Meningkatkan Kepercayaan Diri Anak Melalui Pembelajaran Kreatif

 

 

oleh Shafira Linda

Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya

 

Remaja dan anak-anak adalah harapan sekaligus tunas bangsa untuk menjadikan negara kesatuan Republik Indonesia maju. Dalam tahap-tahap seperti ini, pembentukan kepribadian dan jati diri anak sedang berkembang. Menurut Dewi Masithoh dalam karya akhir yang berjudul Upaya Meningkatkan Rasa Percaya Diri Pada Peserta Didik Dengan Unjuk Diri Menggunakan Media Pop Up Book, kepribadian, kemampuan bersosialisasi, dan kecerdasan bersumber dari rasa percaya diri. Minimnya rasa percaya diri pada anak akan menghambat perkembangan anak itu sendiri. Sebagai mahasiswa dari ilmu humaniora yang erat kaitannya dengan sastra dan budaya, saya percaya bahwa kepercayaan diri anak dapat ditingkatkan melalui pembelajaran kreatif dengan menyisipkan kesenian dalam pembelajaran.

Kampung Ciomas berlokasi di Desa Sindangsari, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Desa yang memiliki tujuh kampung ini mempunyai dua sekolah dasar negeri dan satu madrasah tsanawiyah swasta, yaitu SDN 01 dan 02 Sindangsari serta MTs Al-Muawanah. Mayoritas anak-anak dan remaja dari kampung Ciomas bersekolah di SDN 02 Sindangsari dan MTs Al-Muawanah.

Setelah melakukan asesmen di Kampung Ciomas dan sekolah-sekolah terdekat, saya dan tim pendidikan menyimpulkan bahwa kepercayaan diri mayoritas anak-anak di kampung ini tergolong rendah. Ketika kami mengisi kegiatan mengajar di SDN 02 Sindangsari, anak-anak sulit sekali dipancing untuk aktif mengemukakan pendapat ataupun mengajukan pertanyaan. Hal yang sama kami temukan di lingkungan rumah tempat kami tinggal. Ketika kami berbincang dengan para remaja putra dan putri, mereka cenderung pasif dan malu untuk berdiskusi dengan kami. Dengan kata lain, isu kurangnya rasa percaya diri ini sudah  berada dalam tingkat kampung secara keseluruhan. Tim pendidikan akhirnya menyelenggarakan kegiatan yang anak-anak dan remaja bisa unjuk gigi untuk mengembangkan rasa percaya diri.

Dalam program rumah belajar “Mari Belajar” atau yang biasa disebut Marbel, kami lebih sering mengajak anak-anak untuk tampil di depan teman-temannya seperti menceritakan isi buku yang telah mereka baca atau sekadar bernyanyi lagu-lagu yang telah kami ajarkan. Walaupun bukan melodi indah yang kami dengar, satu per satu anak dapat menunjukkan kemampuan mereka pada diri sendiri maupun teman-temannya dengan berani. Begitu pun ketika kami mengisi pelajaran di SD, keaktifan anak-anak kami asah lewat macam-macam teknik belajar sambil bermain. Pembuatan prakarya juga menjadi salah satu fokus kami, seperti pembuatan celengan dari botol plastik bekas, kincir bendera, dan majalah dinding. Lewat pengajaran seni tari Indonesia, kami juga mengharapkan kepercayaan diri dan kecintaan budaya Indonesia dalam diri anak-anak bisa terus tumbuh.

Suatu hari, kami mengajak anak-anak Kampung Ciomas untuk menggambarkan dirinya dan cita-citanya di masa depan. Mereka menuliskan cita-citanya dalam selembar kertas dan menggambar diri mereka sendiri kelak, seperti tentara, guru, dokter, dan  Malamnya, saya dan beberapa anak duduk melihat pemandangan bintang di langit kampung kami. Salah satu dari mereka membuat janji bintang bersama saya, “Bintang, bintang, bintang. Dengerin aku, ya. Aku ingin jadi pilot. Janji tunggu aku di sana, ya!,” katanya dengan semangat. Suatu momen yang berharga itu perlahan membuka mata saya bahwa anak-anak kampung ini sudah mengembangkan rasa percaya dirinya sedikit demi sedikit.

Pada malam puncak acara perpisahan, semua anak-anak Marbel bersemangat untuk tampil di atas panggung. Grup seni tari yang sudah dilatih selama dua minggu, akhirnya sukses menampilkan gerakan terbaiknya dan mengantongi ratusan tepuk tangan dari para penonton. Sementara itu, anak-anak Marbel lain menyanyikan lagu Aku Anak Indonesia dan Laskar Pelangi.  Mereka bernyanyi dengan suara lantang dan  sangat antusias. Penampilan anak-anak Marbel ditonton oleh berbagai macam penonton mulai dari orang tua mereka, tetangga, Pak RT, sampai perangkat desa.[SLR1]

Saya harap perkembangan rasa percaya diri anak-anak Kampung Ciomas tidak berhenti sampai di sini. Pada dasarnya, rasa percaya diri yang ditumbuhkan di rumah, perlu dibantu dengan aktivitas di sekolah yang mendorong anak-anak untuk menunjukan dirinya kepada dunia sekitar mereka. Dengan kata lain, peran orang tua dan guru sangat memengaruhi tingkat kepercayaan diri anak yang berhubungan dengan motivasi belajar selama ia bersekolah. Oleh karena itu, guru dan orang tua bisa menjadi dua pihak yang bekerja sama dalam meningkatkan kepercayaan diri anak. Dengan menumbuhkan kepercayaan diri, motivasi belajar anak dapat meningkat. Tentunya semakin besar motivasi yang mereka punya, semakin besar pula kemungkinan mereka untuk menggapai cita-cita dan memajukan kampung sendiri.

 

Referensi:

Dewi Masithoh Citra Kusuma Putri, D. (2015). UPAYA MENINGKATKAN RASA PERCAYA DIRI PADA PESERTA DIDIK DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA POP UP BOOK DI TK BAITHUL HIKMAH (Disertasi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s