Arsip Bulanan: Januari 2015

Yang Pernah Mati

Tulisanku pernah mati. Seiring dengan jiwa menulisku yang mati. Mati suri bertahun-bertahun. Tak ada satu huruf pun yang keluar untuk kisah ini. Kisah klasik klise yang mainstream, tentang cinta dan keluarga. Berlatarkan satu kota yang tak pernah ku kunjungi. Tidakkah itu naif?

Aku tidak mengerti. Mengapa aku pernah semalas itu. Mematikan tulisanku sendiri. Sendu rasanya. Dikala orang lain sudah menerbitkan lusinan buku dan cerita ke media. Tak satupun dariku yang tercetak. Hanya terperam di ruang-ruang kosong kamarku. Tak terhiraukan. Aku sempat berkhayal jika karyaku bisa berbicara apa yang mereka katakan kepadaku. Mungkin yang ada hanya makian.

Sampai saat ini aku merasakan hal itu. Perasaan malas yang kerap menyelusup dalam diri yang ditularkan oleh syaitan sialan itu. Aku merasa tak punya nyali. Terlalu banyak pertimbangan dan rasa takut. Bahkan seharusnya menulis tidak begitu. Menulis datangnya dari hati dan tidak usah memikirkan yang lain hakikatnya. Tapi aku keluar dari jalan, tersesat mencari sesuatu yang tidak perlu dicari sebenarnya.

Diriku sendiri.

Setiap aku berjalan, aku merasa langkahku goyah dan pandanganku kabur. Mencari-cari sosok yang bisa mendorongku untuk menulis lagi. Hal yang konyol dan mustahil untuk mendapatkan apa yang kuinginkan. Bagaimana bisa waktu itu aku mencari oranglain di saat aku belum menemukan diriku sendiri?

Ada hubungan aneh antara aku dan suatu abstraksi yang bernama menulis. Aku tidak bisa mendeskripsikannya, tapi ada hubungan cinta-benci antara kami. Terkadang, ia berdamai denganku kadang ia tidak. Ia tidak mau aku ajak kompromi dan memilih diam tak acuh.

Aku sadar. Aku harus segera berdamai dengan diriku sendiri. Melawan rasa takut. Menepisnya jauh-jauh dan mulai berjuang lagi. Berjuang untuk meraih inspirasi, dan alasanku untuk menulis.

Iklan

Penggalan Kisah Lama by Laluna

Berdegup kencang Oh hatiku
Berhenti denyut nadiku
Kuterpaku tak bicara
Saat kau kau sentuh bibir ini

Kau bukanlah yang terbaik untukku
Karna kau tak bisa melumpuhkan
hatiku
Kau hanya sepenggal kisah dalam
waktu
Yang kulalui dan takkan kulupakan

Melayang rasa Oh hatiku
Menggangu waktu tidurku

Gelisah dan hatiku gundah
Berangan tuk kesekian kali
Ku terpaku tak bicara
Teringat kau sentuh bibir ini

Kau bukanlah yang terbaik untukku
Karna kau tak bisa melumpuhkan
hatiku
Kau hanya sepenggal kisah dalam
waktu
Yang kulalui dan takkan kulupakan

Hai lagi Neptunus

Hampir satu tahun, Neptunus.

Setelah melewati setengah tahun menjadi mahasiswa, banyak yang berubah dalam hidupku. Entah itu pola pikirku, orangtuaku, atau bahkan orang-orang yang berada di sekitarku. Rasanya sangat berbeda ketika masih di SMA dulu.

Dalam hitungan bulan hidupku langsung berubah, Nus. Untungnya, sejauh ini yang terasa perubahan yang baik yang terjadi selama ini. Walaupun sebenarnya berbagai rintangan menerpa. Tapi, ya bukankah itu hidup, Nus? Selalu berpasang-pasangan. Antara manis dan pahit, hitam dan putih, gelap dan terang, tangis dan tawa, dan bahkan perempuan dan lelaki. Karena keragaman itulah hidup menjadi ’hidup’. Warna.

Beberapa bulan lalu aku genap berumur 18 tahun. Di umur yang tanggung ini aku ingin menghabiskan waktuku dengan belajar. Belajar apa saja. Tidak harus belajar di belakang meja, mencatat, dan mendengarkan kuliah. Tapi belajar bagaimana menjalani hidup dengan baik. Dengan segala kekurangan dan kelebihan yang kita miliki. Aku ingin berguru, Nus. Tapi sayangnya, kamu terlalu jauh di capai di bawah sana.

Banyak hal yang bisa aku pelajari saat ini, Nus. Bukan hanya mata kuliah saja, tetapi pengalaman-pengalaman banyak orang. Mulai dari keluargaku, sahabatku, lalu sampai oorang yang tidak aku kenal yang hanya aku baca biografinya. Ini menyenangkan, Nus. Kita bisa mengambil hikmah dari setiap kisah, lalu menerapkannya di kehidupan sehari-hari. Tidak hanya itu. Aku juga bisa mengambil banyak pelajaran dengan menonton film. Bahkan setingkat film kartun Doraemon sekalipun memiliki makna yang luar biasa. Jika aku mendeskripsikan diriku sekarang hanya ada satu kalimat yang bisa aku katakan.

“Haus akan ilmu.” Lanjutkan membaca Hai lagi Neptunus