Arsip Kategori: Dunia Kampus

Pengalaman Magang di Kemensetneg RI 2018!

Halo, readers! Sekarang udah bulan Mei dan akhirnya periode magangku berakhir!

Kali ini aku mau memenuhi janji di postingan sebelum-sebelumnya untuk nulis tentang magang di Kemensetneg. So, happy reading!

Pertama-tama aku ingin kenalin dulu departemen dimana aku magang, yaitu Asisten Deputi Hubungan Masyarakat. Basically, departemen ini adalah humasnya Setneg, jadi fungsi utamanya adalah melayani masyarakat dan juga Menteri Sekretariat Negara terkait dengan informasi publik.

Nah, di Asisten Deputi Hubungan Masyarakat ini ada 4 divisi, yaitu:

  1. Monitoring dan Analisa Berita
  2. Diseminasi Informasi
  3. Peliputan dan Dokumentasi
  4. Pelayanan Informasi Publik

Aku sendiri daftar di divisi Diseminasi Informasi (Disfo). Divisi ini penanggung jawab penyebaran informasi dari Asdep Humas. Jadi misalnya, kalau ada informasi yang harus dipublikasiin tentang Kemensetneg ke masyarakat umum, divisi ini yang urus. Mungkin temen-temen penasaran juga: kenapa anak Sastra Inggris bisa masuk ke sini? Karena penerjemah berita dibutuhin, guys.  Main job aku di sini ya nerjemahin berita ke bahasa Inggris untuk diupload ke website Setneg versi Bahasa Inggris.

Gimana cara daftarnya? Waktu itu aku dapet jarkoman. Nah kira-kira kaya gini guys:

FYI, magang Humas Kemensetneg biasanya diadain 3 kali setahun. Jadi gak usah khawatir bagi temen-temen yang mau daftar. Periode magangnya juga cuma 3 bulan jadi gak mengganggu kuliah temen-temen.

Jam kerja di sini dari jam 7.30 – 16.00. Karena kosan ku di Depok jadi harus commuting pagi-pagi pakai kereta. Dari Stasiun UI biasanya aku turun di Stasiun Juanda. Dari Juanda bisa naik ojek atau jalan kaki. Biasanya sih aku jalan kaki paling cuma 10-15 menit.

(Gambar: Meja Kerja ku selama 3 Bulan)

Temen-temen juga mungkin persepsi awalnya kerja di kementerian itu kaku dan jauh generation-gapnya. Tapi kalau di Humas, orang-orang di sini masih banyak yang muda-muda. Asik-asik juga orangnya. Dulu aku pernah magang di salah satu kantor di kampus juga tapi atmosfer di sini seru banget. Jadi, gak usah khawatir suasana kerjanya bakal kaku banget. Terus di sini juga kita di-encourage untuk ngembangin kemampuan kita. Contohnya, aku yang orangnya asal-asalan dan gak artsy, bisa belajar sama temen-temen yang lain kaya fotografi atau desain-desain yang simpel. Malah, walaupun jobdsec aku sebenernya cuma nerjemahin pada praktiknya random banget, kaya disuruh jadi manajer produksi video pendek, ngurusin event, notulensi, jadi fotografer dadakan, dll. Serunya sih aku juga sesekali diajak ikut rapat. Jadi bisa tau kaya gimana sih kondisi pemerintahan sekarang atau bahkan mungkin rahasia negara.

Nah, di sini aku mau share juga tentang pengalaman-pengalaman istimewa yang cuma bisa aku dapetin di magang Humas Kemensetneg. Check this out!

a. Masuk Halaman Belakang Istana Negara

Kita bisa lewat sini tapi harus pakai nametag. Fotonya juga harus celingak-celinguk liat Paspampres ada yang jaga atau enggak, hehehe. Karena ini bukan daerah publik jadi penjagaannya lumayan ketat.

b. Menginap di Istana Kepresidenan Cipanas

Nah, ini paling super sih. Karena ada event kita diminta untuk bantuin acara kunjungan. Walaupun nginepnya cuma satu malem, ini berkesan banget! Kita nginep di salah satu paviliun gitu dan makanannya juga enak-enak. Kita juga diajak keliling-keliling kawasan Istana. Yang paling berkesan di sini itu nyobain sayur lodeh yang katanya masakan favorit Ibu Mega.

c. Ketemu Pak Mensesneg
Magang di Kemensetneg katanya belum afdol kalau belum foto sama Pak Mensesneg.

d. Olahraga di Monas
Setiap hari Selasa dan Jumat kita dikasih waktu olahraga sampai jam 9 gitu guys. Boleh ikut senam kebugaran, boleh juga sekedar lari ke monas sebentar. Walaupun di sini udaranya kurang bagus karena masih banyak polusi tapi jalan-jalan di sekitar taman kotanya lumayan adem. Dari kantor ke Monas itu bisa jalan kok. 5 menit langsung sampe!

