Arsip Kategori: Dunia Kampus

Di Halte, Kita..

Di halte ada kursi dan jarak jarak antara kita

Bus kuning enggan cepat-cepat tiba dan

Kita pun saling tunggu di tengah termangu

ditemani mendung-mendungsepertisendu

lalu Geludug menggerutu, sepertitidakrestu

diam-diam mata kita bersudut-sudut, namun

Bus sudah muncul!

Kita pun ditelan sepatu-sepatu yang naik turun

16.25.

Ketika menunggu Bus Kuning di Halte FH UI

Iklan

An Apology to All Classmates

Hello, guys. I don’t know if you reading this or not, but I just want to say something that I just realized these days that I just have to:

I’M DEEPLY SORRY.

Yes, I finally said that.  Maybe some of you don’t understand or the reason why I do this, but I’m saying to all of you whose hearts have been irritated or hurt due to all my “bitchiness” after three years we have been together. Yes, you, 2014 Eng Dept students.

I know I’ve never been a good classmate to all of you. I was too serious, rigid, and nerd most of the time. Sometimes, I did face threatening act to you (unconsciously and consciously). I asked too much question in the class. Or maybe some of you think that I’m too active in the class in order to get an  A every time. Lanjutkan membaca An Apology to All Classmates

Anak Ambis, Katanya?

“Anak Ambis!” pekik orang-orang bertaburan di kepalaku.

Ada satu kata dalam kamusku yang mengalami degradasi makna: Ambisius.

Ambisius pada dasarnya bermakna netral. Tidak ada konotasi apa pun pada kata itu awalnya. Namun, setelah menginjak bangku kuliah kata itu terkesan satirik. Bahkan begitu mengintimidasi di daun telinga. Memekakkan telinga ketika terlalu lama di dengar. Pada akhirnya buatku sedikit muak. Baik pada orang-orang yang menuduhku, dan parahnya diriku sendiri.

Jadi, di sinilah aku. Di ambang krisis identitas yang merasuk di tiap aliran darah sampai sinapsis di otak. Mencari-caro jati diri karena tidak terima oleh label yang begitu mengintimidasi hingga aku akhirnya hilang kepercayaan diri. Mungkin depresi hingga rasanya hanya ingin makan mie setiap hari.

Apa hubungannya? Aku tidak tahu. Karena segalanya tidak jelas dan mengabur seperti pandangan mataku dengan 1.5 dan 1.75 dioptri miopi.

Apa itu anak ambis? Lanjutkan membaca Anak Ambis, Katanya?

Balada Kue Cucur

suatu pagi aku berangkat kuliah pukul setengah 8 dari kosan. Aku memutuskan untuk tidak sarapan, tapi ingin membeli jajanan basah di ibu-ibu yang biasa menjual nasi uduk dan kue basah masih dekat dengan rumah kosku. Sebut saja Ibu Gorengan (karena beliau jual banyak gorengan juga).

Kue favoritku diantara kue-kue buatan si Ibu  adalah kue cucur. Kalau kau tidak tahu kue cucur, kue cucur itu berbentuk ceper oval dibuat dari tepung beras, gula merah, dan telur. Saat itu ada mahasiswa mengenakan baju himpunan jurusan teknik juga sedang memilih-milih kue yang akan dia masukan ke kantong plastik.

Aku mencari-cari kue cucur favoritku, namun nihil.

“Kue cucurnya gak ada ya, Bu?”

“Oiya, Neng, tuh satu lagi sama si Aa-nya.” katanya menunjuk mahasiswa yang kusebut tadi. Aku lihat satu buah kue cucur sudah dikantonginya.

“Ohh.”

Kecewa. Aku sangat ngidam kue cucur saat itu. Lalu aku melihat kue yang ada walaupun masih bingung ingin beli apa.

Namun, tiba-tiba si laki-laki itu mengeluarkan kue cucurnya dari kantong plastik. Dengan tangannya sendiri! Lalu menyodorkannya padaku, “Mau?” katanya dengan wajah yang polos.

Astaga.

Manis sekali.

Aku menggeleng sambil tertawa. Masih setengah kaget sebenarnya, “Jangan, gak boleh gitu.” kataku.


