Tahun Baru Aku Ingin Ayah Baru

Malam ini berjuta-juta orang di dunia tengah merayakan hari raya besar di seluruh penjuru dunia: Tahun Baru Masehi. Diantara berjuta-juta orang itu ada segelintir orang yang berdiam diri tanpa terompet, kembang api, atau mengucapkan selamat. Aku salah satu orangnya.

Ketika orang-orang tengah bersemangat merayakan tahun yang baru (bagi mereka) aku diam menatap langit-langit kamar. Mendengar keluhan seorang laki-laki paruh baya yang berada di ruang tengah dekat kamarku. Laki-laki yang biasa ku sebut “Papa(h)” sehari-harinya. Aku mendengar kata-kata yang tidak seharusnya diucapkan oleh seorang suami pada istrinya, lalu seketika aku ingin muntah.

Bayang-bayang 14 tahun lalu menghantui lagi. Aku bahkan terkejut bahwa kejadian kelam yang menimpa diriku telah berlalu 14 tahun lamanya. Semua.. berkat “ayah”-ku yang sudah “memberiku pelajaran” tentang kehidupan bahwa hidup ini tidak seperti dongeng-dongeng yang sering aku dengar sejak kecil. Kehidupan ini tidak sebahagia cerita-cerita bahagia ala negeri peri yang selalu berakhir dengan bahagia.

Rasa muakku semakin tinggi malam ini. Mataku tak kuat menahan panasnya sehingga cairan di pelupuk mata rasanya ingin meledak. Aku kira aku sudah lupa merasakan mual pada “ayah”ku lagi. Aku kira perasaan itu sudah aku kubur sejak 3 tahun lalu. Nyatanya rasa muak itu muncul kembali ke permukaan dan membuat mataku semakin menyipit setiap melihat “ayah.”

Sejak peristiwa 14 tahun lalu, aku selalu bertanya kepada Tuhan “Mengapa aku dilahirkan? Mengapa aku memiliki darah “ayah”?” Aku selalu berharap aku tidak pernah dilahirkan sebagai anak dari ibuku. Karena kelahiranku seperti beban yang dikandung Ibu dan menjadi penghalang untuk meninggalkan “ayah”

Setiap tahun, aku selalu punya satu keinginan.. Ayah Baru. Aku selalu ingin ayah baru, sosok ayah yang bisa membahagiakan Ibu. Membahagiakan aku. Membuat keluarga ini begitu tenang dan damai. Tapi sekali lagi, hidup tidak seperti negeri peri yang penuh kebahagiaan dan kedamaian. Fakta bahwa aku dilahirkan memang sudah tak terelakkan. Suatu saat nanti, aku hanya ingin ayah baru. Suami baru untuk Ibu. Mungkin saja bidadara yang akan menemani Ibu di surga kelak. Aku tidak peduli.. asal Ibu bahagia.

Tahun Baru, Aku ingin Ayah Baru.

Tapi apalah artinya kau hanayalah tahun yang dibuat manusia. Meminta padamu, tidak lain seperti meminta kepada pohon bisu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s