 

e. Tur ke GBK dan Wisma Atlet Kemayoran

Nah ini pengalaman yang kayanya gak bakal didapetin lagi, menurutku. Dalam menyambut ASIAN Games 2018, pegawai Humas Kemensetneg diajak berkunjung ke Stasion GBK yang udah direnovasi. Kita juga makan siang di Royal Lounge Roomnya juga. Selain itu kita juga diajak tur singkat ke ruangan-ruangan yang udah di renovasi. Tapi yang paling berkesan adalah nginjekin kaki di lapangannya. I mean, hanya pemain sepak bola dan orang-orang tertentu aja kan yang bisa main di situ. Seru bisa lari-larian di sana juga.

Katanya sih GBK nanti mau dijadiin destinasi wisata gitu. Jadi kalo mau tur harus bayar, lho. Kita lihat saja nanti.

Masih dalam menyambut ASIAN Games 2018, kita juga diajak ke Wisma Atlet Kemayoran. Kita dibolehin liat-liat tempat tinggal para atlet nanti lho. Merasa beruntung banget bisa ke sini bahkan sebelum para atletnya dateng. Ada rumor juga nanti sehabis ASIAN Games, unit-unit yang ada di sini mau di jual ke masyarakat umum. Fasilitasnya udah standar Internasional juga di sini, jadi mungkin bakal mahal kali ya?

 

Singkatnya, magang di Kemensetneg itu worth it banget. Aku sendiri jadi banyak belajar tentang banyak hal. Softskill dan hardskill kita bener-bener diasah. Dan yang pasti magang di Setneg bukan sekedar magang “fotocopy” berkas-berkas, ya. Selain bisa belajar banyak hal, aku sendiri juga bisa dipertemukan dengan orang-orang yang menginspirasi. Pokoknya gak bakal nyesel!

Nah, sekian ya, ulasan singkat tentang magang di Kemensetnegnya. Please leave a comment if you want to ask anything. Thank you for reading!

Iklan

Di Halte, Kita..

Di halte ada kursi dan jarak jarak antara kita

Bus kuning enggan cepat-cepat tiba dan

Kita pun saling tunggu di tengah termangu

ditemani mendung-mendungsepertisendu

lalu Geludug menggerutu, sepertitidakrestu

diam-diam mata kita bersudut-sudut, namun

Bus sudah muncul!

Kita pun ditelan sepatu-sepatu yang naik turun

16.25.

Ketika menunggu Bus Kuning di Halte FH UI

An Apology to All Classmates

Hello, guys. I don’t know if you reading this or not, but I just want to say something that I just realized these days that I just have to:

I’M DEEPLY SORRY.

Yes, I finally said that.  Maybe some of you don’t understand or the reason why I do this, but I’m saying to all of you whose hearts have been irritated or hurt due to all my “bitchiness” after three years we have been together. Yes, you, 2014 Eng Dept students.

I know I’ve never been a good classmate to all of you. I was too serious, rigid, and nerd most of the time. Sometimes, I did face threatening act to you (unconsciously and consciously). I asked too much question in the class. Or maybe some of you think that I’m too active in the class in order to get an  A every time. Lanjutkan membaca An Apology to All Classmates

Anak Ambis, Katanya?

“Anak Ambis!” pekik orang-orang bertaburan di kepalaku.

Ada satu kata dalam kamusku yang mengalami degradasi makna: Ambisius.

Ambisius pada dasarnya bermakna netral. Tidak ada konotasi apa pun pada kata itu awalnya. Namun, setelah menginjak bangku kuliah kata itu terkesan satirik. Bahkan begitu mengintimidasi di daun telinga. Memekakkan telinga ketika terlalu lama di dengar. Pada akhirnya buatku sedikit muak. Baik pada orang-orang yang menuduhku, dan parahnya diriku sendiri.

