Anak Ambis, Katanya?

“Anak Ambis!” pekik orang-orang bertaburan di kepalaku.

Ada satu kata dalam kamusku yang mengalami degradasi makna: Ambisius.

Ambisius pada dasarnya bermakna netral. Tidak ada konotasi apa pun pada kata itu awalnya. Namun, setelah menginjak bangku kuliah kata itu terkesan satirik. Bahkan begitu mengintimidasi di daun telinga. Memekakkan telinga ketika terlalu lama di dengar. Pada akhirnya buatku sedikit muak. Baik pada orang-orang yang menuduhku, dan parahnya diriku sendiri.

Jadi, di sinilah aku. Di ambang krisis identitas yang merasuk di tiap aliran darah sampai sinapsis di otak. Mencari-caro jati diri karena tidak terima oleh label yang begitu mengintimidasi hingga aku akhirnya hilang kepercayaan diri. Mungkin depresi hingga rasanya hanya ingin makan mie setiap hari.

Apa hubungannya? Aku tidak tahu. Karena segalanya tidak jelas dan mengabur seperti pandangan mataku dengan 1.5 dan 1.75 dioptri miopi.

Apa itu anak ambis? Kalau aku hanya melakukan apa yang bisa aku lakukan dengan segala kekuranganku untuk bisa lebih baik lagi setiap harinya, ingin menjadi seorang manusia yang berkualitas. Berkualitas bagi negara tentunya mimpi kejauhan tapi setidaknya aku bisa membanggakan orangtuaku yang selama ini telah membiayai belasan tahun masa pendidikanku bahwa anak mereka setidaknya tidak gagal.  Minimalnya aku ini seperti buah yang telah mereka tanam belasan tahun dan akhirnya masak setelah belasan tahun. Aku ingin bilang kepada mereka:

Lalu kenapa sebuah kerja keras kau labeli hanya untuk membuat orang jatuh, padahal kau saja belum tentu lebih baik?

Dalam studi analisis wacana, hal ini disebut Face Threatening Act, atau suatu usaha untuk menjatuhkan “muka” seseorang. Aku tidak tahu apa atau bagaimana hubungan mereka dengan orang tua mereka, atau bagaimana orangtua mereka membesarkan orang-orang penuduh itu, tapi aku ingin bertanya:

Apakah kautidak ingin bekerja keras untuk orangtua atau siapa pun yang telah membesarkanmu?

Kalau aku sih ingin. Mungkin caraku salah dibeberapa konteks, namun melabeli peluh seseorang tanpa mengetahui sepenuhnya itu sama sekali tindakan pengecut. Aku marah? Tentu. Aku marah karena dianggap bersalah untuk sedikit membalas kebaikkan kedua orangtuaku yang mengantarkanku pada usia ke-20 ini walaupun tentu saja tidak pernah ada pernikahan yang sempurna. Tidak pernah ada orangtua yang sempurna. Ada saatnya anak membenci orangtua, namun apakah orangtua bisa membenci anak?

Jika jawaban orangtuamu “ya,” kau sama sekali bukan anak yang beruntung.

Pada awalnya aku telan bulat-bulat tuduhan-tuduhan itu. Aku alihkan segala kerisauan itu dengan kegiatan-kegiatan padat, sampai aku akhirnya mati rasa. Pada akhirnya aku seperti antibodi kebal dari virus-virus sehabis imunisasi. Seperti sehat kembali, aku pun sadar bahwa ada satu kunci yang paling ampuh untuk memecahkan kerisauan ini:

“BODO AMAT”

Frase itu terus terngiang-ngiang, terutama setelah Penulis Dwitasari menekankan hal itu ketika kita menghadapi orag-orang yang SELALU sentimen terhadap diri kita. Sebagai manusia, tentu saja kita perlu dikritik. Harus malahan. Tapi tentu ada bedanya antara kritik membangun dan pseudo-kritik yang biasanya berupa cemoohan saja tanpa memberikan solusi untuk membuat diri kita lebih baik.

Tidak terasa, aku memasuki semester ku yang ke-6. Padahal rasanya tahun 2014 itu seperti baru terjadi tapi tidak terasa sudah 3 tahun aku menjalani kehidupan sebaga”diaspora lokal” antara Bandung-Depok. Dan aku akui bahwa hidup diantara dua budaya yang berbeda perlu jiwa adaptif yang sangat besar dalam menghadapi berbagai macam tantangan setiap harinya.

Ini adalah titik dimana kerisauan itu hilang. Mungkin ada, satu sendok atau dua sendok, tapi tidak menggunung seperti beberapa tahun lalu menjadi seorang mahasiswa. Bertemu orang-orang hebat di sini membuatku belajar dan terus belajar, bahwa persepsi manusia sangat abstrak dan kita pun berhak untuk menjadi se-abstrak mungkin. Bukankah manusia itu kompleks?

Anak Ambis, Katanya?

Ah, perhatikan cingurmu, Nak. Mungkin untukku tidak lagi ampuh, namun harimaumu bisa membunuh siapa saja ketika mereka belum bersiap bertarung.

 

P.S: Tapi aku tahu, kok. Kamu atau mereka itu orang baik. 🙂

Depok, 23 Februari 2017

Fira Linda

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s