Seperti Katak yang keluar dari Tempurung

Di akhir-akhir semester 3 ini gue merasakan sesuatu yang berubah dalam diri gue. Terutama pemikiran gue akan satu hal.

Semester ini gue belajar banyak hal-hal baru kaya filsafat, metode penelitian budaya, kebudayaan dan sastra Inggris, trus Morfologi ( salah satu cabang linguistik yang ngebahas tentang struktur kata). Menurut gue “mereka” semua itu berhubungan satu sama lain. Filsafat jadi Ibunya sementara yang lain jadi anak-anak filsafat yang bisa mendukung filsafat atau bahkan mengkhianati filsafat. Kenapa gue bisa bilang gitu?

Karena, filsafat itu induk dari segala pengetahuan. Awalnya, filsafat itu muncul karena keresahan manusia yang merasa alam semestar ini menyimpan atau menunjukkan sesuatu pada manusia. Akhirnya, munculah filosof Yunani yang pada awalnya mereka sering berkontemplasi dan memerhatikan alam di sekitar mereka. Mengaoa Yunani? Karena peradaban mereka begitu pesat ketika zaman itu. Mereka sudah bisa membuat bangunan sendiri, makanan sendiri, dan akhirnya dengan seiring berkembangnya dunia filsafat, sekolah-sekolah atau yang dulu disebut academia pun muncul.

Setelah melewati berbagai macam periode, ilmu pengetahuan berkembang. Karya sastra pun berkembang. Awalnya cuma bahas tentang mitos-mitos, akhirnya manusia mulai kritis dengan mengkritik fenomena-fenomena sosial di antara mereka. perbedaan karya sastra Inggris ketika zaman Old English dan Middle English contohnya berupakan suatu bukti bahwa manusia itu berkembang pemikirannya. Pemikiran manusia berkembang, dunia filsafat pun meluas.

Peran masa Renaissance cukup menggemparkan dunia filsafat, seni, dan pendidikan. Dengan berakhirnya dominansi kekuasaan gereja ( zaman Dark Age), munculah inovasi dan ide-ide baru yang mengedepankan manusia yang yang biasa kita sebut humanisme. Dari humanisme, berkembang istilah-istilah modernisme lalu di bantah (atau mungkin bisa juga dibilang ‘dilengkapi’) oleh post-modernisme. Maka, saintis dan teoris pun muncul terutama setelah terciptanya mesin cetak di Jerman dan di Inggris. Akses pada buku menjadi lebih mudah walaupun ini hanya berlaku ada kalangan Middle Class aja.

Nah, perkembangan ilmu pengetahuan (termasuk filsafat, seni, pemerintahan) sampai pada saat ini dimana kita tinggal di dalam era liberalisme dan kapitalisme di mana-mana.

Setelah gue baca buku, ngedengerin orang-orang presentasi, gue belajar banyak hal karena ini itu merupakan pelajaran untuk hidup. Bisa langsung kita praktekin, analisis, dan lihat secara langsung dalam masyarakat.

Belajar hal-hal di atas membuat gue berpikir dalam berbagai macam perspektif dan membuat gue lebih paham bahwa pengetahuan itu tergantung perspektif kitanya aja. Sama juga halnya dengan interpretasi sebuah karya misalkan. Interpretasi itu bukan masalah benar atau salah tetapi masalah valid atau tidak valid. Intinya, kuliah di sastra menurut gue harus bisa menyampaikan argumentasi yang kuat dan penuh alasan valid.

Kadang gue suka ngerasa bego ajasih kalo masalah hal beginian karena gue belum terbiasa dengan menyajikan argumentasi secara kuat, bla bla.. dan semacamnya. Yang jelas, semester 3 ini rasanya bener-bener gak di sangka, manis asem pait semuanya ada.

Intinya, kalo kuliah di sastra, lo gak cukup kuliah doang. Tapi lo harus banyak diskusi dan berkontemplasi. Cieh.

Salam mahasiswa!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s