Aku pikir semua laki-laki itu menyebalkan, namun pada hari itu, aku membuat pengecualian.

Note: Omong-omong ini bukannya naksir atau apa. Tapi laki-laki itu sudah merubah perspektifku tentang “Laki-laki” yang selama ini kupandang negatif.

Beberapa minggu kemudian aku main ke Fakultas Teknik dan tahu bahwa baju jurusan yang dipakainya waktu itu adalah jurusan Teknik Sipil. Semoga lancar kuliahmu ya, Dek.

Meningkatkan Kepercayaan Diri Anak Melalui Pembelajaran Kreatif

 

 

oleh Shafira Linda

Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya

 

Remaja dan anak-anak adalah harapan sekaligus tunas bangsa untuk menjadikan negara kesatuan Republik Indonesia maju. Dalam tahap-tahap seperti ini, pembentukan kepribadian dan jati diri anak sedang berkembang. Menurut Dewi Masithoh dalam karya akhir yang berjudul Upaya Meningkatkan Rasa Percaya Diri Pada Peserta Didik Dengan Unjuk Diri Menggunakan Media Pop Up Book, kepribadian, kemampuan bersosialisasi, dan kecerdasan bersumber dari rasa percaya diri. Minimnya rasa percaya diri pada anak akan menghambat perkembangan anak itu sendiri. Sebagai mahasiswa dari ilmu humaniora yang erat kaitannya dengan sastra dan budaya, saya percaya bahwa kepercayaan diri anak dapat ditingkatkan melalui pembelajaran kreatif dengan menyisipkan kesenian dalam pembelajaran.

Kampung Ciomas berlokasi di Desa Sindangsari, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Desa yang memiliki tujuh kampung ini mempunyai dua sekolah dasar negeri dan satu madrasah tsanawiyah swasta, yaitu SDN 01 dan 02 Sindangsari serta MTs Al-Muawanah. Mayoritas anak-anak dan remaja dari kampung Ciomas bersekolah di SDN 02 Sindangsari dan MTs Al-Muawanah. Lanjutkan membaca Meningkatkan Kepercayaan Diri Anak Melalui Pembelajaran Kreatif

Sepanjang Jalan Kukusan Teknik

Daerah ini sebetulnya bukanlah resmi bernama Kukusan Teknik, namun begitulah orang-orang menyebutnya karena daerah ini dekat dengan Fakultas Teknik UI.

Sudah dua tahun aku tinggal di daerah kos-kosan ini. Pulang-pergi tak ada bosannya jalan kaki dari rumah kos ke kampus lalu sebaliknya. Entah kenapa hari ini aku melihat daerah yang biasa disebut “Kutek” dari sisi yang berbeda dari sebelumnya.

Kau tahu, dalam hidup terkadang kita sering “take for granted” sekeliling kita, terutama hal-hal trivial yang terkadang dianggap tidak penting. Biasanya kita baru menyadari bahwa sesuatu bisa berarti bagi diri kita adalah ketika kita merasakan kehilangan.

Dalam hidupku, aku berusaha meminimalisir kejadian itu.

Pagi ini aku berangkat ke kampus pukul 7.45, sudah terhitung telat sebenarnya mengingatku belum sarapan. Akhirnya aku hanya membeli roti dan susu kotak sambil menyantapnya di jalan (jangan ditiru ya). Mas-mas penjaga warung yang sudah biasa melihatku selalu tahu aku sedang buru-buru dan hanya menggeleng-geleng sambil tersenyum melihat kebiasaanku yang suka telat di pagi hari. Jarak dari kosku ke kampus FIB bisa ditempuh 15 menit jalan kaki. Tidak terlalu jauh bagi yang terbiasa jalan kaki. Walaupun mas-mas ojek dekat rumah kosku menawarkan jasanya, aku terpaksa menolak karena sedang irit akhir bulan ini.

Kutek di pagi hari belum terlalu kentara kehidupannya. Warung makan- warung makan sepanjang jalan masih tutup. Hanya beberapa toko kelontong yang buka dan penjual nasi uduk yang sudah aktif berjualan. Lanjutkan membaca Sepanjang Jalan Kukusan Teknik

Perempuan, Percakapan, dan Kamu

Minggu lalu aku menghadiri kelas Sosiolinguistik dengan topik mengenai bahasa dan gender.

