Penyempitan Makna Bahasa Kekinian (Manusia=Individualis)

Akhir-akhir ini fenomena penyempitan makna kerap terjadi terutama di kalangan remaja. Timbulnya bahasa slang baru nyatanya telah menyempitkan beberapa makna yang dulu belum disalah artikan. Aku rasa bahasa “kekinian” telah menghilangkan makna afektif yang terdapat dalam beberapa kata.

Contohnya saja istilah K.E.P.O yang muncul pada saat 2010 silam yang merupakan kepanjangan dari curious every particular object. Apa yang salah dengan rasa penasaran tinggi? Bukanlah Einstein bisa menemukan rumus E=mc2 karena rasa penasarannya yang tinggi? Mengapa rasa penasaran harus dibatasi?

Mungkin memang banyak orang yang berlebihan ingin mengetahui hidup orang atau semacamnya, tapi ketika kita ingin menanyakan kabar salah satu teman kita dan akhirnya mendapat respon “Kepo.” menurut saya tidak adil. Dari sudut pandang ini, makna kepedulian kepada teman secara tidak langsung “dituduh” menjadi sesuatu yang negatif. Perbedaan antara “mengurusi hidup orang” dan “peduli” menjadi tipis sekali.

Sama halnya dengan kata “Baper” yang mulai viral pada tahun 2014 sampai saat ini. Kata yang berasal dari “Bawa Perasaan” ini juga menimbulkan efek orang-orang agar tidak terlalu mengambil segala sesuatunya dengan perasaan. Dalam beberapa konteks, tentunya kata ini relevan. Tetapi, semakin sering kata ini digunakan oleh penggunanya, maknanya bergeser. Contohnya, ketika seseorang sedih atau marah karena sesuatu yang memang sepantasnya perlu mendapat respon seperti itu, orang lain akan cenderung berkata “Baper.”

Sekali lagi, ini seperti tuduhan secara tidak langsung bahwa sebaiknya manusia tidak perlu “bawa perasaan” alias tidak perlu menggunakan perasaannya. Respon emosional seperti dianggap aneh. Padahal mengemukakan pendapat baik secara emosional ataupun tidak sah-sah saja. Empati dan simpati dianggap “lebay” dan “baper.” Orang-orang yang berhati lembut kini dituduh menjadi orang-orang yang mereka labeli “baper.” Menjadi peka rasanya menjadi makhluk teralienasi.

Sulit kini membedakan ketulusan dan kepalsuan.

Manusia seperti diarahkan untuk tidak terlalu peduli dan memikirkan perasaan orang lain. Pada akhirnya generasi mudah cenderung individualis. Terkukung prinsip “diri sendiri adalah segalanya.” Sehingga sulit dalam rangka toleransi dan kerja sama. Pada akhirnya kebanyakan pertemanan hanya tipu belaka.

Kepedulian mungkin pada akhirnya hilang.

 

Iklan

2 pemikiran pada “Penyempitan Makna Bahasa Kekinian (Manusia=Individualis)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s