Arsip Bulanan: Desember 2014

Katanya Malam Ini Malam Tahu Baru

Katanya malam ini malam tahun baru. Lalu saat aku menulis ini katanya tahun ini 2015.

Aku tidak merasa ingin merayakan tahun baru kali ini. Aku hanya habiskan akhir tahun dengan tertidur. Tertidur entah memimpikan apa.

Kebanyakan orang sedang bersenang-senang. Kembang api menyalak-nyalak di udara. Pekikan terompet nyaring di mana-mana. Tahun baru yang meriah. Tapi aku masih tertidur dengan lelap.

Aku tidak merasa harus merayakan tahun baru ketika saudara-saudara kita menangis karena musibah yang menerpa mereka. Mungkin mereka kini sedang menangis, berdoa, ataupun meratap. Aku tidak tahu tetapi ada kesedihan yang terasa. Dalam.

Karena itu aku tidak merasa harus merayakan. Karena sejujurnya aku tidak berhak merayakan. Tahun baru-ku sudah lewat Desember lalu.

Permohonan aku sekarang hanya agar mama cepat sembuh. Itu saja.

Dua Dewa Dewi

“Aries, saya jatuh cinta lagi.”

“Tidak, sungguh kau pembual.”

“Mengapa kau jadi pandai membaca pikiran, sekarang?”

“Karena kau terus ada di pikiranku.”

“Kau yang pembual, kini.”

“Tidak. Aku tidak.”

“Aries, bagaimana jika aku jatuh cinta padamu?”

“Bagaimana? Kau tak perlu tanya lagi. Jatuh cintalah kepadaku, Virgo.”

“Tidak. Kau tidak jatuh cinta padaku.”

“Bukankah cinta itu tidak pamrih, Virgo?”

Goresan Gadis yang Sedang Sok Tahu

Akhir-akhir ini aku sering memperhatikan orang-orang. Mengamati mengapa mereka bisa melakukan ini itu dari hal yang terburuk sampai yang terbaik. Kadang aku terkagum, terkejut, tersenyum, tapi lebih sering terheran karenanya.

Terkadang manusia sering merasa dirinya benar. Selalu merasa dirinya benar dan seolah argumentasi ialah yang paling benar. Manusia biasanya mengumpulkan argumentasi-argumentasi banyak orang demi membela persepsi yang mereka miliki. Atau ada saja mereka yang bersikukuh dengan argumentasinya tanpa menilik ulang terlebih dahulu, dan hanya mementingkan dirinya sendiri. Egoisme yang kental dalam diri mereka. Sedikit sekali yang terbuka pikirannya dan memandang persepsi orang lain dengan baik. Tapi masih ada. Masih ada mereka yang mau mendengarkan dan berempati tanpa pamrih.

Pernahkan kamu merasakan itu? Merasa dirimu ‘seolah’ tidak bersalah padahal keadaan mengatakan sebaliknya. Aku hanya sering memperhatikan bahwa manusia mempunyai dua mata dan dua telinga bukan semata-mata karena begitu. Tetapi manusia seharusnya melihat problematika tidak dari satu perspektif saja. Setidaknya dua. Perspektif diri kita sendiri dan orang lain.

Aku masih tidak mengerti mengapa manusia, termasuk saya sendiri, terlalu mementingkan dirinya sendiri. Mencari-cari alasan ketika disalahkan. Tidak terima atas perlakuan orang lain yang buruk. Kurang puas dengan apa yang telah mereka dapatkan. Dan..hal-hal yang destruktif lainnya.

Aku menulis ini bukan aku merasa benar atau apa. Aku hanya ingin mencurahkan perasaanku bahwa terkadang manusia itu mempunyai banyak kelemahan. Memang, setiap manusia mempunyai kelemahan dan kelebihan. Itu tergantung diri mereka sendiri, bagaimana bisa mengutamakan kelebihan mereka dibandingkan kekurangannya. Sampai saat ini pun aku masih belajar tentang hal itu. Apa yang manusia butuhkan untuk membuktikan dirinya ya?

Fokus?

Mungkin.

Yang jelas, dari pengamatanku selama ini.. manusia sering sekali tidak bersyukur. Aku pun seperti itu. Mereka mempersulit diri mereka sendiri untuk hidup. Yah, membicarakan manusia memang tidak ada habisnya. Karena apa?

