Arsip Bulanan: November 2016

Hey, please-please-please

Hey, starry night,

what is that from your light,

brings tons of memories so bright

from here, million years our distance apart, but I’m missing you so right

As if the sun injects her light to my heart, jumping wild and wacky

like the iambic metre tolling my breast

DUM-di-DUM-di-DUM-di-DUM—

 

O Night,

Please, please, please

don’t fly away

O stars,

Please, please, please

Tell ’em, people I love, to feel

this funny feeling called happiness

Berpuisi Aku

Larik-larik ku tarik

dari pikirku yang panik,

yang rindu, yang geram,

dan..

yang cinta kepadamu

 

Temanku bilang galauku hobi,

Definisi itu bergeser tiap detik masa kini

Neologisme akut menjangkit kami,

kita

generasi X,Y,Z

 

lalu segalanya terasa buram

abu-abu, antara benar-salah,

antara baik-kejam

 

Apalah aku, yang hanya bisa berpuisi

dari pikirku yang panik,

yang rindu, yang geram,

dan..

yang cinta kepadamu

 

 

Sepanjang Jalan Kukusan Teknik

Daerah ini sebetulnya bukanlah resmi bernama Kukusan Teknik, namun begitulah orang-orang menyebutnya karena daerah ini dekat dengan Fakultas Teknik UI.

Sudah dua tahun aku tinggal di daerah kos-kosan ini. Pulang-pergi tak ada bosannya jalan kaki dari rumah kos ke kampus lalu sebaliknya. Entah kenapa hari ini aku melihat daerah yang biasa disebut “Kutek” dari sisi yang berbeda dari sebelumnya.

Kau tahu, dalam hidup terkadang kita sering “take for granted” sekeliling kita, terutama hal-hal trivial yang terkadang dianggap tidak penting. Biasanya kita baru menyadari bahwa sesuatu bisa berarti bagi diri kita adalah ketika kita merasakan kehilangan.

Dalam hidupku, aku berusaha meminimalisir kejadian itu.

Pagi ini aku berangkat ke kampus pukul 7.45, sudah terhitung telat sebenarnya mengingatku belum sarapan. Akhirnya aku hanya membeli roti dan susu kotak sambil menyantapnya di jalan (jangan ditiru ya). Mas-mas penjaga warung yang sudah biasa melihatku selalu tahu aku sedang buru-buru dan hanya menggeleng-geleng sambil tersenyum melihat kebiasaanku yang suka telat di pagi hari. Jarak dari kosku ke kampus FIB bisa ditempuh 15 menit jalan kaki. Tidak terlalu jauh bagi yang terbiasa jalan kaki. Walaupun mas-mas ojek dekat rumah kosku menawarkan jasanya, aku terpaksa menolak karena sedang irit akhir bulan ini.

Kutek di pagi hari belum terlalu kentara kehidupannya. Warung makan- warung makan sepanjang jalan masih tutup. Hanya beberapa toko kelontong yang buka dan penjual nasi uduk yang sudah aktif berjualan. Lanjutkan membaca Sepanjang Jalan Kukusan Teknik

Ada yang Hilang dari Ibu Kota

Aku, turun dari mobil

Parkiran sesak, Mall–

juga sesak, manusia–

memerhati dalam diam

sambil berjalan

tap-tap-tap

lalu yang lain,

tap-TAP-tap-TAP

ada lagi,

tuk-TUK-tuk-TUK

ah, sepatu-sepatu itu

 

kulihat ke gerai disamping, berlimpahan bandrol

6 digit angka, dan lebih

 

Lalu melangkahku ke satu resto,

nasi goreng 5 kali empat digit

ku lahap, hap,hap

akhirnya jatuh di perut juga

 

Lalu, aku teringat, dengan anak-anak di sana

seketika aku rindu,

kesederhanaan yang hilang dari wajah ibu kota

aku ingin itu

 

Tangan tak terlihat—kata Adam Smith

dan seketika aku kerasukan Marx

kelas, kelas, kelas…

Perempuan, Percakapan, dan Kamu

Minggu lalu aku menghadiri kelas Sosiolinguistik dengan topik mengenai bahasa dan gender.

Para sosiolinguistik mengatakan bahwa perempuan adalah si subordinate ketika mereka melakukan percakapan dengan para pria.

Sontak aku mengerutkan keningku dalam. Tidak setuju.

Namun, aku ingat percakapanku denganmu.

Ketika kamu yang mendominasi.

Ketika aku diam, dan kau menertawakan.

Ketika aku bercakap banyak, namun kau memandangku seperti itu.

Lalu aku ciut.

Pada akhirnya aku mengakui inferioritas diriku terhadapmu.

Namun aku tetap tidak suka dengan fakta bahwa perempuan adalah “second sex.”

 

Tapi aku akan selalu ingat perkataan dosenku yang berkata, “Alasan mengapa Hawa diciptakan adalah karena Adam tidak bisa hidup sendirian.”

Lalu, akhirnya aku berkesimpulan bahwa kita.. perempuan dan laki-laki adalah dua hal yang komplementer. Seharusnya maskulinitas dan feminitas berada di garis yang setara.