Arsip Bulanan: Februari 2015

Si ‘Kecil’ yang Merasa Kecil

“Berada di tempat tinggi tapi merasa rendah.”

Manusia memang selalu tidak puas. Mereka cenderung menginginkan lebih dari apa yang ia punya. Dan aku salah satunya. Aku merasa tidak puas atas diriku sendiri. Apa kau pernah merasakannya?

Kau tahu rasanya ketika kau telah berusaha yang terbaik tetapi nyatanya ada yang lebih BAIK darimu, bukan? Terkadang kau merasa kecil dan pesimis. Lalu bertanya, apa hebatnya diriku? Hanya amatiran biasa. Well, aku pun merasakannya.

Semangat dirimu yang  tadinya menggebu seketika padam oleh kekalahan atau bahkan kekalahan yang kau buat oleh dirimu sendiri.  Aku pun masih belajar tentang itu. Belajar menerima apa yang aku dapatkan dan mensyukuri segala yang aku dapat. Terkadang aku juga sadar bahwa nikmat Tuhan sangatlah luas dan berlimpah. Tapi di saat aku merasa kalah, aku merasa kecil.  Ya, aku memang ‘kecil’ tapi kali ini berbeda.

Namun, pada akhirnya aku belajar tentang lapang dada. Menjadi kecil tidaklah terlalu buruk karena kita bisa menjadi apa saja dimulai dari sesuatu yang kecil. Belajar juga seperti itu. Mulai dari hal-hal kecil yang mendasar. Semut juga begitu kecil, tapi mereka bisa membuat sarang yang besar dan mengangkut makanan yang lebih besar daripada mereka. Dan faktanya.. para semut pekerja adalah perempuan! (Aku baru tahu ini ketika di kelas Listening Speaking) Awanya aku pikir menjadi seorang perempuan tidaklah terlalu istimewa, dan bahkan tidak jarang aku bertanya-tanya mengapa aku dilahirkan sebgai seorang perempuan. Tapi nyatanya aku salah. Perempuan adalah makhluk kuat. Baik secara emosional ataupun jasmani.

Lalu, ketika aku merasa kecil lagi aku selalu ingat pada semut-semut pekerja itu, atau para rayap yang bisa menggeregoti kayu yang besar, atau pada jutaan bakteri yang bahkan sering tidak diacuhkan manusia. Apakah mereka pernah bertanya ‘Mengapa aku dilahirkan sekecil ini?’

Bersyukur.

Ya, hanya itu. Mungkin aku tidak sehebat mereka yang bisa pergi keluar negeri menjadi delegasi universitas, mungkin aku bukanlah ketua organisasi yang hebat mengorganisir anggotanya, aku juga bukan pembicara yang hebat yang bisa berpidato pada seluruh Indonesia tapi aku hanyalah aku. Aku akan lakukan apa yang aku mau dan aku bisa. Aku tidak mau lagi lelah untuk memaksakan sesuatu yang belum siap aku lakukan. Mungkin sebagian darimu berpikir aku hanya mencari-cari alasan saja tapi apa aku peduli? Apa kalian peduli?

Dan fakta bahwa aku kecil itu berarti bahwa aku tidak bisa menjadi besar? Lalu apa kau pikir presiden dan pejabat tinggi perusahaan atau negara itu besar? Lalu apa karena kau juga merasa kecil kau harus diam dan tak berkarya?

Dan jika kita merasa kecil, bisakah kita bersama menjadi sosok besar di mata Tuhan?

Kau Bukan Kau

Apakah kau itu?
Yang senang mengetuk pintu
Memanggilku tiap malam sampai ku terlelap

Apakah kau itu?
Yang menyelusup bagai bayangan hitam tak tampak
Menelisik ruang demi ruang tak bersuara
Khidmat

Oh, tidak.
Tidak!
TIDAK!

Asumsi tak sah selalu mengarah kerancuan
Menciptakan diksi-diksi tak terbuktikan oleh mata, hati, dan telinga
Tidak terpungkiri manipulasi diri terkuak mati

Kau bukanlah kau

Kau adalah memoar