Yang Pernah Mati

Tulisanku pernah mati. Seiring dengan jiwa menulisku yang mati. Mati suri bertahun-bertahun. Tak ada satu huruf pun yang keluar untuk kisah ini. Kisah klasik klise yang mainstream, tentang cinta dan keluarga. Berlatarkan satu kota yang tak pernah ku kunjungi. Tidakkah itu naif?

Aku tidak mengerti. Mengapa aku pernah semalas itu. Mematikan tulisanku sendiri. Sendu rasanya. Dikala orang lain sudah menerbitkan lusinan buku dan cerita ke media. Tak satupun dariku yang tercetak. Hanya terperam di ruang-ruang kosong kamarku. Tak terhiraukan. Aku sempat berkhayal jika karyaku bisa berbicara apa yang mereka katakan kepadaku. Mungkin yang ada hanya makian.

Sampai saat ini aku merasakan hal itu. Perasaan malas yang kerap menyelusup dalam diri yang ditularkan oleh syaitan sialan itu. Aku merasa tak punya nyali. Terlalu banyak pertimbangan dan rasa takut. Bahkan seharusnya menulis tidak begitu. Menulis datangnya dari hati dan tidak usah memikirkan yang lain hakikatnya. Tapi aku keluar dari jalan, tersesat mencari sesuatu yang tidak perlu dicari sebenarnya.

Diriku sendiri.

Setiap aku berjalan, aku merasa langkahku goyah dan pandanganku kabur. Mencari-cari sosok yang bisa mendorongku untuk menulis lagi. Hal yang konyol dan mustahil untuk mendapatkan apa yang kuinginkan. Bagaimana bisa waktu itu aku mencari oranglain di saat aku belum menemukan diriku sendiri?

Ada hubungan aneh antara aku dan suatu abstraksi yang bernama menulis. Aku tidak bisa mendeskripsikannya, tapi ada hubungan cinta-benci antara kami. Terkadang, ia berdamai denganku kadang ia tidak. Ia tidak mau aku ajak kompromi dan memilih diam tak acuh.

Aku sadar. Aku harus segera berdamai dengan diriku sendiri. Melawan rasa takut. Menepisnya jauh-jauh dan mulai berjuang lagi. Berjuang untuk meraih inspirasi, dan alasanku untuk menulis.

Iklan

4 pemikiran pada “Yang Pernah Mati

  1. fir aku juga pernah dan sering banget kayak gitu. Aku malah suka sosoan pede sama tulisan sendiri. tapi ga lama kemudian aku ngerasa jijik sama tulisan yang baru aku tulis terus nasib akhir tulisan aku malah di tempat sampah. -___-

  2. I love this one so much. The way you stringing those words… too beautiful. Keep it up dear! You are much more than you’re thinking. You have to be proud of all words that you have written, cause I won’t respect a writing text with a not proud author in it. You have to, cause this is massive, this is the best 🙂

    “Bagaimana bisa waktu itu aku mencari oranglain di saat aku belum menemukan diriku sendiri?” –> My favorite quote

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s