Debat Martabak

Sore itu kita berteriak sampai serak

di pelataran jalan ketika menunggu martabak masak

mungkin kala itu adalah adegan kocak

hingga aku ingin terbahak

sampai sesak

 

percakapan bahasa Inggris kita jadi tontonan anak-anak

mereka megap-megap sambil mendongak

 

di antara sengitnya kita berdebat

entah kenapa hatiku semarak

walau ku terduduk di kursi belakang, dalam diam

hatiku mencak-mencak!

 

N.B: Tolonglah berhenti jadi Dilanku yang baru.

Aku mungkin bukan Milea, tapi satu Dilan saja sudah cukup buatku sendu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s