Para sosiolinguistik mengatakan bahwa perempuan adalah si subordinate ketika mereka melakukan percakapan dengan para pria.

Sontak aku mengerutkan keningku dalam. Tidak setuju.

Namun, aku ingat percakapanku denganmu.

Ketika kamu yang mendominasi.

Ketika aku diam, dan kau menertawakan.

Ketika aku bercakap banyak, namun kau memandangku seperti itu.

Lalu aku ciut.

Pada akhirnya aku mengakui inferioritas diriku terhadapmu.

Namun aku tetap tidak suka dengan fakta bahwa perempuan adalah “second sex.”

 

Tapi aku akan selalu ingat perkataan dosenku yang berkata, “Alasan mengapa Hawa diciptakan adalah karena Adam tidak bisa hidup sendirian.”

Lalu, akhirnya aku berkesimpulan bahwa kita.. perempuan dan laki-laki adalah dua hal yang komplementer. Seharusnya maskulinitas dan feminitas berada di garis yang setara.

Say Yes to Rural-centric Development

(This is my essay for academic writing assignment. Although it’s still revised I got a very well grade LOL. It is just an example of a simple academic essay, hope it will be helpful!)

                 Recently, Indonesia has made many developments, especially the infrastructure development in the urban area. Mr. Joko Widodo, the president of Indonesia, has proposed many infrastructure developments since 2014. For example, Mass Rapid Transit (MRT) in Jakarta, Rapid Transit Train in Bandung, and the longest Cikopo-Palimanan highway. However, most of the developments that have been realized only focus on the cities and its surroundings. Consequently, the discrepancy between the urban area and the rural area is inevitable. In fact, the rural area, instead of the urban area, needs significant development in terms of economy, education, and infrastructure.

In the first place, the rural-centric development can decrease the number of urbanization that has been exploded lately.  By the decrease of urban population, cities would not be crowded, and the slum area in the cities could thin out gradually. Moreover, this can cause the decline of economic discrepancy between the cities and the villages. According to Indonesian Central Bureau of Statistics in 2013, the poor society in the rural areas was higher than the poor society in the cities, with 18.4% lived in the villages and only 8.5% lived in the cities. By developing the villages, especially in education and the economy, villagers would likely to stay in the villages rather than leave it for the cities to remain their welfare. As a result, it will create equal population between the cities and the villages. Lanjutkan membaca Say Yes to Rural-centric Development

Wrap- Up

YES! 4th Term is over!!!

It’s been  a loooooong time since my last post. This term is SO TIRING TERM. Well, each term is tiring, but this term really made significant improvement in my life.

4th term really made my term! From many new experience I had until falling in love again. I’m not sure this time I really DID fall for someone, but.. as I’ve said before, this term is really different to the previous terms I’ve ever had.

This term I have new organization activity in Student Cooperative or known as KOPMA. In this coop I’ve learnt  a lot, I gained  a lot, I made mistakes a lot. However, it’s fine, cause I’m enjoying it (though it was tough sometimes). I also traveled a lot. I’m still doing the volunteering project though it’s not long, but those activities really boosted my confidence for the first time in my college life.Automatically, I made friends a lot. Not only in my faculty, but in the university scale even with other universities. Somewhat it makes me really happy although it was not really a big thing for having  a lot of friends for certain people.

I also apply for K2N UI for my short course, and I got location in Lebak Regency, Banten Province. K2N UI made me busy with all the assignments I got, but it’s exciting though. My perspective about the world is changed because of K2N UI. Well.. one of them. Many new experience I got from joining K2N. I could know many friends from other faculties, I could know how to do rapeling, what is it like to meet KOPASSUS, What is it like to touch a cobra, and the most important thing is how to engaged with community that we would face later.

Although I’m tired, and I don’t know the result of my GP in this term, I absolutely DID NOT REGRET what I’ve done. I think Mr. Anies baswedan right about “learning in class is not enough”and it must be really unlucky to study in university without taking risk to join other activities outside the class.

YOSH! New short term will begin next month, and I MUST prepare it well. GANBATTE!