Arsip Kategori: sastra

Untuk Pemuda Millenial

Apa itu raga, kalau hanya diam saja

Malas gerak jadi alasan.

Apa itu akal, kalau dipendam tak dibagikan

Sibuk jadi alasan.

 

Lelah, katamu?

 

Apa kata pemuda-pemuda yang berdarah yang kembali ke tanah

pada masa invasi para bedebah yang serakah

rebut rempah-rempah

 

Jika mereka tanya apa jasamu untuk bangsa, hendak kau sahut apa?

 

Kerjamu hanya leha-leha!

 

—Bacot katamu?

Terserah!

 

Aku memang sedang marah!!

Senjata, Ku Mencari

kucari-cari

sesuatu tajam bernama senjata

yang bisa cabik-cabik manusia

pemerintah kota

kalau bisa dunia!

bisa pula jadi hak-ku berbicara

 

kugali-gali di bumi manusia yang semakin sesak penuh senjata

Jika tentara punya senjata mengapa aku tidak?

Jika dokter punya  pisau bedah mengapa aku tidak?

 

ku putar-putari bumi, lagi

lagi dan seribu lagi ku berani

 

Lalu, tertohok aku, bahwa senjata itu selama ini ada:

kau adalah aksara.

 

Bedebah di Darahku

Ayah

Hanya buat naik darah

Menimbun luka-luka parah yang

Memendam amarah ketika

tekad sudah lelah

 

Apa itu Ayah?

 

Aku tidak punya.

 

Mungkin seorang ayah mendapatkan anak lebih mudah ketimbang

anak menemukan seorang Ayah yang sah

 

Punya pun aku tidak pernah,

apa itu Ayah?

 

Di hatiku yang paling kecil kau hanya bedebah.

Hey, please-please-please

Hey, starry night,

what is that from your light,

brings tons of memories so bright

from here, million years our distance apart, but I’m missing you so right

As if the sun injects her light to my heart, jumping wild and wacky

like the iambic metre tolling my breast

DUM-di-DUM-di-DUM-di-DUM—

 

O Night,

Please, please, please

don’t fly away

O stars,

Please, please, please

Tell ’em, people I love, to feel

this funny feeling called happiness

Berpuisi Aku

Larik-larik ku tarik

dari pikirku yang panik,

yang rindu, yang geram,

dan..

yang cinta kepadamu

 

Temanku bilang galauku hobi,

Definisi itu bergeser tiap detik masa kini

Neologisme akut menjangkit kami,

kita

generasi X,Y,Z

 

lalu segalanya terasa buram

abu-abu, antara benar-salah,

antara baik-kejam

 

Apalah aku, yang hanya bisa berpuisi

dari pikirku yang panik,

yang rindu, yang geram,

dan..

yang cinta kepadamu

 

 

Cicak di Dindingmu

di sudut kau terduduk

sepuluh bangku kita berjarak

kau tenggelam dalam earphone-mu

aku pun,

menelisikmu dari sini.

Aku lebih suka, kau yang ku lihat dari sini

 

Kau seperti gunung Semeru, Bung.

Kegagahanmu tampak utuh dari jauh,

kalau ku mendekat,

kau terjal. Penuh misteri.

buatku takut.

 

biarlah aku duduk disini.

menunggumu pergi, lalu di pagi hari melihatmu kembali ke sudut itu.

Menjadi cicak di dinding yang tak pernah kau sadari.