Jadi, di sinilah aku. Di ambang krisis identitas yang merasuk di tiap aliran darah sampai sinapsis di otak. Mencari-caro jati diri karena tidak terima oleh label yang begitu mengintimidasi hingga aku akhirnya hilang kepercayaan diri. Mungkin depresi hingga rasanya hanya ingin makan mie setiap hari.

Apa hubungannya? Aku tidak tahu. Karena segalanya tidak jelas dan mengabur seperti pandangan mataku dengan 1.5 dan 1.75 dioptri miopi.

Apa itu anak ambis? Lanjutkan membaca Anak Ambis, Katanya?

Balada Kue Cucur

suatu pagi aku berangkat kuliah pukul setengah 8 dari kosan. Aku memutuskan untuk tidak sarapan, tapi ingin membeli jajanan basah di ibu-ibu yang biasa menjual nasi uduk dan kue basah masih dekat dengan rumah kosku. Sebut saja Ibu Gorengan (karena beliau jual banyak gorengan juga).

Kue favoritku diantara kue-kue buatan si Ibu  adalah kue cucur. Kalau kau tidak tahu kue cucur, kue cucur itu berbentuk ceper oval dibuat dari tepung beras, gula merah, dan telur. Saat itu ada mahasiswa mengenakan baju himpunan jurusan teknik juga sedang memilih-milih kue yang akan dia masukan ke kantong plastik.

Aku mencari-cari kue cucur favoritku, namun nihil.

“Kue cucurnya gak ada ya, Bu?”

“Oiya, Neng, tuh satu lagi sama si Aa-nya.” katanya menunjuk mahasiswa yang kusebut tadi. Aku lihat satu buah kue cucur sudah dikantonginya.

“Ohh.”

Kecewa. Aku sangat ngidam kue cucur saat itu. Lalu aku melihat kue yang ada walaupun masih bingung ingin beli apa.

Namun, tiba-tiba si laki-laki itu mengeluarkan kue cucurnya dari kantong plastik. Dengan tangannya sendiri! Lalu menyodorkannya padaku, “Mau?” katanya dengan wajah yang polos.

Astaga.

Manis sekali.

Aku menggeleng sambil tertawa. Masih setengah kaget sebenarnya, “Jangan, gak boleh gitu.” kataku.


Aku pikir semua laki-laki itu menyebalkan, namun pada hari itu, aku membuat pengecualian.

Note: Omong-omong ini bukannya naksir atau apa. Tapi laki-laki itu sudah merubah perspektifku tentang “Laki-laki” yang selama ini kupandang negatif.

Beberapa minggu kemudian aku main ke Fakultas Teknik dan tahu bahwa baju jurusan yang dipakainya waktu itu adalah jurusan Teknik Sipil. Semoga lancar kuliahmu ya, Dek.

Meningkatkan Kepercayaan Diri Anak Melalui Pembelajaran Kreatif

 

 

oleh Shafira Linda

Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya

 

Remaja dan anak-anak adalah harapan sekaligus tunas bangsa untuk menjadikan negara kesatuan Republik Indonesia maju. Dalam tahap-tahap seperti ini, pembentukan kepribadian dan jati diri anak sedang berkembang. Menurut Dewi Masithoh dalam karya akhir yang berjudul Upaya Meningkatkan Rasa Percaya Diri Pada Peserta Didik Dengan Unjuk Diri Menggunakan Media Pop Up Book, kepribadian, kemampuan bersosialisasi, dan kecerdasan bersumber dari rasa percaya diri. Minimnya rasa percaya diri pada anak akan menghambat perkembangan anak itu sendiri. Sebagai mahasiswa dari ilmu humaniora yang erat kaitannya dengan sastra dan budaya, saya percaya bahwa kepercayaan diri anak dapat ditingkatkan melalui pembelajaran kreatif dengan menyisipkan kesenian dalam pembelajaran.

Kampung Ciomas berlokasi di Desa Sindangsari, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Desa yang memiliki tujuh kampung ini mempunyai dua sekolah dasar negeri dan satu madrasah tsanawiyah swasta, yaitu SDN 01 dan 02 Sindangsari serta MTs Al-Muawanah. Mayoritas anak-anak dan remaja dari kampung Ciomas bersekolah di SDN 02 Sindangsari dan MTs Al-Muawanah. Lanjutkan membaca Meningkatkan Kepercayaan Diri Anak Melalui Pembelajaran Kreatif

Sepanjang Jalan Kukusan Teknik

Daerah ini sebetulnya bukanlah resmi bernama Kukusan Teknik, namun begitulah orang-orang menyebutnya karena daerah ini dekat dengan Fakultas Teknik UI.

