Arsip Kategori: Story (real)

Teruntuk Teman Lamanya si Firalinda

Halo.

Hai.

Sudah menunggu ya?

Ketika aku bertanya padamu apakah aku masih sahabatmu, aku tidak berharap apa pun. Tak ada yang terlintas. Karena aku sudah pernah merasakan dicampakkan dan dibuang. Kasarnya sih begitu.

Mungkin.. apa ya yang tepat? Aku juga tidak tahu. Mungkin, kau juga tidak tahu. Satu kata, mantra, atau mungkin jalan pintas yang kamu sering ucapkan : “Bingung.” Lanjutkan membaca Teruntuk Teman Lamanya si Firalinda

Sampai kapanpun, aku adalah m anak yang terus  dibayang-bayangi ayah-ibu

Nasib seorang anak lemah yang tak berdaya.

Hanya bisa mengangguk ketika disuruh
Menggeleng, pada akhirnya takluk juga
Lemah..
Tidak tumbuh

Sudah ditumpahkan segala ragam rasa tuk di lahap
Bermula air susu
Berakhir pada sirih

Berhutang sampai mati

Surat untuk Arif Adnil

Hai, Rif. Apa kabar?

 

Akhirnya bisa mengirim surat ini padamu. Aku sedang di kota Bandung. Kota yang banyak cerita dan canda. Kota yang kini sudah berubah, Rif. Kota Bandung udah jadi Paris-nya Jawa lagi sesuai julukannya: Paris van Java.

Sesekali aku keliling kota Bandung, memerhatikan suasana yang berubah. Atmosfernya, hiruk pikuknya, bahkan cuacanya yang bahkan lebih panas dari kota Depok. Walaupun, pagi di kota Bandung masih jauh lebih dingin sih. ^^

Alun-alun kota Bandung kini sudah cantik, Rif. Banyak sekali orang yang datatang Cuma untuk selfie atau groovie. Ramai. Tapi sampah yang berserakan sayangnya masih saja tetap ada. Tempat sampah yang rusak masih ada kok, Rif. Hanya saja..semuanya terlihat baru. Tapi tidak asing. Aku tahu Bandung adalah Rumah.

Oiya, Rif. Ada seorang teman lama yang mengingatkanku pada suatu hal. Dia menjatuhkan jangkarku, Rif. Jangkar yang selama ini bahkan aku abaikan. Nyatanya jangkar itu selalu ada, tersembunyi dibagian lokus otakku paling dalam, dan kali ini kembali ke permukaan. Lanjutkan membaca Surat untuk Arif Adnil

“Betah di Jakarta?”

“Betah di sana?”

“Gimana? Betah di Jakarta?”

Setiap ditanya begitu aku selalu punya dua jawaban, “Bukan di Jakarta, tapi di Depok.” atau “Ya..betah gak betah.”

Pernah ingin menjawab “Betah, kok.” atau “Lumayan, di sana enak.” Tapi pada akhirnya aku tidak pernah mengatakan hal itu. Karena jawaban itu tidak sepenuhnya benar.

Well, terkadang aku merasa hidup sendirian itu menyenangkan. Punya me time sepanjang waktu, tidak di interupsi oleh adik atau orangtua.  Waktu yang kita habiskan adalah untuk diri kita sendiri. Walaupun, tentu saja kangen rumah.

Aku merasa beruntung bisa hidup sendiri setelah aku menduduki bangku kuliah. Menurutku, itu pengalaman tersendiri dibandingkan dengan hidup di rumah orangtua sendiri.

Disini memang cuture shock tak terelakkan bagi para pendatang. Aku pun mengalami hal-hal seperti itu. Untungnya, masih bisa aku atasi sedikit-sedikit. Ini adalah bagian “spesial” yang tidak kita alami di rumah kita sendiri. Merasakan teman kos yang menyebalkan, pergaulan baru yang bebas, selalu memikirkan “Besok, mau makan apa ya?” Ini semua tentu saja tidak mudah.

