Arsip Bulanan: September 2015

.Arif Adnil.

Moorages

Untukmu,

Kawan, aku tidak pernah lupa. Aku disini, ingin kau tahu bahwa hari spesialku denganmu bukanlah disaat dunia meneriakan ucapan selamat untukmu.

Tapi, disaat tawa bersuara keras diantara ramainya harmoni yang saling bercerita. Disaat tangis tenggelam bagaikan asap ditengah derasnya hujan. Hariku denganmu lebih mahal dari satu hari yang kau nantikan itu.

Kawan, dalam titik semu sebuah tanya aku duduk, ditemani hembusan angin yang seirama dengan suara daun yang saling bergesekan. Mempertanyakan, akankah aku seberuntung itu untuk menjadi yang disampingmu. Ketika nanti hariku mulai terkikis oleh waktu, dan dirimu mulai hilang terseret arus takdir, yakinilah aku berlutut memohon kebahagiaan dalam hidupmu. Dan mungkin merindu akan tawa dan waktu yang dengan sederhana kita lewati.

Yang menghargaiku tiada habisnya, yang berdiri dihadapan monster sekalipun tuk menjamin ketenanganku yang berdiri di balik punggungmu itu.

Bahkan tiada kata terima kasih yang mampu menyampaikan rasa syukurku akan segudang kebaikanmu itu. Suatu saat nanti, pasti waktu…

Lihat pos aslinya 32 kata lagi

Nyesel Masuk Sastra? Bego.

Sori, mungkin judul post di atas memang agak kasar. Tapi setelah gue mengendap disini, sang FIB UI tercinta, gue sadar bahwa gue gak pernah nyesel masuk sastra. Mungkin beberapa orang bilang ini cuma bualan belaka. Tapi engga lho. Justru orang-orang yang masih berpikir bahwa kuliah di sastra itu ga ada gunanya atau ga ada prospek bagus ke depannya.

Mungkin emang, kuliah di sastra gak selalu bikin lo kaya. Tetapi ya itu pilihan hidup, karena hakikatnya kebahagiaan bukan hanya soal duit. Contohnya tante gue, kuliah di ekonomi, merangkak dari bawah dulu emang, dan sampe akhirnya beliau jadi Key Account Manager di salah satu perusahaan multinasional di Indonesia. Gajinya? Jangan tanya, banyak  yang pasti. Tapi setiap orang punya kelemahan dan kekurangan. Gue dan keluarga gue mungkin gapunya pemasukan yang setinggi beliau, tapi gue sekeluarga masih sederhana dan bersyukur. Tapi kalo masalah kebahagiaan? Cuma gue dan Allah yang tau. Lanjutkan membaca Nyesel Masuk Sastra? Bego.

Membangun Performa Anak Melalui Komunikasi Guru dan Orang Tua

           Di Indonesia, sekolah mempunyai peranan penting dalam mewujudkan tujuan dan fungsi pendidikan nasional. Dalam UU No.20 Tahun 2003 Pasal 3, tertulis bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermanfaat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk perkembangan potensi siswa didik agar menjadi peserta didik yang mandiri dan menjadi warga yang demokratis dan bertanggung jawab” Selain pihak sekolah, peran orang tua juga sangat berpengaruh dalam mengembangkan potensi anak. Maka, komunikasi guru dan wali/orang tua murid yang efektif sangat diperlukan dalam mengembangkan potensi dan performa anak.

Menurut Ir.Yudistira S.AS. dalam bukunya Dreamsmart For Parents, masih ada 14% orang tua yang tidak mengetahui bakat anaknya. Komunikasi orang tua dan guru yang efektif merupakan kunci dalam meningkatkan kemampuan motorik dan psikomotorik anak. Terutama pada murid PAUD sampai kelas 1 SD, kemampuan motorik perlu dipantau. Usia dini mulai dari 4 sampai 6 tahun biasa disebut golden age, karena tingkat menyerap pengetahuan dan kemampuan motoriknya berkembang pesat. Selain itu, guru dapat mengetahui kemampuan psikomotorik anak melalui orang tuanya sehingga terjadi koordinasi yang baik dalam pengajaran guru di kelas. Minat dan bakat anak juga bisa terlihat sejak dini, sehingga bakat yang dimiliki anak bisa dilatih dan tidak terpendam sia-sia. Adapun sebaliknya, ketika orang tua belum bisa melihat bakat anak di rumah, interaksi dengan guru dapat membantu orang tua untuk mengasah bakat anak entah itu berupa kursus atau pemberian fasilitas di rumah. Keberlanjutan sekolah anak juga dapat dikonsultasikan dengan baik kepada guru sehingga karir akademik maupun bakat anak bisa terencana. Maka dari itu komunikasi antara guru dan orang tua menghasilkan pengembangan bakat dan akademik anak yang sinergis. Lanjutkan membaca Membangun Performa Anak Melalui Komunikasi Guru dan Orang Tua

My Favorite Places in Universitas Indonesia (Academic Writing Journal)

(Halo, readers! Buat kalian para maba Sastra Inggris khususnya Sasing UI, ini ada contoh writing journal yang bakal kalian hadepin sampai semester 6 nanti. Semoga membantu!)

I was very happy when I knew that I accepted in Universitas Indonesia. I have never come to this university, and I was surprised because UI has a wide area. UI also has several famous building, such as Center Library, Rector Office, and Teksas Bridge. Therefore, I have favorite places in here.

