Arsip Kategori: Sastra

Kepada Rumah

Mah,

aku cuma ingin pulang,

dan menyantap masakan yang

sudah matang di meja makan

tak ada binatang jalang,

sentakan, atau kehadiran manusia garang

di ruang makan.

 

Aku cuma ingin pulang,

bermain dengan adik tersayang

 

Iklan

Untuk Pemuda Millenial

Apa itu raga, kalau hanya diam saja

Malas gerak jadi alasan.

Apa itu akal, kalau dipendam tak dibagikan

Sibuk jadi alasan.

 

Lelah, katamu?

 

Apa kata pemuda-pemuda yang berdarah yang kembali ke tanah

pada masa invasi para bedebah yang serakah

rebut rempah-rempah

 

Jika mereka tanya apa jasamu untuk bangsa, hendak kau sahut apa?

 

Kerjamu hanya leha-leha!

 

—Bacot katamu?

Terserah!

 

Aku memang sedang marah!!

Senjata, Ku Mencari

kucari-cari

sesuatu tajam bernama senjata

yang bisa cabik-cabik manusia

pemerintah kota

kalau bisa dunia!

bisa pula jadi hak-ku berbicara

 

kugali-gali di bumi manusia yang semakin sesak penuh senjata

Jika tentara punya senjata mengapa aku tidak?

Jika dokter punya  pisau bedah mengapa aku tidak?

 

ku putar-putari bumi, lagi

lagi dan seribu lagi ku berani

 

Lalu, tertohok aku, bahwa senjata itu selama ini ada:

kau adalah aksara.

 

Bedebah di Darahku

Ayah

Hanya buat naik darah

Menimbun luka-luka parah yang

Memendam amarah ketika

tekad sudah lelah

 

Apa itu Ayah?

 

Aku tidak punya.

 

Mungkin seorang ayah mendapatkan anak lebih mudah ketimbang

anak menemukan seorang Ayah yang sah

 

Punya pun aku tidak pernah,

apa itu Ayah?

 

Di hatiku yang paling kecil kau hanya bedebah.