Arsip Kategori: Story (fiction)

Hari-hari berganti

Hari-hari berganti. Rasanya waktuku semakin menipis. Aku masih duduk di bangku ini. Melihat orang-orang yang perlahan pergi. Kapankah aku pergi? Bekal yang kubuat belum penuh tuk memenuhi kepergianku nanti.

Hari-hari berganti. Menulis membuatku pusing. Sesuatu yang pernah kucintai tapi sekarang mati. Tidak mati. Hanya ku benci. Aku ingin pergi. Aku ingin pergi.

Dalam doa setiap pagi yang kusisipkan dalam hati, ya Tuhan kapankah ku pergi? Ku merasa bodoh, tak punya apapun tuk di genggam. Ku malas. Ku resah. Terdistraksi oleh budaya sosialisme yang sedang gempar akhir-akhir ini. Padahal hanya niat tuk membaur dengan kawan tapi membuat adiksi. Lanjutkan membaca Hari-hari berganti

Iklan

Perahu Arif Adnil

Arif tidak sadar ia tengah membuat origami perahu kertas. Menunggu hujan reda membuatnya penat sesaat. Lalu, salah satu temannya memanggil.
“Arif!”

Arif menoleh, senyumnya tiba-tiba mengembang. Orang itu berdiri di samping Arif, menghadap ke arah yang sama.

Arif memandang seseorang itu lama, sampai orang itu bersuara. “Perahu kertas, ya?” Arif melirik benda yang ada di tangan kanannya lalu mengangguk.

“Jangan pernah berikan itu padaku, ya?” Nadanya tidak terdengar seperti orang yang terlalu percaya diri, tetapi lebih terdengar seperti permohonan. Alis Arif terangkat ketika orang itu tersenyum pahit.

“Dulu, seseorang memberikanku origami perahu kertas. Tak lama, ia menghilang, pergi entah kemana.”

FOTO(s)

Jariku terhenti ketika kursor mengarah pada 3 foto itu. Aku tidak tahu mengapa foto itu masih ada. Dan.. ada di laptopnya. Saya tidak sadar bahwa foto itu memang seperti itu. Segalanya tampak jelas. Mengapa dulu aku sebodoh itu??

Oh, tidak.

Ada rasa yang menyelip ingin keluar. Tidak, tidak terulang. Hanya terbesit sementara. Ini mulai tidak normal. Setahuku foto itu diambil hampir dua tahun lalu. Tapi apa-apaan reaksi ini? Tidak lucu.

Aku telah menyingkirkannya. Tetapi ketika ku kembali, nyatanya masih ada serpihan tajam dalam sini. Aku hanya bisa berharap, bisakah kali ini kita tidak bertemu lagi?

Aku ingin muntah.

Tidak di manapun. Manusia senang sandiwara.

Tidakkah aku pun begitu?

Kutipan London Bridge setelah nganggur 2 tahun

Thal. Thaliza Greilynn hampir gila karena hidupnya semakin aneh. Entahlah, penyakitnya ini membuat dirinya mempertanyakan hal yang  ia tidak tahu apa yang harus dipertanyakan. Tentang Cal..cal, ah siapa itulah, lalu tentang kejadian di Jepang, dan paparazzi yang ternyata mengetahui identitasnya. Astaga, apa yang harus ia lakukan?

***

Cal menyingkapkan tirai apartemennya dan melihat ke bawah. Ia bisa melihat lobby Starlight Start penuh dengan paparazzi yang ingin ‘memburunya’. Semua orang mempertanyakan kecelakaan lift di Tokyo, apalagi nama perempuan bernama Thaliza disebut-sebut. Ya Tuhan, pun dirinya tidak tahu apa-apa. Sama sekali. Drew mengatakan dirinya mengalami amnesia, tapi Cal masih tetap tidak mempercayainya. Pertama kali dalam hidupnya, Cal ingin pergi dari kehidupan menjadi orang terkenal.