Untuk itu, tinggal sendirian ternyata tidak selamanya menyenangkan. Harus ada saat dimana kita merindukan rumah dan orang-orang spesial di kampung halaman. Harus ada perasaan bahwa rumah adalah tempat kita untuk pulang dan tidak layak untuk dilupakan. Rumah adalah pintu yang selalu terbuka. Menunggu setia ketika kita mengembara. Rumah adalah harta warisan jiwa. Rumah. Siapapun yang ada di dalamnya telah membentuk kita. Merangkai hidup kita sampai kita berada di tanah yang tak dikenal.

Pulanglah ke rumah.

Maka dari itu aku punya alasan ubtuk menjawab pertanyaan di atas dengan 2 kemungkinan jawaban tersebut. Dengan menjawab seperti itu, aku ingin mengatakan kepada diriku sendiri “Jangan lupakan Rumah.” secara tidak langsung.

Si ‘Kecil’ yang Merasa Kecil

“Berada di tempat tinggi tapi merasa rendah.”

Manusia memang selalu tidak puas. Mereka cenderung menginginkan lebih dari apa yang ia punya. Dan aku salah satunya. Aku merasa tidak puas atas diriku sendiri. Apa kau pernah merasakannya?

Kau tahu rasanya ketika kau telah berusaha yang terbaik tetapi nyatanya ada yang lebih BAIK darimu, bukan? Terkadang kau merasa kecil dan pesimis. Lalu bertanya, apa hebatnya diriku? Hanya amatiran biasa. Well, aku pun merasakannya.

Semangat dirimu yang  tadinya menggebu seketika padam oleh kekalahan atau bahkan kekalahan yang kau buat oleh dirimu sendiri.  Aku pun masih belajar tentang itu. Belajar menerima apa yang aku dapatkan dan mensyukuri segala yang aku dapat. Terkadang aku juga sadar bahwa nikmat Tuhan sangatlah luas dan berlimpah. Tapi di saat aku merasa kalah, aku merasa kecil.  Ya, aku memang ‘kecil’ tapi kali ini berbeda.

Namun, pada akhirnya aku belajar tentang lapang dada. Menjadi kecil tidaklah terlalu buruk karena kita bisa menjadi apa saja dimulai dari sesuatu yang kecil. Belajar juga seperti itu. Mulai dari hal-hal kecil yang mendasar. Semut juga begitu kecil, tapi mereka bisa membuat sarang yang besar dan mengangkut makanan yang lebih besar daripada mereka. Dan faktanya.. para semut pekerja adalah perempuan! (Aku baru tahu ini ketika di kelas Listening Speaking) Awanya aku pikir menjadi seorang perempuan tidaklah terlalu istimewa, dan bahkan tidak jarang aku bertanya-tanya mengapa aku dilahirkan sebgai seorang perempuan. Tapi nyatanya aku salah. Perempuan adalah makhluk kuat. Baik secara emosional ataupun jasmani.

Lalu, ketika aku merasa kecil lagi aku selalu ingat pada semut-semut pekerja itu, atau para rayap yang bisa menggeregoti kayu yang besar, atau pada jutaan bakteri yang bahkan sering tidak diacuhkan manusia. Apakah mereka pernah bertanya ‘Mengapa aku dilahirkan sekecil ini?’

Bersyukur.

Ya, hanya itu. Mungkin aku tidak sehebat mereka yang bisa pergi keluar negeri menjadi delegasi universitas, mungkin aku bukanlah ketua organisasi yang hebat mengorganisir anggotanya, aku juga bukan pembicara yang hebat yang bisa berpidato pada seluruh Indonesia tapi aku hanyalah aku. Aku akan lakukan apa yang aku mau dan aku bisa. Aku tidak mau lagi lelah untuk memaksakan sesuatu yang belum siap aku lakukan. Mungkin sebagian darimu berpikir aku hanya mencari-cari alasan saja tapi apa aku peduli? Apa kalian peduli?

Dan fakta bahwa aku kecil itu berarti bahwa aku tidak bisa menjadi besar? Lalu apa kau pikir presiden dan pejabat tinggi perusahaan atau negara itu besar? Lalu apa karena kau juga merasa kecil kau harus diam dan tak berkarya?

Dan jika kita merasa kecil, bisakah kita bersama menjadi sosok besar di mata Tuhan?

