Arsip Bulanan: November 2014

Bumerang by Tulus

(Tulus selalu membuat lagunya dengan tulus. Menganalogikan sesuaty yang familier dengan lagu itu sendiri. So, this is it.)

Dia biarkan aku jatuh cinta
lalu dia pergi seenaknya
dihantui lagu tapi tak peduli
gegabah jadi alasannya

Pandangan yang takkan ku lupa
Lama sudah aku tak punya
Lalu dia pergi menunggu dipaksa
dirayu untuk bicara

Sudah jauh kini aku berjalan tinggalkan dirimu
Takku lihat lagi apa yang membutakan oh ragamu
Sementara kau sibuk dengan permainanmu
Dengan hati yang lain nama yang lain
Sibuk merakit bumerang tuk menyerangmu
berbalik menyerangmu

Lanjutkan membaca Bumerang by Tulus

Asal Usul Konflik

Dulu, ketika saya berada di bangku SMA, saya sering ditertawakan oleh teman-teman saya. Kata mereka bahasa yang saya gunakan adalah bahasa yang sulit, yang terdengar sok pintar. Tidak sedikit dari teman-teman saya yang berbicara di belakang bahwa saya adalah orang yang “sok”. Sok tau, sok pintar, sok bisa, itulah kata-kata mereka yang deskripsikan. Padahal saya hanya pernah menyebutkan kata “Fluktuatif”, “Unstable”, “Opportunity”, “Relevan” saat dalam diskusi sebuah forum di OSIS.

Saya masih ingat, betapa teman-teman saya menertawakan saya pada saat itu. Saya merasa bodoh sendiri kala itu. Namun, sekarang saya sadar, bahwa saya tidak bodoh. Hanya saja.. ada perbedaan perspektif atau bahkan dimensi yang berbeda antara aku dan mereka.

Hari ini, saya terduduk di tempat yang kala itu hanya mimpi dan orang bilang omong kosong belaka, saya paham. Paham atas konflik aku dan mereka. Mengapa aku tidak bisa mengerti tentang mereka dan begitupun sebaliknya. Hal itu hanya merupakan perbedaan dimensi saja. Dimensi pengetahuan lebih tepatnya. Tapi saya tidak bisa menjelaskan bahwa mana yang lebih luas atau pintar atau lebih tinggi. Yang jelas, perbedaan ini membuat satuan ukuran kami tidak relevan. Tidak bisa disamakan satu sama lain.

Dan begitulah konflik terjadi. Muncul dari perbedaan dimensi, disuporteri oleh ego untuk mengukur yang bukan satuannya. Tidakkah anda mengerti?

Jogging, lalu perjalanan ke Bogor yang singkat

Pagi ini (Sabtu, 22 November) aku berniat jogging di sekitar kampus karena sudah sangat lama sekali aku tidak olahraga pagi sejak sembuh dari mata ikan. Karena telat bangun, terpaksa berangkat jam 7 dari tempat kosku (Griya Tiara Indah) dan sarapan dengan roti favorit Sari Roti Sandwich dan susu coklat. Setelah melewati gerbang Kutek (Kukusan Teknik), aku pun mulai melakukan pemanasan dan tak lama mulai berlari.

Selama, 4 bulan ini kuliah aku belum pernah masuk Stadion UI, maka dengan isenglah aku masuk dan ternyata aku tidak bileh berlari di lintasan atletiknya karena aktivitas UKM sudah dijadwal jadi orang “umum” tidak diperbolehkan untuk memakai lintasan. Setelah duduk di tribun— mengambil napas lebih tepatnya— aku pun mulai berlari lagi. Dan sampailah aku di Rotunda(Sebuah lapangan besar di depan Kantor Rektorat UI, biasanya dipakai untuk olahraga). Setelah lari beberapa putaran, akhirnya aku merasakan lelah, tapi sudah tidak kuat lagi untuk melanjutkan jogging. Pada akhirnya, aku berjalan ke halte Bikun (Bis Kuning) dan kebetulan Bikun pun lewat maka naiklah aku dan berhenti di halte Stasiun UI. Entah kenapa, aku membeli tiket dengan tujuan Bogor. Aku juga tidak tahu ke Bogor untuk apa yang jelas, moodku saat itu aku ingin pergi ke suatu tempat menggunakan Commuter Line. Lanjutkan membaca Jogging, lalu perjalanan ke Bogor yang singkat