Arsip Kategori: HIDUP

hidupku, dia, orangtua, sekelilingku

Midnight Venting

These are those days when my self-esteem falls down as usual in my life pattern.

It is always like this.

I lost my passion. I lost my grip to write again. I lost..myself and the dream within it.

It is the time when I really need someone to hear my vent. My uneasiness. My worriness. My anger. My sadness. Even.. a lil bit happiness from watching some Korean drama episodes. Now, it takes only 2 minutes to 2 a.m. And I miss myself.

When I was busy with activities and my college routines I longed for holiday. To rest myself. To take time for writing any piece that I want to write.However, it was not as I expected back then. Things turned out to be messed. I turned to be messed up.  Lanjutkan membaca Midnight Venting

Untuk Adikku

Dek,

malam ini apakah kamu sudah mengerjakan PR?

apakah kamu ada ujian besok?

apakah kamu bahagia dengan dunia sekolah barumu?

Aku bisa berkata pada “adik-adik”ku lain untuk rajin belajar, tapi mengucapkannya padamu rasanya tak pernah.

Dek,

apa kau mulai suka dengan anak perempuan?

Siapa?

apa kau mulai nakal untuk mengetahui sesuatu yang seharusnya kamu simpan untuk nanti? Lanjutkan membaca Untuk Adikku

Hiper—

Ada saat dimana aku merasa gagap. Merasa bodoh. Merasa payah.

Semua orang pasti pernah.

Mungkin aku selalu merasa bisa. Narsistik kah?

Ah, entahlah.

Ketika aku merasa payah, segeralah aku maki diri. Padahal tidak perlu—

Rasanya pandanganku atas kesempurnaan dan segala sesuatu yang ideal sudah melampaui garis, lalu..

akhirnya ku mati kutu

Hiper-sensorik,

Hyper-speculation,

Ah, tuhkan!

Aku harus banyak belajar—

Let’s be Humanized!

Everything seems different in the third term in college. In this term, I learnt a lot about life lessons during the lectures. Because I was majoring science when I was in high school, I had never learnt about human studies, such as sociology or anthropology. However, now, I study culture, literature, and philosophy. Of course, it is because I’m a student of faculty of humanities. Somehow, by attending so many lectures that I took for this term, I began to think reflectively about us as human. Then one question appear: Are we machines or humans?

I’ve been wondering about this issue during this term. Maybe this is not what people think or most of students think these days, but suddenly the question appear in the middle of Research Methods class. The lecturer, Mr.Junaedi, said that we are modern people. We want everything fast, we want everything instant, we want do things with less effort, and we want to make everything to be practical and efficient. In addition, we also spend more time in the outdoor rather than in our houses. Now, we are busy with ourselves and pay less attention to our families. What do you think? Are those represents you?

For me, I am. Home is not like home anymore. Nowadays, home is just a dwelling not a house. Look at the apartments that are built around us. Houses are replaced by simple compartments whose price are high. Less windows, no terrace, no backyard, functional design, and all the elements of a house seem decreased.

Inevitable, in this millennium era invented technology becomes part of our life. Indirectly, internet and smartphones are our ‘God’ in everyday life. Most of modern people use smartphone to communicate and make our job done faster. In addition, there are many applications, such as social media and games are invented. However, those applications —unconsciously— are distracting us. For example, some people tend to care their cyber life rather than their real life. The more we get in touch in Internet make us isolated. As a result, we are likely to be machines without feeling. Like robots, even zombies.

By writing this journal, I don’t mean to preach or teach. I know that we as humans both have flaws and beauty in the same time.  Overall, I just want to say: Let’s be humanized!

Pertengahan Semester 3

Halooo para pembaca dan mahasiswa sastra sejagat raya yang luar biasa!

Sudah lama hilang dari peradaban akhirnya bisa menulis lagi. Gue mau cerita tentang pengalaman-pengalaman di pertengahan semester yang hectic ini. Pertama, UTS?? Uts hanya mitos tapi bisa dimasukin ke IP lo. See? UTS cuma mitos.

Sebenernya itu buat ngehibur diri gue aja karena uts kali ini, gue gak tau nasib gue bakal gimana. Ada yang bener-bener maksimal gue usahain, ada juga yang engga, ada juga yang salah strategi, pokoknya banyak. Jangan deh males belajar, karena lo pasti bakal nyesel di akhir. Dan itu merupakan rasa sesal gue terbesal seumur hidup. Lebay ya?Tapi serius, gue nyesel banget karena gue gak belajar bener-bener akhirnya gua pun ga puas ngerjainnya, soal masalah hasil gue serahin ke Allah SWT yang maha Kuasa.  Lanjutkan membaca Pertengahan Semester 3

Nyesel Masuk Sastra? Bego.

Sori, mungkin judul post di atas memang agak kasar. Tapi setelah gue mengendap disini, sang FIB UI tercinta, gue sadar bahwa gue gak pernah nyesel masuk sastra. Mungkin beberapa orang bilang ini cuma bualan belaka. Tapi engga lho. Justru orang-orang yang masih berpikir bahwa kuliah di sastra itu ga ada gunanya atau ga ada prospek bagus ke depannya.

