Arsip Bulanan: Agustus 2016

“Today we live in a society in which spurious realities are manufactured by the media, by governments, by big corporations, by religious groups, political groups… So I ask, in my writing, What is real? Because unceasingly we are bombarded with pseudo-realities manufactured by very sophisticated people using very sophisticated electronic mechanisms. I do not distrust their motives; I distrust their power. They have a lot of it. And it is an astonishing power: that of creating whole universes, universes of the mind. I ought to know. I do the same thing.”
Philip K. Dick

Contemplating My Major

“Why I took English Major?”

The question has been quivering inside my head lately. After doing Community Outreach in a month, I learned lots of thing. One of them is the need to find my future career.

“What do I want to be?”

Another question appeared.

Then I remained silent through the days. I don’t know it’s too late or not, but I became worry thinking this matter. Through this two years, I’ve never ever been sure of what will I do next in post-university life. I think I have some good skills in teaching, but I want more than that. I want more than teaching.

I also want to travel, meeting other people, gaining new experience, volunteer to a community. Yes! There are many to-do lists in my mind!

Okay, I’ve already taken English Major, so what’s next?

“Why I study language?”

At some point, I think I am interested in linguistics field. In my opinion, linguistics is an unique science. There are not much numbers in there, which I really love to study, and I can explore and imagine the possibility of languages can do. However, new questions appear.

“Do I want to be a linguist?” Lanjutkan membaca Contemplating My Major

New Homesick

For me, homesick was the word I avoided to say.

But, then, it happened for the second time in different atmosphere and feeling.

Living alone in a lodge didn’t matter through these two years in my college life. First time I moved to this city didn’t make much differences because I decided to stay for studying. Instead, I was happy because I could see the other part of Java with its diversity. Not only that, I felt that I had moved from my comfort zone and thrive for a better life. In this city I learned what the real multiculturalism is and tolerance. Moreover, there are many new experiences I had and never knew that I would experience the same thing in my hometown. No worries, no acute homesick.

However, the new feeling appears after I lived in a hinterland for 33 days.

Actually, I had never imagined that I could live with many personalities of the people in one roof. Even my Mom said that I shouldn’t share with roommate in my lodge. Personally, I am that kind of person that have high ego, so living with many people is a burden for me.

And the 33 days passed like the wind blows.

At first living together with 11 other heads was really stressful. However, in the 2nd week I could finally adapted to the situation and I reached one thing with the other pals:

COMFORT.

Never in my life had felt such thing with many people. Never in my life had had a new family that reached this level. Suddenly, this became one of the best moments in my life. For the first time, I could care or maybe love people with no romance intention like this.

For the first time, I think I found a new home.

After those 33 days ended. I felt something wrong. I felt emptiness through these days I live. Sometimes I found myself crying in bed when I woke up with silence around me.

I am lost.

I miss them. I miss every moments in those 33 days. I miss my new home.

But, no matter how I miss them I can’t go back.

They are not THERE anymore.

The most miserable is this new homesick never has a cure.

Untuk Neptunus: Keluarga Baru

 

K2n Ciomas no name

Dear Neptunus yang tersayang,

Halo, Nus! Setelah satu bulan akhirnya aku kembali lagi menulis. Rasanya hari-hari nanti ingin terus aku menulis lagi. Aku rindu.

Tapi disini aku ingin bercerita tentang keluarga baruku, Nus. Keluarga yang belum pernah aku temui sepanjang hidup yang seperti ini.

Aku seperti memiliki jutaan barel minyak untuk dijadikan bahan bakar lho, Nus.

Selama dua tahun menjadi mahasiswa, baru kali ini rasanya aku merasakan kebahagiaan yang seperti lagi. Perasaan ini mengingatkanku ke masa-masa SMA dulu. Mungkin karena pada awalnya, aku berekspektasi rendah tentang pertemanan di lingkungan perkuliahan yang menurutku semu.

Tapi, ternyata selama ini aku salah, Nus.

Selama 33 hari lamanya aku bisa tinggal dengan sebuah keluarga utuh yang sangat solid. Saling mendukung walau diam-diam. Saling mengasihi satu sama lain walau terpendam.

Kami ada ber-12. Berikut silsilah keluarganya.

  1. Rizal Bahriawan, S.Kom. (Ayah)

Bagiku dia adalah sosok ayah yang periang dan kocak. Dia selalu mencairkan suasana disaat-saat kami bersitegang sekali pun. Terkadang tingkah kekanakannya muncul dan memberikan bumbu tersendiri di keluarga kami. Dia adalah Ayah sang Pencair Suasana.

2. Rizky Alika (Mama)

Untukku dia adalah sosok yang keibuan yang senantiasa menjadi pendengar dan teman diskusi yang asyik dikala santai dan teman diskusi yang bisa diajak kompromi ketika serius. Dia selalu jadi pelabuhan terakhir dimana aku memiliki unek-unek tertentu dan memberi semangat di setiap saat baik aku sedang “menyala” atau “redup sekalipun. Dia adalah Mama sang Pelabuhan Curahan Hati.

3. Gottfried Bertiyan (Kakak Sulung)

Kak Gott aatau biasa disebut Mas Gott sudah seperti kakak laki-laki sulung yang tidak pernah aku miliki. Dia sangat pengertian, terutama ketika sikap “moody” ku keluar dia senantiasa menjadi comforter yang sangat sabar. Bahkan ketika moodnya sedang buruk sekali pun. Dia juga menjadi pengingat bagi teman-teman yang lain walau terkadang sulit dibangunkan di pagi hari. Bisa dibilang dia adalah Kakak Sulung sang Comforter sejati.

