Arsip Bulanan: Januari 2017

Untuk Pemuda Millenial

Apa itu raga, kalau hanya diam saja

Malas gerak jadi alasan.

Apa itu akal, kalau dipendam tak dibagikan

Sibuk jadi alasan.

 

Lelah, katamu?

 

Apa kata pemuda-pemuda yang berdarah yang kembali ke tanah

pada masa invasi para bedebah yang serakah

rebut rempah-rempah

 

Jika mereka tanya apa jasamu untuk bangsa, hendak kau sahut apa?

 

Kerjamu hanya leha-leha!

 

—Bacot katamu?

Terserah!

 

Aku memang sedang marah!!

Senjata, Ku Mencari

kucari-cari

sesuatu tajam bernama senjata

yang bisa cabik-cabik manusia

pemerintah kota

kalau bisa dunia!

bisa pula jadi hak-ku berbicara

 

kugali-gali di bumi manusia yang semakin sesak penuh senjata

Jika tentara punya senjata mengapa aku tidak?

Jika dokter punya  pisau bedah mengapa aku tidak?

 

ku putar-putari bumi, lagi

lagi dan seribu lagi ku berani

 

Lalu, tertohok aku, bahwa senjata itu selama ini ada:

kau adalah aksara.

 

Bedebah di Darahku

Ayah

Hanya buat naik darah

Menimbun luka-luka parah yang

Memendam amarah ketika

tekad sudah lelah

 

Apa itu Ayah?

 

Aku tidak punya.

 

Mungkin seorang ayah mendapatkan anak lebih mudah ketimbang

anak menemukan seorang Ayah yang sah

 

Punya pun aku tidak pernah,

apa itu Ayah?

 

Di hatiku yang paling kecil kau hanya bedebah.

Balada Kue Cucur

suatu pagi aku berangkat kuliah pukul setengah 8 dari kosan. Aku memutuskan untuk tidak sarapan, tapi ingin membeli jajanan basah di ibu-ibu yang biasa menjual nasi uduk dan kue basah masih dekat dengan rumah kosku. Sebut saja Ibu Gorengan (karena beliau jual banyak gorengan juga).

Kue favoritku diantara kue-kue buatan si Ibu  adalah kue cucur. Kalau kau tidak tahu kue cucur, kue cucur itu berbentuk ceper oval dibuat dari tepung beras, gula merah, dan telur. Saat itu ada mahasiswa mengenakan baju himpunan jurusan teknik juga sedang memilih-milih kue yang akan dia masukan ke kantong plastik.

Aku mencari-cari kue cucur favoritku, namun nihil.

“Kue cucurnya gak ada ya, Bu?”

“Oiya, Neng, tuh satu lagi sama si Aa-nya.” katanya menunjuk mahasiswa yang kusebut tadi. Aku lihat satu buah kue cucur sudah dikantonginya.

“Ohh.”

Kecewa. Aku sangat ngidam kue cucur saat itu. Lalu aku melihat kue yang ada walaupun masih bingung ingin beli apa.

Namun, tiba-tiba si laki-laki itu mengeluarkan kue cucurnya dari kantong plastik. Dengan tangannya sendiri! Lalu menyodorkannya padaku, “Mau?” katanya dengan wajah yang polos.

Astaga.

Manis sekali.

Aku menggeleng sambil tertawa. Masih setengah kaget sebenarnya, “Jangan, gak boleh gitu.” kataku.


Aku pikir semua laki-laki itu menyebalkan, namun pada hari itu, aku membuat pengecualian.

Note: Omong-omong ini bukannya naksir atau apa. Tapi laki-laki itu sudah merubah perspektifku tentang “Laki-laki” yang selama ini kupandang negatif.

Beberapa minggu kemudian aku main ke Fakultas Teknik dan tahu bahwa baju jurusan yang dipakainya waktu itu adalah jurusan Teknik Sipil. Semoga lancar kuliahmu ya, Dek.

Jawaban

“Jadi mau ngelantur sampai kapan ini?”

Ketika kau tanya begitu, sebenarnya aku ingin bilang, “Sampai bumi berhenti berputar!”

Hanya saja, aku tahu diri, bahwa jawaban “Kan tadi udah penutupan.” itu yang terbaik.

 

Ku maki lagi diri.

Sebal.

Meningkatkan Kepercayaan Diri Anak Melalui Pembelajaran Kreatif

 

 

oleh Shafira Linda

Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya

 

Remaja dan anak-anak adalah harapan sekaligus tunas bangsa untuk menjadikan negara kesatuan Republik Indonesia maju. Dalam tahap-tahap seperti ini, pembentukan kepribadian dan jati diri anak sedang berkembang. Menurut Dewi Masithoh dalam karya akhir yang berjudul Upaya Meningkatkan Rasa Percaya Diri Pada Peserta Didik Dengan Unjuk Diri Menggunakan Media Pop Up Book, kepribadian, kemampuan bersosialisasi, dan kecerdasan bersumber dari rasa percaya diri. Minimnya rasa percaya diri pada anak akan menghambat perkembangan anak itu sendiri. Sebagai mahasiswa dari ilmu humaniora yang erat kaitannya dengan sastra dan budaya, saya percaya bahwa kepercayaan diri anak dapat ditingkatkan melalui pembelajaran kreatif dengan menyisipkan kesenian dalam pembelajaran.

Kampung Ciomas berlokasi di Desa Sindangsari, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Desa yang memiliki tujuh kampung ini mempunyai dua sekolah dasar negeri dan satu madrasah tsanawiyah swasta, yaitu SDN 01 dan 02 Sindangsari serta MTs Al-Muawanah. Mayoritas anak-anak dan remaja dari kampung Ciomas bersekolah di SDN 02 Sindangsari dan MTs Al-Muawanah. Lanjutkan membaca Meningkatkan Kepercayaan Diri Anak Melalui Pembelajaran Kreatif