Arsip Kategori: poem

Realita di Ibu Kota

realita dan Ibu Kota terkadang menjadi dua wajah hipokrit

kelas kelas dimana-mana di tepi jalan

Pengamen jalanan, tukang sapu jalan, supir ojek online,

korporat perusahaan dan pemerintah hingga budak-budaknya

lukisan Marx yang penuh warna

Indah, kah?

 

Di antara mereka ada sebuah kelas di antara

yang berusaha menggapai mimpi-mimpinya

menjadi kelas paling atas dalam tatanan rantai makanan Ibu Kota

 

Ketika ditengok sosial medianya mereka tidak hanya naik tangga,

tapi bersolek pamer pamor di ranah dunia maya

seolah sukses digambarkan oleh ratusan keping potret semata

Apa Itu Aku? (Inspired by MRP)

seonggok daging berumur seperlima abad

dalam balutan epidermi yang bertanya

tentang eksistensi diri sang keparat—menyusup di

antara nadi yang bersilangan hingga

ke pati

 

apa?

apa itu aku?

ku tusuk-tusuktanya itu hingga

darah mengucur turun mengusik sinapsis saraf di sela

hasta dan karpal

 

molekul-molekul itu, mungkin hemoglobin

atau buku sketsa, sepeda, abakus canggih, dan warna hitam

 

Ah, itu aku.

Senjata, Ku Mencari

kucari-cari

sesuatu tajam bernama senjata

yang bisa cabik-cabik manusia

pemerintah kota

kalau bisa dunia!

bisa pula jadi hak-ku berbicara

 

kugali-gali di bumi manusia yang semakin sesak penuh senjata

Jika tentara punya senjata mengapa aku tidak?

Jika dokter punya  pisau bedah mengapa aku tidak?

 

ku putar-putari bumi, lagi

lagi dan seribu lagi ku berani

 

Lalu, tertohok aku, bahwa senjata itu selama ini ada:

kau adalah aksara.

 

Bedebah di Darahku

Ayah

Hanya buat naik darah

Menimbun luka-luka parah yang

Memendam amarah ketika

tekad sudah lelah

 

Apa itu Ayah?

 

Aku tidak punya.

 

Mungkin seorang ayah mendapatkan anak lebih mudah ketimbang

anak menemukan seorang Ayah yang sah

 

Punya pun aku tidak pernah,

apa itu Ayah?

 

Di hatiku yang paling kecil kau hanya bedebah.

Berpuisi Aku

Larik-larik ku tarik

dari pikirku yang panik,

yang rindu, yang geram,

dan..

yang cinta kepadamu

 

Temanku bilang galauku hobi,

Definisi itu bergeser tiap detik masa kini

Neologisme akut menjangkit kami,

kita

generasi X,Y,Z

 

lalu segalanya terasa buram

abu-abu, antara benar-salah,

antara baik-kejam

 

Apalah aku, yang hanya bisa berpuisi

dari pikirku yang panik,

yang rindu, yang geram,

dan..

yang cinta kepadamu

 

 

Ada yang Hilang dari Ibu Kota

Aku, turun dari mobil

Parkiran sesak, Mall–

juga sesak, manusia–

memerhati dalam diam

sambil berjalan

tap-tap-tap

lalu yang lain,

tap-TAP-tap-TAP

ada lagi,

tuk-TUK-tuk-TUK

ah, sepatu-sepatu itu

 

kulihat ke gerai disamping, berlimpahan bandrol

6 digit angka, dan lebih

 

Lalu melangkahku ke satu resto,

nasi goreng 5 kali empat digit

ku lahap, hap,hap

akhirnya jatuh di perut juga

 

Lalu, aku teringat, dengan anak-anak di sana

seketika aku rindu,

kesederhanaan yang hilang dari wajah ibu kota

aku ingin itu

 

Tangan tak terlihat—kata Adam Smith

dan seketika aku kerasukan Marx

kelas, kelas, kelas…