4. Aulia Mufti Rahmawati (Kakak Ipar)

Kak Aul ini ceritanya adalah istri dari Mas Gott. Namun pada akhirnya dia selingkuh dengan Paman (simak selanjutnya). Kak Aul ini kompak dengan Mas Got namun ini versi perempuan yang terkadang super sekali bawel. Dia juga selalu perhatian ke setiap anggota keluarga kami, apalagi berkenaan dengan kesehatan. Dia adalah Kakak Ipar sang Pemerhati kami.

5. Yosep Sasada (Paman)

Nah, inilah pamanku! Kak Yosep ini adalah adik dari Ayah Rizal. Kelakuannya juga tidak beda jauh. Dia selalu menghibur orang-orang dengan tingkah lakunya yang menurutku bisa di deskripsikan dengan satu kata: EPIK. Rasanya seperti punya paman lagi, deh, Nus. Dia ini selaluu adaaa aja bahan candaannya. Fira benar-benar merasa seperti punya seorang om lagi. Dia adalah Paman sang Penghibur Lara.

6.Widi Kusumawardhani (Kakak kedua)

Inilah Kakak ter-ayu di keluarga kami. Biasa dipanggil “Mbacan” yang merupakan singkatan dari Mbak Cantik. Dia kakak yang terkalem di antara semua kakak perempuan di keluarga kami. Dia juga rajin mandi dan keramas dibandingkan yang lain. Kak Widi juga jadi salah satu model perempuan ayu yang selalu saya idamkan namun apa daya modal tidak ada 😀 Dia juga menginspirasi saya untuk jadi perempuan yang lebih tenang dan adem. Dia adalah Kakak Kedua si Ayu Sanget.

7. Fathinya Dzikraini (Kakak ke-3)

Kak Fathin ini sosok yang diam-diam tapi perhatian. Dia juga sering kali memendam rasa di kala dia sedih. Walaupun kakak yang satu ini lumayan aktif kesana-kemari, ternyata dia bisa jadi sosok yang tenang dan lembut. Aku juga tidak menyangka bahwa sosok yang terlihat kuat seperti dia ternyata memiliki sisi yang paling lembut sekalipun. Hanya saja kakakku yang satu ini agak sedikit “pedo” Hahahahaha. Maafkan aku Kak Fathin, tapi Fira masih serem 😀 Dia juga suka panggil Fira ‘bocil’ alias bocah cilik. Dia adalah Kakak-3 si Diam-Diam Lembut.

8. Arif Rosyidin (Kakak Ipar 2, suami Kak Widi)

Dia biasa dipanggil Ocid ketika di rumah. Ada juga yang sering memanggil dia “Perawan” sekedar panggilan olokan dari kami. Awalnya aku tidak suka sama orang ini karena sangat menyebalkan pada awal-awal kami tinggal serumah. Namun, ternyata Ocid tidak buruk seperti yang aku bayangkan sebelumnya. Dia adalah salah satu inspirator ku ketika menghadapi anak-anak. Dia juga teman diskusi yang seru, apalagi celetukan-celetukannya yang sering menciptakan insight tersebdiri buatku. Dia adalah Ocid sang Inspirator Anak-anak.

9. Nurwidyawati Purnaningrum (Kakak ke-4)

Inilah Ratu Petakilan keluarga kami! Dia adalah Kakak ter-AKTIF dari semuanya. Walaupun wajahnya terkesan kalem dan menyejukan tapi tingkah laku kakakku yang satu ini luaar biasa bukan main. Entah sudah berapa kali dia jatuh di sawah atau di jalan. Energi kakakku ini rasanya tidak pernah habis. Namun, di sisi lain, aku senang karea suasana rumah selalu ramai dengan candaan-candaannya. Kalau Kak Wid sudah featuring dengan Ocid, beuh, apapun pasti ribut. Dia adalah Kak Wid sang Ratu Petakilan nomor 1 di Kampung Ciomas.

10. Dian Amelia (Kakak ke -5)

Sebenarnya aku sendiri bingung ingin mendeskripsikan Kak Dian seperti apa. Dia adalah orang yang paling random di keluarga kami. Namun dia mempunyai sesuatu yang unik. Dia mempunyai hobi yang sayang sekali tidak didukung dengan fitur yang dia miliki. Hobinya adalah menyanyi, namun ketika ia bernyani rasanya melodi-melodi lagu berloncatan kesana kemari. Walaupun begitu, dia ini teman baikku dan bisa diajak berbagi cerita. Terkadang ada beberaa tingkah lakunya dia juga yang sering membuatku tertawa dalam hati. Dia adalah Kak Dian sang Biduan Random kami.

11. Nurfitria Risqie W (Kakak ke -6, a.ka pengais bungsu)

Inilah Kak Pipit yang jadi pengais aku yang bungsu ini. Kak Pipit ternyata seru dan bijak banget. Sebelumnya Fira belum pernah tau sosok Kak Pipit yang tangguh dan kuat dalam menangani suatu hal dan perhatian terhadap semua orang. Pada awalnya Fira mengenal Kak Pipit yang cuek, tapi dia sangat perhatian sekali terutama aku ini adik bungsunya. Wkwkwk. Dia juga selalu jadi teman curhat aku di saat aku bosan, sedih, ataupun senang. Kadang kami juga sering meledek Ayah kalau tingkahnya sudah mulai kekanakkan ala Jebraw tapi KW 2. Dia adalah Kak Pipit sang Pengais Bungsu yang bijak.

This is my big family from Ciomas Village, Lebak Regency, Banten!

 

S_4810558324618

Hidup bersama kalian adalah suatu anugrah yang tidak bisa dibeli dimanapun.