“Aku sudah di depan pintu,” katamu

pagi-pagi sekali aku
meleleh bersama doa di hari Rabu
bertanya mengapa dilahirkan hidup oleh Ibu
lalu kau tiba-tiba sudah ada di depan pintu
mengetuk lewat jari-jarimu

Aku sudah berjanji untuk kembalikan buku
Niatnya ada satu cerita yang ingin ku katakan padamu;
namun setelah kita bertemu, senduku hanya sambil lalu
aku pun tidak tahu mengapa begitu
senyum-senyum menyusul, tak jadi ceritaku

Namun, puisiku seperti baru.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s