Sepanjang Jalan Kukusan Teknik

Daerah ini sebetulnya bukanlah resmi bernama Kukusan Teknik, namun begitulah orang-orang menyebutnya karena daerah ini dekat dengan Fakultas Teknik UI.

Sudah dua tahun aku tinggal di daerah kos-kosan ini. Pulang-pergi tak ada bosannya jalan kaki dari rumah kos ke kampus lalu sebaliknya. Entah kenapa hari ini aku melihat daerah yang biasa disebut “Kutek” dari sisi yang berbeda dari sebelumnya.

Kau tahu, dalam hidup terkadang kita sering “take for granted” sekeliling kita, terutama hal-hal trivial yang terkadang dianggap tidak penting. Biasanya kita baru menyadari bahwa sesuatu bisa berarti bagi diri kita adalah ketika kita merasakan kehilangan.

Dalam hidupku, aku berusaha meminimalisir kejadian itu.

Pagi ini aku berangkat ke kampus pukul 7.45, sudah terhitung telat sebenarnya mengingatku belum sarapan. Akhirnya aku hanya membeli roti dan susu kotak sambil menyantapnya di jalan (jangan ditiru ya). Mas-mas penjaga warung yang sudah biasa melihatku selalu tahu aku sedang buru-buru dan hanya menggeleng-geleng sambil tersenyum melihat kebiasaanku yang suka telat di pagi hari. Jarak dari kosku ke kampus FIB bisa ditempuh 15 menit jalan kaki. Tidak terlalu jauh bagi yang terbiasa jalan kaki. Walaupun mas-mas ojek dekat rumah kosku menawarkan jasanya, aku terpaksa menolak karena sedang irit akhir bulan ini.

Kutek di pagi hari belum terlalu kentara kehidupannya. Warung makan- warung makan sepanjang jalan masih tutup. Hanya beberapa toko kelontong yang buka dan penjual nasi uduk yang sudah aktif berjualan.

Aku tersenyum pada salah satu nenek yang berjualan nasi uduk di dekat salon. Lalu aku berjalan  keluar pintu Kutek, memasuki wilayah UI, menyusuri Fakultas Teknik, dan yang paling favorit adalah melewati Jembatan Teksas (Teknik-Sastra) diatas danau, lalu sampailah ke fakultasku.

Biasanya ku pulang sore sekitar jam 4 atau jam 6 ketika adzan magrib berkumandang. Suasana Kutek sudah hidup pada jam-jam seperti ini. Setelah melewati pintu Kutek aku tersenyum pada bapak-bapak penjual pukis yang paling enak di penjuru kutek. Kita hanya bisa melihatnya sore hari karena ia baru membuka lapaknya jam 4 sore. Selang beberapa puluh meter ada penjual es kelapa. Aku mengangguk menyapanya seraya ku melewat turunan jalan. Tak lama aku bertemu pemilik tempat fotokopi Santoen, dia menyapaku duluan, “Eh, si mbak.” katanya. Aku mengangguk sambil tertawa ringan, “Eh si mas.”

Lalu aku pergi ke Al-Hikam Mart di dekat Mesjid Al-Hikam untuk membeli beberapa barang-barang, si mbak-mbak kasir ini selalu ramah dan sering ku temukan mereka becanda. Lalu aku ikut menyeletuk sesuatu dan kami spontan tertawa. Walaupun pelayanan mereka tidak secepat Indomaret tapi mereka jauh lebih ramah dan hangat. Kami saling bertukar “terima kasih” lalu aku pun berjalan keluar.

Setelah melewati mesjid Al-Hikam dan Warkop Cumlaude, aku mampir sebentar ke Depot Jatim, untuk membeli makan malam. Si mas depot ini sudah hapal denganku karena aku paling sering memesan lele kremes dan ayam kremesnya. Aku sangat suka sambal disini karena manis, banyak, dan tidak terlalu pedas. Pas dengan lidahku. Terkadang si mas ini sering menjahiliku, kalau sedang beruntung aku yang menjahili balik. Wkwkwk. Istri dari si mas ini juga sudah hapal denganku, dia baru melahirkan anak barunya yang ke-2 tapi rajin bantu si masnya masak. Jempol deh buat si Mbak.

Keluar dari Depot Jatim aku berpapasan dengan pemilik warung Samtari di depannya dengan andalan ayam bakarnya. Ibu itu bertanya basa-basi “Mau kemana mbak e?” Aku tersenyum, “Pulang ke kosan, Bu. Mari.”

Beberapa langkah kemudian aku sudah sampai di pintu gerbang kosku. Mbak Ati, penjaga kosanku, seperti biasa sedang nyetrika di depan ruang TV. Dia ini super sangat baik hati sekalii, walaupun kalau sudah ngobrol sama Mbak Ati bisa berjam-jam alhasil to-do listku jadi berantakan. Tapi tetap, dia seperti ibu asuhku di kosan ini.

Aku sadar, betapa sepinya kehidupan kuliahku tanpa mereka-mereka yang meramaikan hidup merantauku selama 2 tahun ini. Senyum, tawa, dan candaan mereka sudah menjadi bagian dari hidupku di Kukusan Teknik, Beji, Depok.

Sekali lagi aku disadarkan bahwa bersyukur adalah bahagia juga.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s