FOTO(s)

Jariku terhenti ketika kursor mengarah pada 3 foto itu. Aku tidak tahu mengapa foto itu masih ada. Dan.. ada di laptopnya. Saya tidak sadar bahwa foto itu memang seperti itu. Segalanya tampak jelas. Mengapa dulu aku sebodoh itu??

Oh, tidak.

Ada rasa yang menyelip ingin keluar. Tidak, tidak terulang. Hanya terbesit sementara. Ini mulai tidak normal. Setahuku foto itu diambil hampir dua tahun lalu. Tapi apa-apaan reaksi ini? Tidak lucu.

Aku telah menyingkirkannya. Tetapi ketika ku kembali, nyatanya masih ada serpihan tajam dalam sini. Aku hanya bisa berharap, bisakah kali ini kita tidak bertemu lagi?

Aku ingin muntah.

Tidak di manapun. Manusia senang sandiwara.

Tidakkah aku pun begitu?

Pengakuan, (dengan koma)

Komplikasi dalam diriku sebenarnya tidak serumit orang-orang dewasa punya, tetapi tetap membuatku resah.

Sudah satu semester aku berkuliah, dan begitu banyak yang berubah dalam hidupku. Ada perubahan yang baik, ada juga yang tidak. Menjadi mahasiswa sastra di salah satu universitas di Depok ini tidak mudah bagiku. Tidak semudah itu. Begitu banyak cultural shock dalam diriku tapi untungnya tidak mengimplikasikan hal yang signifikan.

Aku.. takut.

Hanya perasaan itu yang mengganjal dalam diriku dan sekarang menggerogoti dagingku. Aku tidak tahan lagi sebenarnya tapi apa daya, apapun hasilnya nanti itu adalah hal yang terbaik.

Sekarang aku banyak belajar tentang hidup. Hidup sebagai manusia itu sendiri, hidup sebagai manusia yang menyembah Tuhan, hidup sebagai pelajar, hidup sebagai harapan bangsa, dan banyak lagi. Manusia itu banyak mengeluh. Terkadang mengeluh itu wajar tetapi ketika keluhan itu sudah berlebihan rasanya manusia itu sendiri yang salah. Itu hal yang ku pelajari. Salah satunya tentu saja.

Aku juga belajar bagaimana yang terjadi dalam hidup kita sekarang adalah kompetisi. Semua orang berkompetisi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya baik jasmani atau rohani. Seperti aku yang berkompetisi ditengah manusia-manusia cerdas sementara aku bukan tipe manusia yang seperti itu. Sehingga aku perlu bahan bakar yang lebih banyak untuk mengejar ketertinggalanku dengan mereka.

Aku juga belajar banyak tentang mimpi. Bagaimana mimpi itu diwujudkan, bagaimana kita menaiki tangga untuk menuju mimpi kita dan tidak merasa puas atas apa yang aku miliki saat ini. Dalam konteks ini, ilmu yang saya maksud. Ilmu yang tidak terbatas dan saya memilih satu bidang dari sekian banyaknya cabang ilmu: Bahasa.

Aku harap setelah menulis ini rasa takut dalam dadaku akan menghilang. Rasa khawatir itu akan sirna diterpa waktu.

Ah, apakah aku sudah utuh kembali?

Sebaiknya aku berkutat dengan tugasku lagi.

Lika-liku Setelah Lulus SMA

Tuhan akan selalu memberikan pilihan yang terbaik bagi hamba-Nya.