Karena manusia adalah paradoks bagi dirinya sendiri.

-Gadis yang Sedang Sok Tahu-

FOTO(s)

Jariku terhenti ketika kursor mengarah pada 3 foto itu. Aku tidak tahu mengapa foto itu masih ada. Dan.. ada di laptopnya. Saya tidak sadar bahwa foto itu memang seperti itu. Segalanya tampak jelas. Mengapa dulu aku sebodoh itu??

Oh, tidak.

Ada rasa yang menyelip ingin keluar. Tidak, tidak terulang. Hanya terbesit sementara. Ini mulai tidak normal. Setahuku foto itu diambil hampir dua tahun lalu. Tapi apa-apaan reaksi ini? Tidak lucu.

Aku telah menyingkirkannya. Tetapi ketika ku kembali, nyatanya masih ada serpihan tajam dalam sini. Aku hanya bisa berharap, bisakah kali ini kita tidak bertemu lagi?

Aku ingin muntah.

Tidak di manapun. Manusia senang sandiwara.

Tidakkah aku pun begitu?

Pulang..

Hari saya akan pulang ke Bandung. Ingin cepat-cepat pulang rasanya. Aku pikir meninggalkan Depok untuk satu bulan bukan hal yang sulit. Depok membuatku gerah, wajahku menggelap dan berjerawatan, memakai payung di kala siang, ah semua hal yang tidak enak. Tapi mengapa saat ini?
Ketika satu langkah meninggalkan pintu kamar, rasanya aku sudah rindu pada kota ini. Kota yang mengajarkan hidup yang sehidup-hidupnya.

Sampai bertemu.
Depok.

Pengakuan, (dengan koma)

Komplikasi dalam diriku sebenarnya tidak serumit orang-orang dewasa punya, tetapi tetap membuatku resah.

Sudah satu semester aku berkuliah, dan begitu banyak yang berubah dalam hidupku. Ada perubahan yang baik, ada juga yang tidak. Menjadi mahasiswa sastra di salah satu universitas di Depok ini tidak mudah bagiku. Tidak semudah itu. Begitu banyak cultural shock dalam diriku tapi untungnya tidak mengimplikasikan hal yang signifikan.

Aku.. takut.

Hanya perasaan itu yang mengganjal dalam diriku dan sekarang menggerogoti dagingku. Aku tidak tahan lagi sebenarnya tapi apa daya, apapun hasilnya nanti itu adalah hal yang terbaik.

Sekarang aku banyak belajar tentang hidup. Hidup sebagai manusia itu sendiri, hidup sebagai manusia yang menyembah Tuhan, hidup sebagai pelajar, hidup sebagai harapan bangsa, dan banyak lagi. Manusia itu banyak mengeluh. Terkadang mengeluh itu wajar tetapi ketika keluhan itu sudah berlebihan rasanya manusia itu sendiri yang salah. Itu hal yang ku pelajari. Salah satunya tentu saja.

Aku juga belajar bagaimana yang terjadi dalam hidup kita sekarang adalah kompetisi. Semua orang berkompetisi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya baik jasmani atau rohani. Seperti aku yang berkompetisi ditengah manusia-manusia cerdas sementara aku bukan tipe manusia yang seperti itu. Sehingga aku perlu bahan bakar yang lebih banyak untuk mengejar ketertinggalanku dengan mereka.

Aku juga belajar banyak tentang mimpi. Bagaimana mimpi itu diwujudkan, bagaimana kita menaiki tangga untuk menuju mimpi kita dan tidak merasa puas atas apa yang aku miliki saat ini. Dalam konteks ini, ilmu yang saya maksud. Ilmu yang tidak terbatas dan saya memilih satu bidang dari sekian banyaknya cabang ilmu: Bahasa.

Aku harap setelah menulis ini rasa takut dalam dadaku akan menghilang. Rasa khawatir itu akan sirna diterpa waktu.

Ah, apakah aku sudah utuh kembali?

Sebaiknya aku berkutat dengan tugasku lagi.

The Message

I got up this morning. I felt like I was messing my life. I felt unorganized too. Suddenly, I remembered that it was the day. There’s a message from somebody and it was really bothering me. I did not know why, but I did not like that message.

If you were reminded about something that you never forget from person that did not know you so well, what would you feel?