 

*Nah, London Bridgenya mau lanjut lagi. Ya ampun, Alhamdulillah tangan ini dengan ajaibnya bisa menuangkan pikiran tentang draft ini. Can’t wait for finishing it!*

Sebuah Kaset Berpita Kusut

Gadis itu termenung di dalam kamarnya. Di tengah tumpukan kertas-kertas yang mengelilinginya. Astaga.. lelah sangat. Di tambah lagi melihat goresan-goresan tak familiar di kertas-kertas itu. Ia menghela napas berat. Menyandarkan dirinya pada dinding mengubah posisi duduknya.

Di earphone nya saat ini tengah terputar sebuah lagu yang ia sukai sekaligus tidak. Lucu memang. Ia memejamkan matanya sekadar menenangkan diri dan mencari mood baik kembali. Tetapi yang ia tidak menemukannya. Yang ia temukan hanya sebuah kaset yang berpita kusut membentuk sebuah bentuk abstrak. Ia pikir kaset itu rusak. Tetapi ternyata tidak, perlahan ia menggulung pita kaset itu seperti sedia kala. Kaset itu menjadi berfungsi kembali.

Hal yang bodoh yang tlah ia lakukan adalah memutar kaset itu kembali di dalam otaknya. Seharusnya kaset itu ia simpan dalam sebuah kotak. Tapi ternyata ia sulit menghentikan diri sendiri.
Meleleh. Ya, air mata yang telah ia simpan rapat-rapat meleleh tak bersisa.

#MENCARIMU – selesai

Aku menemukannya. Kau sedang duduk dihalte bis yang penuh di sebrang sana.

Ada tetes air hujan bercampur keringat di dahimu. Kau sesekali mengibaskan rambutmu yang tergerai panjang. Kau juga memberikan tempat duduk bagi seorang nenek dan tersenyum ramah kepadanya. Astaga.. sudah berapa lama aku tidak melihat senyum seperti itu?

Aku masih berdiri di tengah hujan yang deras mengguyur kota ini. Beberapa orang memakai payung melirikku aneh karena berdiri tanpa jas hujan atau payung di tengah hujan deras hanya sekedar menatap ke halte bus sebrang. Aku tak menghiraukannya. Sekalipun petir menyambarku,  aku tak akan menghiraukannya. Aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan yang tidak akan datang dua kali. Melihatmu, memandang mu, menatap senyummu dan segala gerak gerikmu. Itu sudah cukup.

Akhirnya aku menemukanmu, Fania.

Lalu, entah angin apa kau menatap ke arah sebrangmu. Kau memandang ke arahku. Lalu aku tersenyum melambaikan tangan. Dan seketika bus datang dan melenyapkanmu.

Ia dan Bintang Harapan

Ia terus berjalan cepat. Mengejar sesuatu yang tak berguna. Untuk apa mengejar sesuatu yang terus menjauh?

Ia hanya memiliki keyakinan. Tekad. Keberanian. Dan.. setitik harapan. Karena setitik harapan lebih efektif dibandingkan lautan harapan. Tiba-tiba ia terjatuh. Sulit rasanya untuk bangkit. Tapi, tekadnya melebihi segalanya. Bahkan, ia berlari sekuat tenaga. Tak peduli batas kemampuan dirinya sampai mana.

Ia hanya butuh pengorbanan, dan sedikit keberanian lagi. Sesaat lagi, ia pasti akan mendapatkan satu bintang itu.

Bintang harapannya.

MENEMUKANMU #2

Kali ini.. dengan ide Giya yang cukup gila itu Gadha terpaksa melakukannya. Ya, ia sekarang berada di Kampus dimana Giya kuliah. Dan.. Giya berjanji akan menunjukan orang yang bernama Fania Fitria Maria. Orang selalu dicari Gadha sejak kelas 3 SMP.

Fania waktu itu menjabat sebagai ketua murid dikelas. Ghada yang saat itu pendiam dan tidak peduli pada kegiatan-kegiatan kelas yang menurutnya tidak penting selalu saja menyendiri. Sampai saat..
“Binarta,”
Lanjutkan membaca MENEMUKANMU #2