Arsip Kategori: Agen Neptunus

Berserak

Hai, Nus.

Aku ingin kamu tahu, bahwa aku merasa.. hidupku rasanya berserakan.

Mungkin menurutmu berlebihan, tetapi itulah yang aku rasakan sekarang. Rasanya rencana-rencanaku banyak yang tidak terpenuhi. To-do list ku banyak tidak tercoret karena selesai. Pada akhirnya aku menghabiskan waktu dengan aktivitas yang sebenarnya tidak begitu penting.

Lalu pada malamnya aku sulit tidur. Pening menyerang. Kantuk berkejaran walaupun kadang hanya semu. Tidurku tak pernah nyenyak. Segala sesuatunya aku impikan dalam bunga tidur. Membuat kepala semakin pening sehabis bangun.

Aku lelah sebelum berperang, Nus. Aku terlalu banyak bermain.

Tetapi banyak orang bilang bahwa aku harus banyak bermain. Maksudku, sudah saatnya aku keluar dari lingkaran hidupku ini yang begitu banyak struktur dan target.

Aku kalap.

Lanjutkan membaca Berserak

Untuk Neptunus: Keluarga Baru

 

K2n Ciomas no name

Dear Neptunus yang tersayang,

Halo, Nus! Setelah satu bulan akhirnya aku kembali lagi menulis. Rasanya hari-hari nanti ingin terus aku menulis lagi. Aku rindu.

Tapi disini aku ingin bercerita tentang keluarga baruku, Nus. Keluarga yang belum pernah aku temui sepanjang hidup yang seperti ini.

Aku seperti memiliki jutaan barel minyak untuk dijadikan bahan bakar lho, Nus.

Selama dua tahun menjadi mahasiswa, baru kali ini rasanya aku merasakan kebahagiaan yang seperti lagi. Perasaan ini mengingatkanku ke masa-masa SMA dulu. Mungkin karena pada awalnya, aku berekspektasi rendah tentang pertemanan di lingkungan perkuliahan yang menurutku semu.

Tapi, ternyata selama ini aku salah, Nus.

Selama 33 hari lamanya aku bisa tinggal dengan sebuah keluarga utuh yang sangat solid. Saling mendukung walau diam-diam. Saling mengasihi satu sama lain walau terpendam.

Kami ada ber-12. Berikut silsilah keluarganya.

  1. Rizal Bahriawan, S.Kom. (Ayah)

Bagiku dia adalah sosok ayah yang periang dan kocak. Dia selalu mencairkan suasana disaat-saat kami bersitegang sekali pun. Terkadang tingkah kekanakannya muncul dan memberikan bumbu tersendiri di keluarga kami. Dia adalah Ayah sang Pencair Suasana.

2. Rizky Alika (Mama)

Untukku dia adalah sosok yang keibuan yang senantiasa menjadi pendengar dan teman diskusi yang asyik dikala santai dan teman diskusi yang bisa diajak kompromi ketika serius. Dia selalu jadi pelabuhan terakhir dimana aku memiliki unek-unek tertentu dan memberi semangat di setiap saat baik aku sedang “menyala” atau “redup sekalipun. Dia adalah Mama sang Pelabuhan Curahan Hati.

3. Gottfried Bertiyan (Kakak Sulung)

Kak Gott aatau biasa disebut Mas Gott sudah seperti kakak laki-laki sulung yang tidak pernah aku miliki. Dia sangat pengertian, terutama ketika sikap “moody” ku keluar dia senantiasa menjadi comforter yang sangat sabar. Bahkan ketika moodnya sedang buruk sekali pun. Dia juga menjadi pengingat bagi teman-teman yang lain walau terkadang sulit dibangunkan di pagi hari. Bisa dibilang dia adalah Kakak Sulung sang Comforter sejati.

4. Aulia Mufti Rahmawati (Kakak Ipar)

Kak Aul ini ceritanya adalah istri dari Mas Gott. Namun pada akhirnya dia selingkuh dengan Paman (simak selanjutnya). Kak Aul ini kompak dengan Mas Got namun ini versi perempuan yang terkadang super sekali bawel. Dia juga selalu perhatian ke setiap anggota keluarga kami, apalagi berkenaan dengan kesehatan. Dia adalah Kakak Ipar sang Pemerhati kami.

5. Yosep Sasada (Paman)

Nah, inilah pamanku! Kak Yosep ini adalah adik dari Ayah Rizal. Kelakuannya juga tidak beda jauh. Dia selalu menghibur orang-orang dengan tingkah lakunya yang menurutku bisa di deskripsikan dengan satu kata: EPIK. Rasanya seperti punya paman lagi, deh, Nus. Dia ini selaluu adaaa aja bahan candaannya. Fira benar-benar merasa seperti punya seorang om lagi. Dia adalah Paman sang Penghibur Lara.