Mungkin emang, kuliah di sastra gak selalu bikin lo kaya. Tetapi ya itu pilihan hidup, karena hakikatnya kebahagiaan bukan hanya soal duit. Contohnya tante gue, kuliah di ekonomi, merangkak dari bawah dulu emang, dan sampe akhirnya beliau jadi Key Account Manager di salah satu perusahaan multinasional di Indonesia. Gajinya? Jangan tanya, banyak  yang pasti. Tapi setiap orang punya kelemahan dan kekurangan. Gue dan keluarga gue mungkin gapunya pemasukan yang setinggi beliau, tapi gue sekeluarga masih sederhana dan bersyukur. Tapi kalo masalah kebahagiaan? Cuma gue dan Allah yang tau. Lanjutkan membaca Nyesel Masuk Sastra? Bego.

Menjadi Mahasiswa Tingkat 2 #CatatanAnakSastra

Singkatnya, setelah liburan 2 bulan yang tidak ada habisnya itu, aku kembali menjalani rutinitasku. Kuliah.

Gila, pikirku. Aku sekarang sudah menjadi mahasiswa tingkat 2 alias sophomore! Setelah mengatasi masalah SIAK (Sistem Akademik di UI) yang terus menerus menghantui, akhirnya IRS (Isian Rencana Studi) ku pun disetujui. Omong, omong aku ganti lagi nama blog ini menjadi Catatan Anak Sastra. Mungkin aku memang tidak konsisten. Entah kenapa, reasanya blog ini memang perlu di ‘revitalisasi’ kemana arah tulisan ini akan bertuju.

Hari pertama menjadi mahasiswa tingkat 2 rasanya memang banyak yang berubah. Kelas baru, pergaulan baru, dosen baru, mata kuliah baru, dan strategi baru. Awalnya aku takut, entah kenapa hanya takut saja, karena aku selalu dibayang-bayangi oleh IP. Padahal sebenarnya orangtua ku tidak menargetkan apa-apa, tapi ini karena beasiswa yang aku dapatkan rasanya ‘menuntut’ku untuk mendapatkan lebih dan fokus kepada kuliah ketimbang kegiatan-kegiatan asik di luar akademis. Sedih? Tidak, sih. Cuma bingung.

Aku bingung harus mulai darimana, harus membuat rencana apa, well ini karena aku tipe orang yang terstruktur jadi memang urusanku dengan diriku sendiri sedikit rumit. Aku mulai membaca buku-buku referensi tentang college life, membuat target,mengatur prioritas, dan hal-hal mengenai kemahasiswaan. Ini agak telat sebenarnya, seharusnya aku sudah baca buku-buku seprti ini sejak tingkat 1 lalu. But, late is better than not at all, right? Lanjutkan membaca Menjadi Mahasiswa Tingkat 2 #CatatanAnakSastra

Pilihan di atas Pertaruhan

Kita.. dilahirkan untuk memilih.

Bukan hidup adalah pilihan.

Hidup mempunyai berbagai macam bentuk. Kitalah yang memilih bagaimana untuk hidup. Bukan sebaliknya.

Beragam orang punya masing-masing pilihannya sendiri. Seseorang lebih memilih cinta pada manusia. Seorang lainnya memilih cinta kepada Tuhan. Ada lagi yang memilih karir. Orangtua. Lanjutkan membaca Pilihan di atas Pertaruhan

Ketika Aku Duduk di…

Ketika aku duduk di bangku SD,
aku senang bermain-main di sekitar rumah.
Masa kecilku habis seiring teman yang hilang dari peradaban

Ketika aku duduk di bangku SMP,
aku senang jalan-jalan sendirian.
Trotoar, toko buku, restoran makan cepat saji.
Waktu itu aku tak punya teman.

Ketika aku duduk di bangku SMA,
aku tidak senang jalan-jalan.
Tapi sesekali menemukan tempat istimewa dengan orang satu itu
Hujan, Sungai, Bukit
Berakhir di Taman

Sekarang, aku duduk di bangku universitas,
aku senang jalan-jalan sendiri lagi
Bogor, Depok, Jakarta
aku bukan tidak punya teman,
Hanya punya Tuhan

Surat untuk Kugy (Agen Neptunus Yang Katanya Sudah Pensiun)

Dear Kugy Karmachameleon,

Tadi malam sahabatku memintaku untuk menulis surat padamu. Semalam, ia menonton film tentangmu, Gy. Katanya, ia kangen jadi agen Neptunus lagi. Dia bilang dia sudah menulis surat pada Neptunus kalau dia sudah pensiun jadi agen Neptunus sejak lama. Tentu saja aku tidak tahu, aku Cuma menyampaikan saja.

Kembali, ia menemukan sisa-sia perahu kertas yang tidak ia hanyutkan. Lucu membacanya. Seperti anak kecil, polos, dan bebas kata-kata di surat itu terdengar. Dia ingat, ketika menulis dengan spidol berwarna berbeda yang menentukan suasana hatinya ketika menulis perahu kertas itu. Tidak ada tanggal atau tahun atau bulan atau hari. Ia juga lupa kapan menuliskan surat-surat itu. Entah satu tahun lalu atau dua tahun lalu. Masa-masa confetti katanya. Dulu, hidupnya seperti confetti yang beragam warna. Mulai dari warna gelap sampai terang, rasanya berjalan begitu cepat. Lanjutkan membaca Surat untuk Kugy (Agen Neptunus Yang Katanya Sudah Pensiun)