The first of my favorite places is the Center Library. I often come here, at least once a week. I like this place very much because I can borrow seven books free and sit in the cozy silent room. The library has many books and the librarian said that are millions books collected. It such a lot of books! Lanjutkan membaca My Favorite Places in Universitas Indonesia (Academic Writing Journal)

Cuap-cuap Mahasiswa Sastra (Inggris)

Kemarin siang, dosen Pengkajian Drama belum datang. Atau lebih tepatnya, tidak datang. Semua orang di kelas membentuk kelompok cuap-cuapnya masing-masing. Sampai-sampai kelas kami ditegur oleh dosen kelas sebelah karena saking berisik. Hihihi.

Memanfaatkan waktu senggang, aku dan kelompok ku mengadakan rapat dadakan untuk membahas role play yang akan kami tampilkan minggu depan. Setelah “rapat dadakan” kelompok drama ku selesai, aku bergabung dengan beberapa temanku yang sedang asyik membicarakan keluarga-keluarganya. Ratu, Fatimah, Michelle membentuk lingkaran kecil dan mengobrol tentang kebiasaan keluarganya mulai dari aturan-aturan lucu, sampai reaksi marah anggota keluarga mereka. Aku? Diam mendengarkan sambil mengangguk-angguk sesekali karena cerita mereka sangat menarik. Lagipula, ada anggota keluargaku yang akhir-akhir ini membuatku pusing.

Tiba-tiba, topik beralih ke kehidupan kampus dan anak-anak sastra Inggris. Lucunya, kami punya pandangan sama terhadap sekitar. Saking asyiknya, cuma tersisa kami berempat dan beberapa anak di kelas, padahal dosennya sudah jelas tidak datang. Ini seperti talkshow dadakan, dan kami memutuskan untuk menamakan talkshow ini “Platinum Ways” hahahaha. Karena Mario Teguh Golden Ways sudah tidak ditayangkan lagi di Metro TV kata mereka.  Lanjutkan membaca Cuap-cuap Mahasiswa Sastra (Inggris)

Di Satu Titik, disini.

Di satu titik aku sadar.

Dahulu, dahulu sekali ketika aku masih kelas 4 SD. Aku berbincang dengan Nenek Guru. Nenek dari Papaku yang dulunya seorang guru SD. Dia tanya ranking berapa aku di kelas. Ketika beliau tahu aku dalam urutan 3 Besar, beliau tersenyum. Lalu, beliau mengadakan ‘tes dadakan’ padaku. Dia menanyakan soal matematika, dan menyruhku membacakan surat-surat pendek.

Saat itu aku juga ditanya, “Fira mau jadi apa, nanti?” Tadinya aku ingin jawab “Dokter.” Tetapi, kata yang keluar dari mulutku adalah “Guru.”

Saat itu aku mulai semangat untuk menjadi “Ibu Guru”. Apalagi ketika masa-masa SMP, aku mendapatkan guru-guru yang luar biasa menginspirasi. Aku bulat untuk menajdi guru.

Seiring berjalannya waktu, aku pernah membenci guru. Ketika itu aku duduk di bangku SMA. Mungkin sekitar 3 tahun lalu. Aku melihat, guru-guru di SMA ku tidak ada yang menginspirasiku. Walaupun aku tidak pernah punya masalah serius dengan guru, aku tidak suka guru jaman sekarang. Mengejar sertifikasi demi uang. Yang lebih parah adalah sertifikat itu di gadaikan ke bank.

Memang itu hak masing-masing manusia. Tapi tugas seorang guru rasanya dinodai oleh kebanyakan guru sekarang yang hanya berfokus pada jam terbang saja.

Saat itu aku putuskan aku tidak ingin jadi guru.

Aku berhenti. Lanjutkan membaca Di Satu Titik, disini.

Menjadi Mahasiswa Tingkat 2 #CatatanAnakSastra

Singkatnya, setelah liburan 2 bulan yang tidak ada habisnya itu, aku kembali menjalani rutinitasku. Kuliah.

Gila, pikirku. Aku sekarang sudah menjadi mahasiswa tingkat 2 alias sophomore! Setelah mengatasi masalah SIAK (Sistem Akademik di UI) yang terus menerus menghantui, akhirnya IRS (Isian Rencana Studi) ku pun disetujui. Omong, omong aku ganti lagi nama blog ini menjadi Catatan Anak Sastra. Mungkin aku memang tidak konsisten. Entah kenapa, reasanya blog ini memang perlu di ‘revitalisasi’ kemana arah tulisan ini akan bertuju.

Hari pertama menjadi mahasiswa tingkat 2 rasanya memang banyak yang berubah. Kelas baru, pergaulan baru, dosen baru, mata kuliah baru, dan strategi baru. Awalnya aku takut, entah kenapa hanya takut saja, karena aku selalu dibayang-bayangi oleh IP. Padahal sebenarnya orangtua ku tidak menargetkan apa-apa, tapi ini karena beasiswa yang aku dapatkan rasanya ‘menuntut’ku untuk mendapatkan lebih dan fokus kepada kuliah ketimbang kegiatan-kegiatan asik di luar akademis. Sedih? Tidak, sih. Cuma bingung.

Aku bingung harus mulai darimana, harus membuat rencana apa, well ini karena aku tipe orang yang terstruktur jadi memang urusanku dengan diriku sendiri sedikit rumit. Aku mulai membaca buku-buku referensi tentang college life, membuat target,mengatur prioritas, dan hal-hal mengenai kemahasiswaan. Ini agak telat sebenarnya, seharusnya aku sudah baca buku-buku seprti ini sejak tingkat 1 lalu. But, late is better than not at all, right? Lanjutkan membaca Menjadi Mahasiswa Tingkat 2 #CatatanAnakSastra