Sudah dua tahun aku tinggal di daerah kos-kosan ini. Pulang-pergi tak ada bosannya jalan kaki dari rumah kos ke kampus lalu sebaliknya. Entah kenapa hari ini aku melihat daerah yang biasa disebut “Kutek” dari sisi yang berbeda dari sebelumnya.

Kau tahu, dalam hidup terkadang kita sering “take for granted” sekeliling kita, terutama hal-hal trivial yang terkadang dianggap tidak penting. Biasanya kita baru menyadari bahwa sesuatu bisa berarti bagi diri kita adalah ketika kita merasakan kehilangan.

Dalam hidupku, aku berusaha meminimalisir kejadian itu.

Pagi ini aku berangkat ke kampus pukul 7.45, sudah terhitung telat sebenarnya mengingatku belum sarapan. Akhirnya aku hanya membeli roti dan susu kotak sambil menyantapnya di jalan (jangan ditiru ya). Mas-mas penjaga warung yang sudah biasa melihatku selalu tahu aku sedang buru-buru dan hanya menggeleng-geleng sambil tersenyum melihat kebiasaanku yang suka telat di pagi hari. Jarak dari kosku ke kampus FIB bisa ditempuh 15 menit jalan kaki. Tidak terlalu jauh bagi yang terbiasa jalan kaki. Walaupun mas-mas ojek dekat rumah kosku menawarkan jasanya, aku terpaksa menolak karena sedang irit akhir bulan ini.

Kutek di pagi hari belum terlalu kentara kehidupannya. Warung makan- warung makan sepanjang jalan masih tutup. Hanya beberapa toko kelontong yang buka dan penjual nasi uduk yang sudah aktif berjualan. Lanjutkan membaca Sepanjang Jalan Kukusan Teknik

Perempuan, Percakapan, dan Kamu

Minggu lalu aku menghadiri kelas Sosiolinguistik dengan topik mengenai bahasa dan gender.

Para sosiolinguistik mengatakan bahwa perempuan adalah si subordinate ketika mereka melakukan percakapan dengan para pria.

Sontak aku mengerutkan keningku dalam. Tidak setuju.

Namun, aku ingat percakapanku denganmu.

Ketika kamu yang mendominasi.

Ketika aku diam, dan kau menertawakan.

Ketika aku bercakap banyak, namun kau memandangku seperti itu.

Lalu aku ciut.

Pada akhirnya aku mengakui inferioritas diriku terhadapmu.

Namun aku tetap tidak suka dengan fakta bahwa perempuan adalah “second sex.”

 

Tapi aku akan selalu ingat perkataan dosenku yang berkata, “Alasan mengapa Hawa diciptakan adalah karena Adam tidak bisa hidup sendirian.”

Lalu, akhirnya aku berkesimpulan bahwa kita.. perempuan dan laki-laki adalah dua hal yang komplementer. Seharusnya maskulinitas dan feminitas berada di garis yang setara.

Say Yes to Rural-centric Development

(This is my essay for academic writing assignment. Although it’s still revised I got a very well grade LOL. It is just an example of a simple academic essay, hope it will be helpful!)

                 Recently, Indonesia has made many developments, especially the infrastructure development in the urban area. Mr. Joko Widodo, the president of Indonesia, has proposed many infrastructure developments since 2014. For example, Mass Rapid Transit (MRT) in Jakarta, Rapid Transit Train in Bandung, and the longest Cikopo-Palimanan highway. However, most of the developments that have been realized only focus on the cities and its surroundings. Consequently, the discrepancy between the urban area and the rural area is inevitable. In fact, the rural area, instead of the urban area, needs significant development in terms of economy, education, and infrastructure.

In the first place, the rural-centric development can decrease the number of urbanization that has been exploded lately.  By the decrease of urban population, cities would not be crowded, and the slum area in the cities could thin out gradually. Moreover, this can cause the decline of economic discrepancy between the cities and the villages. According to Indonesian Central Bureau of Statistics in 2013, the poor society in the rural areas was higher than the poor society in the cities, with 18.4% lived in the villages and only 8.5% lived in the cities. By developing the villages, especially in education and the economy, villagers would likely to stay in the villages rather than leave it for the cities to remain their welfare. As a result, it will create equal population between the cities and the villages. Lanjutkan membaca Say Yes to Rural-centric Development