Arsip Bulanan: Juli 2015

Surat untuk Arif Adnil

Hai, Rif. Apa kabar?

 

Akhirnya bisa mengirim surat ini padamu. Aku sedang di kota Bandung. Kota yang banyak cerita dan canda. Kota yang kini sudah berubah, Rif. Kota Bandung udah jadi Paris-nya Jawa lagi sesuai julukannya: Paris van Java.

Sesekali aku keliling kota Bandung, memerhatikan suasana yang berubah. Atmosfernya, hiruk pikuknya, bahkan cuacanya yang bahkan lebih panas dari kota Depok. Walaupun, pagi di kota Bandung masih jauh lebih dingin sih. ^^

Alun-alun kota Bandung kini sudah cantik, Rif. Banyak sekali orang yang datatang Cuma untuk selfie atau groovie. Ramai. Tapi sampah yang berserakan sayangnya masih saja tetap ada. Tempat sampah yang rusak masih ada kok, Rif. Hanya saja..semuanya terlihat baru. Tapi tidak asing. Aku tahu Bandung adalah Rumah.

Oiya, Rif. Ada seorang teman lama yang mengingatkanku pada suatu hal. Dia menjatuhkan jangkarku, Rif. Jangkar yang selama ini bahkan aku abaikan. Nyatanya jangkar itu selalu ada, tersembunyi dibagian lokus otakku paling dalam, dan kali ini kembali ke permukaan. Lanjutkan membaca Surat untuk Arif Adnil

“Betah di Jakarta?”

“Betah di sana?”

“Gimana? Betah di Jakarta?”

Setiap ditanya begitu aku selalu punya dua jawaban, “Bukan di Jakarta, tapi di Depok.” atau “Ya..betah gak betah.”

Pernah ingin menjawab “Betah, kok.” atau “Lumayan, di sana enak.” Tapi pada akhirnya aku tidak pernah mengatakan hal itu. Karena jawaban itu tidak sepenuhnya benar.

Well, terkadang aku merasa hidup sendirian itu menyenangkan. Punya me time sepanjang waktu, tidak di interupsi oleh adik atau orangtua.  Waktu yang kita habiskan adalah untuk diri kita sendiri. Walaupun, tentu saja kangen rumah.

Aku merasa beruntung bisa hidup sendiri setelah aku menduduki bangku kuliah. Menurutku, itu pengalaman tersendiri dibandingkan dengan hidup di rumah orangtua sendiri.

Disini memang cuture shock tak terelakkan bagi para pendatang. Aku pun mengalami hal-hal seperti itu. Untungnya, masih bisa aku atasi sedikit-sedikit. Ini adalah bagian “spesial” yang tidak kita alami di rumah kita sendiri. Merasakan teman kos yang menyebalkan, pergaulan baru yang bebas, selalu memikirkan “Besok, mau makan apa ya?” Ini semua tentu saja tidak mudah.

Untuk itu, tinggal sendirian ternyata tidak selamanya menyenangkan. Harus ada saat dimana kita merindukan rumah dan orang-orang spesial di kampung halaman. Harus ada perasaan bahwa rumah adalah tempat kita untuk pulang dan tidak layak untuk dilupakan. Rumah adalah pintu yang selalu terbuka. Menunggu setia ketika kita mengembara. Rumah adalah harta warisan jiwa. Rumah. Siapapun yang ada di dalamnya telah membentuk kita. Merangkai hidup kita sampai kita berada di tanah yang tak dikenal.

Pulanglah ke rumah.

Maka dari itu aku punya alasan ubtuk menjawab pertanyaan di atas dengan 2 kemungkinan jawaban tersebut. Dengan menjawab seperti itu, aku ingin mengatakan kepada diriku sendiri “Jangan lupakan Rumah.” secara tidak langsung.

Lahirnya Arif Adnil

Arif Adnil Memorabilia

Aku sudah putuskan nama blog baruku! Kali ini aku masih posting pakai hp. Nanti kalau aku buka di pc, pasti aku ganti.

Kenapa harus Arif Adnil?
Siapa itu Arif Adnil?

Arif Adnil adalah aku. Si firalinda yang kini bermetamorfosa. Umurku 19 tahun, dan sudah 3 tahun sejak aku membuat blog ini. Nama firalinda tidak begitu menarik perhatian, rasanya.

Aku harap, dengan berevolusinya blog ini akan memberikan warna tersendiri. Warna baru untuk dikenang. René Descartes mengatakan, “Aku berpikir maka aku ada.” Kurasa aku menulis maka aku dikenang. Entah siapapun yang akan membaca blog ini, tapi aku peduli terhadap kalian. Karena kalian sudah peduli juga kepadaku.

3 tahun “memelihara” blog yang tidak berkembang ini membuatku malu dan takut. Sebagai mahasiswa sastra sudah sepatutnya aku menulis. Dan kini, aku terlahir kembali sebagai Arif Adnil yang mempunyai beragam kenangan di kehidupannya untuk dibagikan kepada orang-orang yang peduli dengan blog ini.

Aku rindu sekali. Aku rindu sekali pada diriku yang gemar menulis. Masih polos tanpa harus memikirkan aturan-aturan menulis.

Arif Adnil adalah aku. Ada di jiwaku. Kini.. sudah saatnya ia lahir ke dunia maya.

Memutuskan (Akhirnya!)

Jarang menulis.. aneh.

Katanya anak sastra tapi jarang menulis.

Dilema itu adalah memilih bahasa Indonesia atau bahasa Inggris untuk posting. Tapi.. atmosfer bahasa Inggris berbeda dengan bahasa Indonesia. Terlalu kaku.. (teringat Academic Writing)

Pada akhirnya aku putuskan untuk memelihara blog ini dengan bahasa Indonesia. Sedihnya.. sudah 3 tahun ngeblog tapi tidak ada kemajuan sama sekali. Mungkin memang harus sering-sering posting. (Maklum akhir-akhir ini malas sekali untuk posting)

Jadi terpikirkan untuk ganti nama blog. Nama firalinda terlalu kental dengan ego sendiri. Mungkin sudah saatnya Arif Adnil muncul.

Mulai hari ini aku berjanji harus posting setiap hari. Titik! Bagaimanapun juga aku merindukan jari-jari ku yang bersemangat untuk menulis.

Lalu.. semester 3 akan datang sebentar lagi. Hhh~ Bagaimana jadinya ya? Rasanya aku memang harus berjuang lagi.. lagi.. dan lagi..

Omong-omong, tadi aku menemukan perahu-perahu kertas lama di laci lemari. Sempat ingin aku buang. Tapi tidak jadi. Ada perasaan masih ingin menyimpan perahu kertas itu. Lalu ada Buku Biru. Aku temukan itu terjatuh di belakang laci baju. Tidak lapuk sih, cuma agak lusuh. Tadinya juga mau aku buang. Tapi, ada perasaan masih ingin menyimpan. Aneh, ya?

Atmosfer kota Bandung selalu berbau nostalgia rupanya. Tapi aku ingin pantai.. Pokoknya ingin pergi ke tempat-tempat yang berbau alam. Masalahnya.. dengan siapa? -_-

Ah, ingin cepat memutuskan nama baru untuk blog ini!

Human always think,
blink,
acting,
then sink

Always be right,
as if he’s right.
Search for a light,
then end in the night.

Freely he judge
Freely he grudge

Everyone seems wrong,
He seems right
The blind eyes sees strong
Can’t see what ia bright

Do we?
Do we human?