Mengapa Ilmu Pengetahuan Dikatakan Berasal dari Barat?

Mengingat tentang Ilmu Pengetahuan, aku kembali mengingat pelajaran-pelajaran yang telah kuterima sejak sekolah dasar sampai sekolah menengah. Entah kenapa, rasanya aku merasa tidak mempelajari apa-apa selama 12 tahun berada di sekolah formal. Terasa hampa otak ini mengingat-ingat pelajaran sekolah dasar dulu. Tapi aku masih ingat pelajaran-pelajaran sekolah menengah, terutama Pendidikan Kewarganegaraan dan Ilmu Pengetahuan Alam. Aku juga nasih hapal beberapa tokoh seperti Montesquieu, Thomas Aquinas, Charles Darwin, dan Sigmund Freud. Tak kusangka tokoh-tokoh itu masih aku temui di bangku kuliah walaupun dengan catatan bahwa aku ini “anak sastra” Kok bisa?

Belajar filsafat .

Sejak aku ambil mata kuliah pengantar filsafat dan pemikiran modern, pandanganku tentang dunia berkembang dan wawasanku tentang ilmu pengetahuan itu sendiri pun meluas. Awalnya aku sempat parno, karena teman-temanku yang berada di jurusan filsafat mereka lama-lama menjadi agnostik (orang yang percaya bahwa keberadaan tuhan tidak bisa dijelaskan dengan akal, tapi mereka sangat berbeda dengan seorang atheis). Setelah menjalani perjalanan 1 semester, aku keasyikan belajar filsafat. Baca sejarahnya sampai tokoh-tokoh dan ideologi-ideologi yang dianut tokoh-tokoh itu. Sampai-sampai aku melupakan definisi dan hal-hal dasar sehingga nilai uts ku tidak memuaskan karena soal-soal yang keluar adalah soal-soal mendasar yang sayangnya aku lupakan.

Belajar filsafat juga membuatku mengenal sejarah dunia yang ku pelajari di mata kuliah sastra Inggris. Lagi, belajar filsafat sama sekali jauh dari ekspektasi burukku.

Semakin aku penasaran, akhirnya aku tahu mengapa hanya tokoh-tokoh Barat saja yang menghias buku pelajaran SD, SMP, SMA kita. Kita anggap sajalah bahwa ilmu pengetahuan mengenai filsafat, sains, pemerintahan, berasal dari Yunani. Lebih tepatnya lagi berkat Plato dan Aristoteles (mungkin Socrates tapi sayangnya Ia tidak menulis sejarahnya sendiri). Dua bapak filsuf itu menyumbang banyak sekali ilmu pengetahuan dengan tulisan-tulisannya. Di zaman Renaissance dan seterusnya (kebangkitan dan rindu kebudayaan Yunani) ide-ide dua bapak itu dipelajari kembali.

Setelah itu, lahirlah Thomas Aquinas yang “mengkristenkan” Aristoteles dan Plato. Mengapa? Karena ia ingin diterima oleh Gereja. Karena pada masa Dark Age atau kejayaannya gereja do zaman pertengahan segala ilmu pengetahun sangat diatir gereja. Descartes seorang filsuf kaya dengan slogan terkenalnya cogito ergo sum membaca kembali karya-karya Plato dan Aristoteles sehingga timbulah metode keraguannya yang terkenal. Dari situlah ilmuan-ilmuan Barat terkenal. Apalagi penemuan mesin cetak sangat membantu penyebaran sains meluas ke seluruh Eropa. Padahal jauh sebelum Thomas Aquinas, ilmuwan-ilmuwan Arab seperti Al-Farabi, Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, telah menerjemahkan karya-karya Yunani ke bahasa Arab dan mempelajarinya. Anehnya, Thomas Aquinas sendiri tidak pernah bisa membaca bahasa Yunani. Aquinas memang perlu di interogasi atas hal ini.

Mungkin tulisan ini memang bias, tapi saya ingin mengatakan bahwa ilmuwan-ilmuwan Islam lah yang lebih dahulu melestarikan karya-karya Yunani dan mengimplementasikan ilmu-ilmu yang secara rahasia “dicuri” oleh ilmuwan Barat.
Taukah kamu bahwa Al-Khawarizmi yang menciptakan aljabar? Taukah kamu kalau Al-Farabi menciptakan not balok untuk pertama kali?

Jawaban anda adalah buktinya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s