Arsip Kategori: dreams

Di Satu Titik, disini.

Di satu titik aku sadar.

Dahulu, dahulu sekali ketika aku masih kelas 4 SD. Aku berbincang dengan Nenek Guru. Nenek dari Papaku yang dulunya seorang guru SD. Dia tanya ranking berapa aku di kelas. Ketika beliau tahu aku dalam urutan 3 Besar, beliau tersenyum. Lalu, beliau mengadakan ‘tes dadakan’ padaku. Dia menanyakan soal matematika, dan menyruhku membacakan surat-surat pendek.

Saat itu aku juga ditanya, “Fira mau jadi apa, nanti?” Tadinya aku ingin jawab “Dokter.” Tetapi, kata yang keluar dari mulutku adalah “Guru.”

Saat itu aku mulai semangat untuk menjadi “Ibu Guru”. Apalagi ketika masa-masa SMP, aku mendapatkan guru-guru yang luar biasa menginspirasi. Aku bulat untuk menajdi guru.

Seiring berjalannya waktu, aku pernah membenci guru. Ketika itu aku duduk di bangku SMA. Mungkin sekitar 3 tahun lalu. Aku melihat, guru-guru di SMA ku tidak ada yang menginspirasiku. Walaupun aku tidak pernah punya masalah serius dengan guru, aku tidak suka guru jaman sekarang. Mengejar sertifikasi demi uang. Yang lebih parah adalah sertifikat itu di gadaikan ke bank.

Memang itu hak masing-masing manusia. Tapi tugas seorang guru rasanya dinodai oleh kebanyakan guru sekarang yang hanya berfokus pada jam terbang saja.

Saat itu aku putuskan aku tidak ingin jadi guru.

Aku berhenti. Lanjutkan membaca Di Satu Titik, disini.

Aku.. si pengemis!

Hari ini aku berjalan menyusuri tepi danau dekat perpustakaan. Pikiranku membuncah kemana-mana dengan sunyi tanpa seorang pun tahu. Sebenarnya aku dalam tahap pencarian. Bukan pencarian jati diri, tapi pencarian sebuah asa dan mimpi. Pencarian bagaimana mimpi bekerja dalam kehidupanku.

Angin menghembus kain kerudungku, menimbulkan efek dramatis untuk merenungkan cara kerja diriku dalam menggapai mimpi. Mimpi yang sudah di depan mata yang meminta dipilih untuk diambil atau tidak. Masalahnya, memilih adalah kegiatan yang tidak semudah manusia pikirkan. Tidak semudah mulut ketika bersuara ‘Ayo kita putuskan.’ Lanjutkan membaca Aku.. si pengemis!

Being Sarah Sechan audience? Between shame and fun

Being Sarah Sechan’s audience for the first time is awkward. I mean..it’s a shame and fun at the same time.

It’s begins when I’m being Olimpiade Budaya’s commitee. And I was voluntarily myself to do donation finding. So, my senior ask me to attend this talkshow (we paid by Net station as ‘penonton bayaran’). So I said yes.

You know what? It’s quite far to get Net station. From Depok we have to take commuter line about 5 station far. After that, we take Busway in Cawang to Kuningan. The trip is about 1.5 hours long. And we don’t get any seat along the trip.

I was mesmerized at Net station building design and its simple-functional studio. One studio can be used for 5 show! Genius, I think. The effectiveness in the building is really clear.

In 3.30pm the show were started. I became nervous even I was an AUDIENCE!! Queer. We only have to giving applause when our commander give us sign to do it. But watching the show in LIVE have a different mood than we did it at home. The bonus is we also see the guest in front of our eyes. New experience for me, by the way.

Actually, it was my tiny dream to meet Sarah Sechan face to face. I could have take  a pict with her :’)

After this chance, I want to be one of audience in another show again hahahaha. I became addicted 😛 And I hope I can get more exciting experience in the later time. Wish me luck!

Oh, I almost forgot, I’ve to do my task! See ya in the next post.

Ketika hari ini, inilah aku

Hari ini, merupakan hari yang spesial. Everyday is special actually.Tapi, kali ini aku merasakan sesuatu magis yang terjadi dalam kehidupanku. Kini.. perjuangan itu terbayar sudah. Tapi bukan berarti kini aku berhenti berjuang. Justru, ini adalah awal. Awal dari perjalanan sebuah gadis pemimpi yang selalu nekat.

Hari ini, memakai pakaian putih-putih berbalut Jaket Kuning khas Universitas Indonesia, hatiku sangat berbahagia. Inilah.. aku. Aku yang realistis dalam bermimpi. Walaupun aku tahu, terwujudnya mimpi bukan berarti mendapatkan apa yang kita impikan-impikan sebelumnya. Tetapi.. bagaimana kita mendapatkan sesuatu yang terbaik bagi diri kita.

Tapi, aku masih bermimpi.

Berhenti untuk bermimpi? Itu bukan diriku. Karena diriku ini gadis pemimpi yang selalu nekat. Usaha, doa, dan kemauan. Hanya itu modalku.

Dan, ini sama sekali belum cukup. Tapi aku harus tetap bersyukur. Aku bersyukur kepada Allah SWT, yang senantiasa berada dekat dalam hati. Mengalir dalam setiap pergerakan tubuhku. Engkau tiada tertandingi.

