banyak hal dan keajaiban hidup dari cerita-ceritamu yang senantiasa menggelitikku tiap malam. Dan untuk seseorang yang tidak pernah lelah ada untukku, terimakasih telah menemani hingga pagi buta di sela-sela aktivitasmu yang padat. Saya berhutang banyak kepada kalian semua.

 

Hari kedua dari 21 hari.

Seharian. Di kosan. Menambah Wawasan.

Hari ini saya banyak belajar. Walaupun sebenarnya seharian saya habiskan di kosan.

Dalam buku 21 Days to be TransHuman oleh Nanang Qosim, saya belajar bahwa memberi haruslah dengan ikhlas. Tentu saja hal ini sangat biasa di dengar tapi apakah biasa kita lakukan?

Manusia cenderung mengharapkan balasan ketika memberi. Balasan yang di harapkan bisa dalam bentuk apa saja, seperti ucapan, tingkah laku, atau bahkan sebuah barang. Contoh sederhana ketika kita tersenyum kepada seseorang dan seseorang itu tidak memberikan respon yang baik, manusia cenderung merasa sebal atau berpikir negatif tentang orang tersebut. Ini merupakan salah satu bukti bahwa manusia itu pada dasarnya pamrih atas segala sesuatu. Lanjutkan membaca Seharian. Di kosan. Menambah Wawasan.

Aku.. si pengemis!

Hari ini aku berjalan menyusuri tepi danau dekat perpustakaan. Pikiranku membuncah kemana-mana dengan sunyi tanpa seorang pun tahu. Sebenarnya aku dalam tahap pencarian. Bukan pencarian jati diri, tapi pencarian sebuah asa dan mimpi. Pencarian bagaimana mimpi bekerja dalam kehidupanku.

Angin menghembus kain kerudungku, menimbulkan efek dramatis untuk merenungkan cara kerja diriku dalam menggapai mimpi. Mimpi yang sudah di depan mata yang meminta dipilih untuk diambil atau tidak. Masalahnya, memilih adalah kegiatan yang tidak semudah manusia pikirkan. Tidak semudah mulut ketika bersuara ‘Ayo kita putuskan.’ Lanjutkan membaca Aku.. si pengemis!

The timing is right. The conditions are  supporting us. Everyone came one by one. Including you. Include all of your insightful mind. Suddenly, I feel so small and shy.

I’m a cruel in the name of Him.

The dilema still playing around my mind.

Ada suatu rasa yang tak bisa di paparkan oleh kata.
Ada suatu jeda dimana kau adalah pusatnya.
Ada makna suatu mimpi yang menghantui kehidupan nyata, menerobos kedalam hingga jatuh ke dasar relung kosong yang dalam.

Ada aku yang berada di tepi bayangan yang berteriak untuk keluar.

-mata meredup, 22.16-

Pernak Pernik Rasa Pelajar Baru

Akhirnyaaa…

Bisa menulis dengan bahasa Indonesia lagi adalah suatu kelegaan yang tidak bisa di deskripsikan oleh kata-kata. Ketika tuntutan untuk berbahasa asing menghantui kita rasanya sangat tidak enak. Jika ‘homesick’ sudah lazim dikenal bolehkah saya menggunakan ‘languagesick’ untuk konteks kali ini?

Ah, rasanya jenuh juga. Hm, mungkin jenuh terlalu hiperbola. Bosan sesaat lebih tepatnya. Setelah berbagai macam kuis yang diberikan rasa percaya diriku perlahan menurun. Masalahnya adalah menemukan kata yang tepat untuk mengungkapkan ide dalam bahasa lain tidaklah mudah. Tidak sulit sebenarnya, hanya membutuhkan kebiasaan dan waktu berpikir yang lama.

Aku sangat rindu menulis dengan bahasa Indonesia lagi. Sangat rindu untuk bermain kata dengan bahasa Indonesia. Mungkin, dalam menguasai bahasa Inggris butuh kerja yang tidak mudah bagiku. Kerja keras kata kuncinya.

Aku merasa pengecut yang kerjanya hanya membaca sementara oranglain bersenang-senang ke mall. Tapi, kemampuanku tidak lebih baik daripada mereka yang senang bermain-main dalam kuliahnya. Ada sedikit rasa tidak terima. Sedikit saja.

Ada semacam dilema yang sulit dijelaskan. Tentang akademik dan non akademik. Tentang pilihan memoles atau natural. Extro atau Intro. Dan bahkan, seseorang yang tidak pernah aku bayangkan menyelinap dalam mimpi dan terasa nyata. Padahal, realitanya hanya mimpi. Mengapa timbul semacam percikan yang tidak dikenal menyerap dalam pori-poriku? Aneh.

Mengapa?

Suatu pertanyaan temporer dan periodik terjawab. Jika kita bertanya sekarang jawabannya sudah menunggu di masa yang akan datang, bahkan di masa lalu yang tidak kita sadari sebelumnya.

Bagaimanapun, bersyukur pada Tuhan selalu membuat hati kita tenang. Mungkin, satu-satunya obat kegelisahan manusia hanya itu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

To laugh often and much; To win
the respect of intelligent people and
the affection of children; To earn the
appreciation of honest critics and
endure the betrayal of false friends;
To appreciate beauty, to find the best
in others; To leave the world a bit
better, whether by a healthy child, a
garden patch, or a redeemed social
condition; To know even one life has
breathed easier because you have
lived. This is to have succeeded

.

Ralph Waldo Emerson (1803 – 1882)
P.S: Could I do all that things?