Kepada Calon Suamiku

(Wah, mungkin terdengar cheesy ya. Tapi tak apalah. Ini tulisan tengah malam ditengah-tengah tugas membaca. Hitung-hitung membuat time-capsule digital.)

Halo, Mas, siapapun engkau di luar sana. Aku tidak tahu kalau aku akan menikah, tapi, setidaknya aku buat tulisan ini kalau aku sudah bertemu denganmu dan bisa memperlihatkannya kepadamu langsung pada tahun dimana kita sudah bersama.

Entah, kenapa malam ini rasanya terpikirkan olehku dimana kamu sedang berada di sebelahku yang terlelap di malam hari. Seolah kamu membaca pesan ini diam-diam karena tak ingin ekspresimu dilihat. Entah karena malu atau apa.

Pepatah bilang, “Lelaki yang baik untuk  perempuan yang baik,” dan begitu sebaliknya. Aku tidak tahu aku perempuan yang baik atau tidak, Mas. Saat ini umurku masih 20 tahun dan masih penuh dengan ketidakdewasaan, terutama dalam berpikir. Tapi, aku harap, diriku yang sedang bersamamu itu bukan pilihan yang salah buatmu. Ia bukan terpaksa kau pilih, tapi karena memang pilihanmu yang tepat. Terimakasih sudah menerima diriku. Karena aku tahu secara fisik aku sama sekali bukan apa-apa dibandingkan wanita-wanita lain diluar sana dengan badan semampai dan wajah rupawan.

Aku hanya penasaran. Apa makanan favoritmu? Kalau aku sangat suka rendang. Mungkin diriku yang disana sudah mahir memasak (semoga saja). Aku juga penasaran, bagaimana nanti kita bertemu. Apakah kamu seseorang yang belum pernah kukenal di umurku yang 20 tahun ini? Ataukah kamu adalah salah satu manusia yang tidak disangka akan menjadi teman hidupku? Keduanya tidak masalah. Asal kita tahu, kita tidak salah memilih.

Aku pun penasaran dengan diriku yang sekarang kamu bisa lirik wajahnya. Seperti apa aku saat itu? Tambah tinggi jelas tidak. Tapi aku berharap ada banyak improvisasi dalam diriku di saat aku sudah bersamamu. Aku yakin, takdir kita sudah didesain sedemikian rupa oleh Tuhan.

Dan aku harap kamu tak menyesal.

Aku tak menyesal.

Kau mungkin tahu aku punya banyak target-target. Ambisi. Tolong maklumi saja diriku yang terlalu bersemangat dan kerap kali cerewet. Sisi perfeksionis yang sulit hilang. Ataukah, kau seorang perfeksionis juga? Aku tebak tidak. Kalau kita sama-sama perfeksionis pasti kita sering berdebat deh jadinya. Aku tebak juga kamu pasti pendiam. Entahlah, sejak dulu aku mempunyai tendensi untuk menyukai seseorang yang bertolak belakang. Tapi aku harap kita tidak sebertolak belakang itu.

Aku juga ingin minta maaf atas hal-hal yang mungkin akan tidak mengenakkan di hatimu, Mas. Semoga kita bisa menjadi teman hidup yang berada di perahu yang sama dan memiliki tujuan yang searah dan kuat dari terjangan badai dan ombang pasang.

 

Oiya, Mas, aku cuma ingin bilang:

Semoga aku mencintaimu karena Allah.

Tertanda

SLR

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s