6.Widi Kusumawardhani (Kakak kedua)

Inilah Kakak ter-ayu di keluarga kami. Biasa dipanggil “Mbacan” yang merupakan singkatan dari Mbak Cantik. Dia kakak yang terkalem di antara semua kakak perempuan di keluarga kami. Dia juga rajin mandi dan keramas dibandingkan yang lain. Kak Widi juga jadi salah satu model perempuan ayu yang selalu saya idamkan namun apa daya modal tidak ada 😀 Dia juga menginspirasi saya untuk jadi perempuan yang lebih tenang dan adem. Dia adalah Kakak Kedua si Ayu Sanget.

7. Fathinya Dzikraini (Kakak ke-3)

Kak Fathin ini sosok yang diam-diam tapi perhatian. Dia juga sering kali memendam rasa di kala dia sedih. Walaupun kakak yang satu ini lumayan aktif kesana-kemari, ternyata dia bisa jadi sosok yang tenang dan lembut. Aku juga tidak menyangka bahwa sosok yang terlihat kuat seperti dia ternyata memiliki sisi yang paling lembut sekalipun. Hanya saja kakakku yang satu ini agak sedikit “pedo” Hahahahaha. Maafkan aku Kak Fathin, tapi Fira masih serem 😀 Dia juga suka panggil Fira ‘bocil’ alias bocah cilik. Dia adalah Kakak-3 si Diam-Diam Lembut.

8. Arif Rosyidin (Kakak Ipar 2, suami Kak Widi)

Dia biasa dipanggil Ocid ketika di rumah. Ada juga yang sering memanggil dia “Perawan” sekedar panggilan olokan dari kami. Awalnya aku tidak suka sama orang ini karena sangat menyebalkan pada awal-awal kami tinggal serumah. Namun, ternyata Ocid tidak buruk seperti yang aku bayangkan sebelumnya. Dia adalah salah satu inspirator ku ketika menghadapi anak-anak. Dia juga teman diskusi yang seru, apalagi celetukan-celetukannya yang sering menciptakan insight tersebdiri buatku. Dia adalah Ocid sang Inspirator Anak-anak.

9. Nurwidyawati Purnaningrum (Kakak ke-4)

Inilah Ratu Petakilan keluarga kami! Dia adalah Kakak ter-AKTIF dari semuanya. Walaupun wajahnya terkesan kalem dan menyejukan tapi tingkah laku kakakku yang satu ini luaar biasa bukan main. Entah sudah berapa kali dia jatuh di sawah atau di jalan. Energi kakakku ini rasanya tidak pernah habis. Namun, di sisi lain, aku senang karea suasana rumah selalu ramai dengan candaan-candaannya. Kalau Kak Wid sudah featuring dengan Ocid, beuh, apapun pasti ribut. Dia adalah Kak Wid sang Ratu Petakilan nomor 1 di Kampung Ciomas.

10. Dian Amelia (Kakak ke -5)

Sebenarnya aku sendiri bingung ingin mendeskripsikan Kak Dian seperti apa. Dia adalah orang yang paling random di keluarga kami. Namun dia mempunyai sesuatu yang unik. Dia mempunyai hobi yang sayang sekali tidak didukung dengan fitur yang dia miliki. Hobinya adalah menyanyi, namun ketika ia bernyani rasanya melodi-melodi lagu berloncatan kesana kemari. Walaupun begitu, dia ini teman baikku dan bisa diajak berbagi cerita. Terkadang ada beberaa tingkah lakunya dia juga yang sering membuatku tertawa dalam hati. Dia adalah Kak Dian sang Biduan Random kami.

11. Nurfitria Risqie W (Kakak ke -6, a.ka pengais bungsu)

Inilah Kak Pipit yang jadi pengais aku yang bungsu ini. Kak Pipit ternyata seru dan bijak banget. Sebelumnya Fira belum pernah tau sosok Kak Pipit yang tangguh dan kuat dalam menangani suatu hal dan perhatian terhadap semua orang. Pada awalnya Fira mengenal Kak Pipit yang cuek, tapi dia sangat perhatian sekali terutama aku ini adik bungsunya. Wkwkwk. Dia juga selalu jadi teman curhat aku di saat aku bosan, sedih, ataupun senang. Kadang kami juga sering meledek Ayah kalau tingkahnya sudah mulai kekanakkan ala Jebraw tapi KW 2. Dia adalah Kak Pipit sang Pengais Bungsu yang bijak.

