Arsip Kategori: Poetry

Nowhereland

Where am I?

I see no sign or traffic light

Desert nor Ocean

the Moon nor the Sun

 

Where am I?

where nothingness persists and

the Light no longer appears

 

am I to cease?

 

 

 

Iklan

Debat Martabak

Sore itu kita berteriak sampai serak

di pelataran jalan ketika menunggu martabak masak

mungkin kala itu adalah adegan kocak

hingga aku ingin terbahak

sampai sesak

 

percakapan bahasa Inggris kita jadi tontonan anak-anak

mereka megap-megap sambil mendongak

 

di antara sengitnya kita berdebat

entah kenapa hatiku semarak

walau ku terduduk di kursi belakang, dalam diam

hatiku mencak-mencak!

 

N.B: Tolonglah berhenti jadi Dilanku yang baru.

Aku mungkin bukan Milea, tapi satu Dilan saja sudah cukup buatku sendu.

“Aku sudah di depan pintu,” katamu

pagi-pagi sekali aku
meleleh bersama doa di hari Rabu
bertanya mengapa dilahirkan hidup oleh Ibu
lalu kau tiba-tiba sudah ada di depan pintu
mengetuk lewat jari-jarimu

Aku sudah berjanji untuk kembalikan buku
Niatnya ada satu cerita yang ingin ku katakan padamu;
namun setelah kita bertemu, senduku hanya sambil lalu
aku pun tidak tahu mengapa begitu
senyum-senyum menyusul, tak jadi ceritaku

Namun, puisiku seperti baru.

​pagi ini aku lihat pamflet 

seorang ayah hilang

kabarnya beliau alzheimer ringan

ratusan komentar mulai bertebaran

tanya dan jawab bersahutan

tapi aku satu-satunya yang bilang:

Aku juga ingin Ayah hilang dan tak pernah pulang.
A|A