Masih ada waktu perjuangan untuk 3,5 tahun kedepan. Berkarya, Mengabdi, dan Berprestasi. Untukmu mimpi, aku tahu kau masih di depan sana di jarak yang tak terpandang. Tapi aku yakin, kau selalu menungguku tuk ada disana.

 

And,Mom.. please, you have to see my succeed.

 

Second Day OBM

Second day?
You kidding me, it’s quite thrilling!!
This is first time I felt sooo happu when learning. Especially in IT.

Yup, I learn about IT in my university. UI has many website that we(student) can access many apps depend on what we need. For example, if we want to know about our schedule and IP or IPK we can access SIAK NG. It’s like information system of UI. We can choose our subject’s lecture and the lecturer too. If we start new semester, we called it SIAK WAR. War? Yes, it’s big competition to get the good class in campus.

Also, We have Upload UI. You can upload file(maximal size 5 gb) and send to your email. You can send such as video, documents, presentation file, aaandd many more! This is perfect for me :’)

And UI has e-learning which  we call SCeLE (with little ‘e’). It’s kind of web that we can discuss something and access another information.

Today, we have games in class.I’ts quite fun! Many friends again, many laugh, many silly things. Hahaha.

Ummm.. actually there’s more that I could explain, but.. this headache is really make me sick. So, see you in next post, Pal!
Again.. can’t wait for third day~

Lika-liku Setelah Lulus SMA

Tuhan akan selalu memberikan pilihan yang terbaik bagi hamba-Nya.

Ya, kurasa itu memang benar. Setelah 3 tahun mengenyam mas SMA aku pun dinyatakan lulus. Dan harapanku untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi Negeri adalah hanya melalui jalur SNMPTN Undangan. Aku begitu optimis untuk masuk PTN yan ketika itu aku pilih Psikologi dan Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran. Mengapa aku sebegitu optimis? Karena aku yakin nilai raporku termasuk nilai yang stabil dan  baik karena di iming-imingi peringkatku yang tidak pernah turun dari 2 besar. Begitu sombongnya aku!
Dan pada saat aku membuka pengumuman dengan tangan gemetar setengah mati, seketika badanku lemas selemas-lemasnya melihat tulisan “Maaf anda dinyatakan tidak lulus.”. Rasanya ada pisau yang menusukku. Dan.. bukan hanyan menusukku saja, tapi menusuk harapan keluarga kecilku dan keluarga besarku. Aku rela, hanya aku satu-satunya yang kecewa saat peristiwa itu tapi kenyataan berkata lain.
Setelah menangis, begitu sedihnya saat itu, otakku berpikir keras bagaimana caranya agar aku bisa masuk ke PTN. Dengan apapun cara yang halal yang bisa kulakukan, aku akan kulakukan, pikirku saat itu. Maka.. aku mendaftar 3 tes sekaligus. Yaitu, SBMPTN, USM STAN, dan SIMAK UI. Bermodalkan nekat, aku mencobanya. Segala macam try out aku ikuti entah itu TO SBMPTN, Polban, dan Poltekkes.
Lanjutkan membaca Lika-liku Setelah Lulus SMA

Titik Terendah Sang ‘Unstopable Dreamer’

Semua orang pernah ada di titik terendah dalam hidup. Pasti. Karena hidup ini ibaratkan siklus kontinyu. Tidak pernah berhenti.

Seperti yang aku alami saat ini. Merasa di titik terendah dalam hidup, setalah bangun dari masa kelam 12 tahun yang lalu. Dan masa ini menyembur ke permukaan dalam hidup. Bedanya, kini masalah hidup yang dihadapi sudah ‘sepadan’ dengan umurku yang beranjak menua. Dewasa.

Manusia selalu dituntut untuk menjadi pribadi yang dewasa dalam menangani suatu masalah dalam hidupnya. Bahkan, disaat ia masih belia sekalipun. Dan, kini aku pun dituntut untuk bersikap dewasa atas terpaan-terpaan yang ada. Bahkan yang berasal dari orang yang disayangi sekalipun.

Rasanya, mimpi-mimpi saya yang selalui saya simpan lima sentimeter di depan dahi saya selalu di intervensi oleh orang-orang yang tidak berpihak. Apakah menjadi seorang ‘unstopable dreamer’ sebegini samsara? Pelik. Terjangan dari segala arah membentur pada satu titik yang bahkan tidak bersalah. Mimpi yang tidak bersalah.

Heran. Penghancur mimpi itu selalu dimana-mana. Berbeda dengan pemburu mimpi yang menjadi kaum minoritas yang kerap kali dilecehkan logika manusia yang kadang setajam belati. Padahal ada yang lebih berkuasa atas rupa-rupa pemikiran yang mereka sebut ‘logis’ itu.

Tuhan.

Sudah kubilang. Bermimpi dan berangan itu berbeda. Kerap kali disalah artikan. Seorang pemimpi pastilah ia menghadapi realitas yang ada. Mencari celah pada realitas dimana mimpinya bisa direalisasikan. Ya, tentunya dalam realitas itu sendiri. Lalu para subjek yang senang berangan? Mereka hanyalah manusia yang selalu melihat langit, dan lupa pada pijakannya. Bumi.