This is my big family from Ciomas Village, Lebak Regency, Banten!

 

S_4810558324618

Hidup bersama kalian adalah suatu anugrah yang tidak bisa dibeli dimanapun.

Let’s be Humanized!

Everything seems different in the third term in college. In this term, I learnt a lot about life lessons during the lectures. Because I was majoring science when I was in high school, I had never learnt about human studies, such as sociology or anthropology. However, now, I study culture, literature, and philosophy. Of course, it is because I’m a student of faculty of humanities. Somehow, by attending so many lectures that I took for this term, I began to think reflectively about us as human. Then one question appear: Are we machines or humans?

I’ve been wondering about this issue during this term. Maybe this is not what people think or most of students think these days, but suddenly the question appear in the middle of Research Methods class. The lecturer, Mr.Junaedi, said that we are modern people. We want everything fast, we want everything instant, we want do things with less effort, and we want to make everything to be practical and efficient. In addition, we also spend more time in the outdoor rather than in our houses. Now, we are busy with ourselves and pay less attention to our families. What do you think? Are those represents you?

For me, I am. Home is not like home anymore. Nowadays, home is just a dwelling not a house. Look at the apartments that are built around us. Houses are replaced by simple compartments whose price are high. Less windows, no terrace, no backyard, functional design, and all the elements of a house seem decreased.

Inevitable, in this millennium era invented technology becomes part of our life. Indirectly, internet and smartphones are our ‘God’ in everyday life. Most of modern people use smartphone to communicate and make our job done faster. In addition, there are many applications, such as social media and games are invented. However, those applications —unconsciously— are distracting us. For example, some people tend to care their cyber life rather than their real life. The more we get in touch in Internet make us isolated. As a result, we are likely to be machines without feeling. Like robots, even zombies.

By writing this journal, I don’t mean to preach or teach. I know that we as humans both have flaws and beauty in the same time.  Overall, I just want to say: Let’s be humanized!

Interesting Symbols in “Desire Under the Elms”

When I first read the title Desire Under the Elms, I automatically highlighted the word ‘desire’. I predicted that this play tell about big passion and ambition. In my opinion, the Elm trees itself is a symbol of the play because it interestingly leads me to deeper meaning. Therefore, I want to highlight several symbols that are significant in play in my perspective.

The word ‘desire’ actually can represent each desire of several characters in the play. For instance, in Eben’s case, it can be a desire to take the farm and the house. In Simeon and Peter’s case, it represents their desire to go to California for having a better life because the gold was founded there. In addition, the desire itself also can represent lust between Eben and Abbie, and how they create the play so sensual and lustful.

In the beginning of the play, there is a description saying, “The sky above the roof is suffused with deep colors, the green of the elms glows, but the house is in shadow, seeming pale and washed out by contrast.” We can imagine that there are elm trees that cover the house, so the house is in shadow. This is why the title is ‘Desire Under the Elms’. It is because characters’ desires appeared under the elm trees, which is the farmhouse. Furthermore, the Elm itself also represent connotation. In my opinion, the Elm trees symbolize feminine quality or ‘goddess’ and somehow it related to both Abbie and Eben’s Mom. Through the play, Abbie has great feminine quality as a woman. She is so pretty and seductive; therefore, she can influence Ephraim and lure Eben at the same time. In Eben’s Mom case, she contribute to the play with Eben’s saying that she will be angry or she will haunt the whole house. Although, she does not directly involve, Eben’s saying about her portrays her big influence to Eben. She is also pictured like goddess who can hear Eben and Abbie’s conversation, and the only person who will remain in the house when everybody is gone form that farmhouse.

Another symbol is the stonewall that surround the farmhouse. It can symbolize how hard to live inside the farmhouse because Ephraim repetitively say “God is hard, not easy” in several scenes. He also said that he always feel lonely whenever he stay in the house. Another possibility is the stonewall represents a ‘cage’ that make the house is so remote. In fact, in the first part there is a description about Eben which say “Each day is a cage in which he finds himself trapped but inwardly unsubdued.”

The sky also play significant role in the play. In several scene, we can find that Eben and Ephraim are looking at the sky and always say the sky is pretty as if they are looking at something beyond it. It leads me to interpret that the sky can symbolize the possibility of future. I think this is the part which create dramatic irony while they always expected something good in the future, but we know that in the end their life is such miserable.

Overall, the symbols of the play have important role in creating the meaning of the play and enrich the dramatic irony of the play. No wonder, the tragedy is success.

