Semua tulisan dari arifadnil

Tentang arifadnil

Agen Neptunus kecil yang candu akan segelas teh susu. Hobinya menulis dan menonton film. Punya misi rahasia dari Neptunus untuk mengubah dunia.

Gak Punya Mimpi atau Cita-cita yang Pasti?

Halo! Kembali lagi bersama Fira.

Hari ini edisinya pakai bahasa Indonesia santai supaya bisa dipahami oleh semua kalangan termasuk adik-adik SMP atau SMA yang masih bingung memilih jurusan kedepannya. Mungkin tulisan ini akan membahas capaian-capaian apa yang aku dapetin selama ini, jadi mohon maaf apabila kesannya bragging atau menyombongkan diri, tapi sumpah bukan itu niatannya. Ini hanya sekedar berbagi saja.

Nah, di sini ada gak sih yang masih takut dengan masa depan? Bingung gatau mau kemana arah hidupnya? Mau ngambil jurusan apa?

Aku juga pernah mengalami hal seperti itu, malah mungkin masih. Cuma kadarnya gak terlalu intens kaya waktu SMA dulu.

Memang rasanya itu kaya.. hm.. i will describe it like floating. Ya, ngambang. Gatau gimana kedepannya. Kepala itu isinya sama keragu-raguan sama ketakutan yang sebenernya gak penting dan berlebihan. But, that’s okay. We have been there to take a little step higher. Jadi, gak usah khawatir bagi teman-teman yang masih bingung. Perasaan ini merupakan proses, jadi nikmati aja ya.

Sebenarnya, aku merasa beruntung karena dari kecil anaknya BM (Banyak Mau). Ingin jadi dokter lah, jadi insinyur lah, petani, sampai jadi pujangga. Dan pada akhirnya nyemplung ke jurusan Sastra Inggris. Mungkin semesta mengizinkanku menjadi pujangga?

Nah, bagaimana kalau teman-teman yang sama sekali gak kepikiran maunya apa, atau cita-citanya jadi apa? Pasti segalanya jadi serba tidak pasti, kan? Sebenernya, teman-teman gak usah terlalu overthinking kok.  Aku di sini gak akan maksa teman-teman untuk menemukan mimpi sesegera mungkin karena passion itu pasti akan tumbuh sendiri seiring dengan pengalaman-pengalaman yang teman-teman dapetin. Karena solusinya bener-bener sederhana. Mungkin ini akan terlihat klise, tapi menurutku make sense juga sih. Kuncinya yaitu: Lanjutkan membaca Gak Punya Mimpi atau Cita-cita yang Pasti?

Iklan

Why K-Pop, lately?

Hello, readers!

It’s been a while. Lately, I’m busy with internship and writing my thesis. I want to post some more, but I just find the occasion seems right now. Now, I want to share my story about loving into K-Pop lately.

Actually, I’ve watched K-Drama since I was in the 6th grade before K-Pop became widely global. When I was in my Junior High School, I also love Shinee and Super Junior, but it’s just for the sake following the trend, so it’s just actually a form of fear of missig out (FOMO) rather than actually fell into K-Pop.

When I was in high school, I did not particularly like any boyband or girlband. I just listen to them because the music is good. Back then I just love CNBLUE, a Korean band which consists of 4 handsome boys (but with really good music taste!). However, they haven’t produced any song again, so yeah, I don’t follow them anymore.

Now I’m a college student, and I find it being a fangirl is so waste of time because I’ve got so many activities to take care of. My love for K-Pop began in 2017 when a boyband named EXO released a song titled “Ko Ko Bop.” Honestly, I like them because of one of the members named Kyung Soo (his stage name is D.O). Why? Simply because he’s cute and the shortest of the group (somehow, I can relate to him for always being the shortest among others, so yeah). 2017 is actually a very hard year for me due to many difficult times I faced in this year, so I think I need to find an escape from reality, so I decided to become a fangirl. Some people think that being a fangirl is rubbish and considered as “having-no-life people”, but in my case, being a fangirl gives me so much motivation and energy. If your days aren’t good enough, just by watching your fav idols then suddenly your mood can be fixed. So simple life.  Lanjutkan membaca Why K-Pop, lately?

Terkadang, rindu itu masih ada di sela-sela malam sebelum lelap

Dan, aku tidak mengerti mengapa kamu mengirim pesan-pesan lewat berandamu

Kenapa sampai sekarang masih aku?

Aku tahu banyak perahu-perahu yang kau temui di sebrang sana, tapi mengapa?

Lanjutkan membaca

Poetry Gram Issue #1

Halo, lama tak jumpa ya!

Semester ini insyaAllah akan jadi semester terakhir buatku. Akhir-akhir ini aku sibuk dengan skripsi dan juga magang di salah aatu kementrian yang ada di Jakarta. Mungkin nanti aku juga akan share ceritanya kalau sudah selesai ya!

Sekarang, aku lagi senang nulis puisi. Tapi memang jarang aku terbitin di sini, karena memang audah ada agenda sendiri. Jadi, mungkin selama tahun 2018 ini fokusku akan beralih ke Instagram story. Kenapa? Karena aku ingin puisi-puisiku juga dibaca oleh orang-orang yang tidak berkutat dalam blogging.

Sekedar refreshing saja.

Nah, tahun ini rencananya aku ingin buat Poetry Zine digital. Apa sih zine itu?

Sederhananya, Zine itu mirip-mirip dengan majalah tapi kontennya tidak terstruktur rapi seperti majalah yang pasti ada editorial, opini, dsb. Hm, mungkin istilah lokalnya seperti kliping, kali ya?

Karena ini adalah Poetry Zine, tentunya yang kutulis pun kumpulan-kumpulan puisi. Dan karena di postnya di Instagram jadi dinamakan POETRY GRAM.

Nah, Poetry Zine Issue #1 ku baru kuterbitkan Februari akhir lalu. Isinya sih random. Temanya juga gak ditentukan karena ini hanya benar-benar antologi asal-asalan, hehe. Tapi tentunya nulisnya tidak asal lho ya!

Rencananya aku akan terbitin ini satu bulan sekali. Banyak yang bilang ini terlalu singkat, tapi kembali lagi, karena kegiatanku yang padat aku juga harus lebih tahu diri, kan? Doakan saja semoga project ini bisa konsisten terus sampai bulan Desember nanti.

Aku belum tahu, apakah ke depannya akan menggeluti bidang fiksi juga. Yang jelas, akhir-akhir ini aku sangat cinta puisi! (dan Bangtan)

Bagi teman-tema yang penasaran bagaimana Poetry Gram-ku, bisa cek highlight di instagram @lindashafira ya!

*follow juga boleh, lho*

Sekarang, aku dalam proses penerbitan issue ke #2. Ini Sneakpeeknya sebelum cek akun IG ku!

P.S: Feel free untuk kasih saran ya! Terima kasih banyak!

Debat Martabak

Sore itu kita berteriak sampai serak

di pelataran jalan ketika menunggu martabak masak

mungkin kala itu adalah adegan kocak

hingga aku ingin terbahak

sampai sesak

 

percakapan bahasa Inggris kita jadi tontonan anak-anak

mereka megap-megap sambil mendongak

 

di antara sengitnya kita berdebat

entah kenapa hatiku semarak

walau ku terduduk di kursi belakang, dalam diam

hatiku mencak-mencak!

 

N.B: Tolonglah berhenti jadi Dilanku yang baru.

Aku mungkin bukan Milea, tapi satu Dilan saja sudah cukup buatku sendu.