Ya, kurasa itu memang benar. Setelah 3 tahun mengenyam mas SMA aku pun dinyatakan lulus. Dan harapanku untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi Negeri adalah hanya melalui jalur SNMPTN Undangan. Aku begitu optimis untuk masuk PTN yan ketika itu aku pilih Psikologi dan Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran. Mengapa aku sebegitu optimis? Karena aku yakin nilai raporku termasuk nilai yang stabil dan  baik karena di iming-imingi peringkatku yang tidak pernah turun dari 2 besar. Begitu sombongnya aku!
Dan pada saat aku membuka pengumuman dengan tangan gemetar setengah mati, seketika badanku lemas selemas-lemasnya melihat tulisan “Maaf anda dinyatakan tidak lulus.”. Rasanya ada pisau yang menusukku. Dan.. bukan hanyan menusukku saja, tapi menusuk harapan keluarga kecilku dan keluarga besarku. Aku rela, hanya aku satu-satunya yang kecewa saat peristiwa itu tapi kenyataan berkata lain.
Setelah menangis, begitu sedihnya saat itu, otakku berpikir keras bagaimana caranya agar aku bisa masuk ke PTN. Dengan apapun cara yang halal yang bisa kulakukan, aku akan kulakukan, pikirku saat itu. Maka.. aku mendaftar 3 tes sekaligus. Yaitu, SBMPTN, USM STAN, dan SIMAK UI. Bermodalkan nekat, aku mencobanya. Segala macam try out aku ikuti entah itu TO SBMPTN, Polban, dan Poltekkes.
Lanjutkan membaca Lika-liku Setelah Lulus SMA

Menjadi Karang yang Diterpa Ombak

Menjadi karang yang diterpa ombak tidaklah mudah. Tidak semudah orang melihat ia hanya terpaku menghadap lautan yang selalu menerpanya dengan ombak-ombak yang berbagai macam ritme.
Siapapun tahu karang adalah batuan yang kuat, keras, berdiri tegak. Tapi, apakah orang-orang tahu tahun demi tahun ia menipis? Melapuk? Sebagian dari dirinya dirampas ombak secara perlahan lalu bertransformasi menjadi butiran pasir di samudra.
Banyak yang tidak tahu betapa sengsaranya menjadi batu karang yang berada di pantai, yang lama kelamaan aus ditelan waktu. Waktu ombak yang merampasnya pelan. Ombak yang diam-diam datang menyapa, pergi lalu kembali.. pergi lalu kembali.. pergi.. dan ia kembali hanya untuk merampas karang yang kian tahun menipis. Hanya saat ia membutuhkan sandaran batu karang yang bisa membawa ombak kemali ke samudra tuk bertualang, hanya demi dirinya. Lanjutkan membaca Menjadi Karang yang Diterpa Ombak

Titik Terendah Sang ‘Unstopable Dreamer’

Semua orang pernah ada di titik terendah dalam hidup. Pasti. Karena hidup ini ibaratkan siklus kontinyu. Tidak pernah berhenti.

Seperti yang aku alami saat ini. Merasa di titik terendah dalam hidup, setalah bangun dari masa kelam 12 tahun yang lalu. Dan masa ini menyembur ke permukaan dalam hidup. Bedanya, kini masalah hidup yang dihadapi sudah ‘sepadan’ dengan umurku yang beranjak menua. Dewasa.

Manusia selalu dituntut untuk menjadi pribadi yang dewasa dalam menangani suatu masalah dalam hidupnya. Bahkan, disaat ia masih belia sekalipun. Dan, kini aku pun dituntut untuk bersikap dewasa atas terpaan-terpaan yang ada. Bahkan yang berasal dari orang yang disayangi sekalipun.

Rasanya, mimpi-mimpi saya yang selalui saya simpan lima sentimeter di depan dahi saya selalu di intervensi oleh orang-orang yang tidak berpihak. Apakah menjadi seorang ‘unstopable dreamer’ sebegini samsara? Pelik. Terjangan dari segala arah membentur pada satu titik yang bahkan tidak bersalah. Mimpi yang tidak bersalah.

Heran. Penghancur mimpi itu selalu dimana-mana. Berbeda dengan pemburu mimpi yang menjadi kaum minoritas yang kerap kali dilecehkan logika manusia yang kadang setajam belati. Padahal ada yang lebih berkuasa atas rupa-rupa pemikiran yang mereka sebut ‘logis’ itu.

Tuhan.

Sudah kubilang. Bermimpi dan berangan itu berbeda. Kerap kali disalah artikan. Seorang pemimpi pastilah ia menghadapi realitas yang ada. Mencari celah pada realitas dimana mimpinya bisa direalisasikan. Ya, tentunya dalam realitas itu sendiri. Lalu para subjek yang senang berangan? Mereka hanyalah manusia yang selalu melihat langit, dan lupa pada pijakannya. Bumi.