Dear R/M

Satu kali lagi.
Aku tidak mencari. Aku bahkan tidak tahu. Entah kenapa dari matamu ada energi yang sama dengan mata seseorang beberapa tahun lalu—yang kini masih terngiang dalam otakku.

Entah kenapa gerik tubuhmu.. serupa ketika seseorang memperlakukanku. Memberiku jalan. Menunduk ketika ku berbicara. Menyampirkan telinganya ketika ingin mendengar ocehanku. Apakah kau satu lagi sosok yang menemukanku? Mengapa rasanya mirip. Walaupun aku tahu, aku sangat tahu.. kau jauh berbeda dengan seseorang itu.

Satu kali lagi. Aku merasakan perasaan tak karuan ini. Apakah aku salah paham? Salah paham dengan diriku sendiri yang mengaitkan paksa antara kau dan seseorang dar masa lalu? Salah paham atas gerikmu yang berbeda dimataku?

Sampai saat ini, aku tidak bisa memastikan. Tidak mampu. Terlalu takut. Terlalu kabur. Rasa. Citra. Suara. Mengendur.

Aku tidak bisa membedakan antara jatuh cinta dan rindu pada saat yang sama.

Dear R/M.

Come back Dumb back

Come back Dumb back, May I—
to see it pounds my Heart
Come back Dumb back, Should’ve I—
realize when we’re apart

Miss ya kiss ya, Can I—
my skin went grow and hard
Miss ya kiss ya, Could’ve I—
to me you might so guard

And, now—in a sleep
‘Tis my heart calling yours
‘Tis my heart signalling deep
Whether ours still have some doors

Di Satu Titik, disini.

Di satu titik aku sadar.

Dahulu, dahulu sekali ketika aku masih kelas 4 SD. Aku berbincang dengan Nenek Guru. Nenek dari Papaku yang dulunya seorang guru SD. Dia tanya ranking berapa aku di kelas. Ketika beliau tahu aku dalam urutan 3 Besar, beliau tersenyum. Lalu, beliau mengadakan ‘tes dadakan’ padaku. Dia menanyakan soal matematika, dan menyruhku membacakan surat-surat pendek.

Saat itu aku juga ditanya, “Fira mau jadi apa, nanti?” Tadinya aku ingin jawab “Dokter.” Tetapi, kata yang keluar dari mulutku adalah “Guru.”

Saat itu aku mulai semangat untuk menjadi “Ibu Guru”. Apalagi ketika masa-masa SMP, aku mendapatkan guru-guru yang luar biasa menginspirasi. Aku bulat untuk menajdi guru.

Seiring berjalannya waktu, aku pernah membenci guru. Ketika itu aku duduk di bangku SMA. Mungkin sekitar 3 tahun lalu. Aku melihat, guru-guru di SMA ku tidak ada yang menginspirasiku. Walaupun aku tidak pernah punya masalah serius dengan guru, aku tidak suka guru jaman sekarang. Mengejar sertifikasi demi uang. Yang lebih parah adalah sertifikat itu di gadaikan ke bank.

Memang itu hak masing-masing manusia. Tapi tugas seorang guru rasanya dinodai oleh kebanyakan guru sekarang yang hanya berfokus pada jam terbang saja.

Saat itu aku putuskan aku tidak ingin jadi guru.

Aku berhenti. Lanjutkan membaca Di Satu Titik, disini.

Surat untuk Kugy (Agen Neptunus Yang Katanya Sudah Pensiun)

Dear Kugy Karmachameleon,

Tadi malam sahabatku memintaku untuk menulis surat padamu. Semalam, ia menonton film tentangmu, Gy. Katanya, ia kangen jadi agen Neptunus lagi. Dia bilang dia sudah menulis surat pada Neptunus kalau dia sudah pensiun jadi agen Neptunus sejak lama. Tentu saja aku tidak tahu, aku Cuma menyampaikan saja.

Kembali, ia menemukan sisa-sia perahu kertas yang tidak ia hanyutkan. Lucu membacanya. Seperti anak kecil, polos, dan bebas kata-kata di surat itu terdengar. Dia ingat, ketika menulis dengan spidol berwarna berbeda yang menentukan suasana hatinya ketika menulis perahu kertas itu. Tidak ada tanggal atau tahun atau bulan atau hari. Ia juga lupa kapan menuliskan surat-surat itu. Entah satu tahun lalu atau dua tahun lalu. Masa-masa confetti katanya. Dulu, hidupnya seperti confetti yang beragam warna. Mulai dari warna gelap sampai terang, rasanya berjalan begitu cepat. Lanjutkan membaca Surat untuk Kugy (Agen Neptunus Yang Katanya Sudah Pensiun)