Arsip Kategori: Romance

tentang cinta, harapan, dan bualan

Dear R/M

Satu kali lagi.
Aku tidak mencari. Aku bahkan tidak tahu. Entah kenapa dari matamu ada energi yang sama dengan mata seseorang beberapa tahun lalu—yang kini masih terngiang dalam otakku.

Entah kenapa gerik tubuhmu.. serupa ketika seseorang memperlakukanku. Memberiku jalan. Menunduk ketika ku berbicara. Menyampirkan telinganya ketika ingin mendengar ocehanku. Apakah kau satu lagi sosok yang menemukanku? Mengapa rasanya mirip. Walaupun aku tahu, aku sangat tahu.. kau jauh berbeda dengan seseorang itu.

Satu kali lagi. Aku merasakan perasaan tak karuan ini. Apakah aku salah paham? Salah paham dengan diriku sendiri yang mengaitkan paksa antara kau dan seseorang dar masa lalu? Salah paham atas gerikmu yang berbeda dimataku?

Sampai saat ini, aku tidak bisa memastikan. Tidak mampu. Terlalu takut. Terlalu kabur. Rasa. Citra. Suara. Mengendur.

Aku tidak bisa membedakan antara jatuh cinta dan rindu pada saat yang sama.

Dear R/M.

Come back Dumb back

Come back Dumb back, May I—
to see it pounds my Heart
Come back Dumb back, Should’ve I—
realize when we’re apart

Miss ya kiss ya, Can I—
my skin went grow and hard
Miss ya kiss ya, Could’ve I—
to me you might so guard

And, now—in a sleep
‘Tis my heart calling yours
‘Tis my heart signalling deep
Whether ours still have some doors

Postponed Confession #1

I don’t know when or why, this feeling grew unconsciously. It just happened. Nevertheless, I knew that you were in to her. Your beautiful darling.

I dreamed about you several months ago, it almost a year. Strange dreams that you were hold my hands tightly. Even we haven’t know each other, even I don’t have something for you ath the beginning the dreams was like an omen. Maybe..

I can still remember how your warm and soft your palm is. I still remember, all to well. It drives me crazy. It’s just only dream. What did I expect from dream?! How can you imagine!

<sigh>

We fight a lot. ‘Fight’ that always makes me smile. And I don’t know there’s something beneath your eyes. It makes me relax and calm. Maybe it is peace.

Maybe you don’t know how I care about you,but it’s fine. That’s my point, instead.

However, I’m glad. The day when you lend me your earphone is unforgettable for me.

Merci.

“Hello~ Anybody has earphones? Can I borrow??”

….

“Hello?”

….

*sit down and sighed*

“Here,”

*astonished*

“What?”

“You said, you wannna borrow earphones?”

BLACK OUT

FOTO(s)

Jariku terhenti ketika kursor mengarah pada 3 foto itu. Aku tidak tahu mengapa foto itu masih ada. Dan.. ada di laptopnya. Saya tidak sadar bahwa foto itu memang seperti itu. Segalanya tampak jelas. Mengapa dulu aku sebodoh itu??

Oh, tidak.

Ada rasa yang menyelip ingin keluar. Tidak, tidak terulang. Hanya terbesit sementara. Ini mulai tidak normal. Setahuku foto itu diambil hampir dua tahun lalu. Tapi apa-apaan reaksi ini? Tidak lucu.

Aku telah menyingkirkannya. Tetapi ketika ku kembali, nyatanya masih ada serpihan tajam dalam sini. Aku hanya bisa berharap, bisakah kali ini kita tidak bertemu lagi?

Aku ingin muntah.

Tidak di manapun. Manusia senang sandiwara.

Tidakkah aku pun begitu?

Embun dan Pagi

embun

Pada akhirnya embun selalu jatuh ke bumi atau tidak. Embun tidak pernahberarti di pagi hari. Dikalahkan oleh sinar matahari yang sebentar lagi akanmembawanya ke angkasa. Embun selalu hadir, setia menunggu pagi datang untukkembali lagi hadir walaupun tak ada yang menyadari. Betapa eloknya ia. Karena embunhanyalah embun. Tidak berarti apa-apa.

Pagi.. apakah kau menyadari aku ada? Lanjutkan membaca Embun dan Pagi

#MENCARIMU – selesai

Aku menemukannya. Kau sedang duduk dihalte bis yang penuh di sebrang sana.

Ada tetes air hujan bercampur keringat di dahimu. Kau sesekali mengibaskan rambutmu yang tergerai panjang. Kau juga memberikan tempat duduk bagi seorang nenek dan tersenyum ramah kepadanya. Astaga.. sudah berapa lama aku tidak melihat senyum seperti itu?

Aku masih berdiri di tengah hujan yang deras mengguyur kota ini. Beberapa orang memakai payung melirikku aneh karena berdiri tanpa jas hujan atau payung di tengah hujan deras hanya sekedar menatap ke halte bus sebrang. Aku tak menghiraukannya. Sekalipun petir menyambarku,  aku tak akan menghiraukannya. Aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan yang tidak akan datang dua kali. Melihatmu, memandang mu, menatap senyummu dan segala gerak gerikmu. Itu sudah cukup.

Akhirnya aku menemukanmu, Fania.

Lalu, entah angin apa kau menatap ke arah sebrangmu. Kau memandang ke arahku. Lalu aku tersenyum melambaikan tangan. Dan seketika bus datang dan melenyapkanmu.

Malam di Hari Ini

Sejenak saja aku ingin menikmati malam ini dengan tenang
Sang dewi yang mempesona tergantung elok di angkasa dimana segala asa manusia ada di sana
Malam ini akan kuhabiskan telak
Berbaring diatas beledu, menelisik malam

Seketika kau berdiri di hadapanku
Matamu berkilat, tapi katup dibawah hidungmu itu bergetar
Ada apa denganmu?

Kau mencoba meraih tanganku
Sebersit ku bermonolog dalam senyap, mengapa tanganku menepis punyamu?
Sebuah reflek gerik tak di pahami
Menguraikan berantai-rantai tanda tanya dalam benakmu

Kusimpan lisanku dalam hati, aku pun tak memahami
Arti dari sekardus memoar yang tersingkap mati

Malam sedang berdebat tentang diri sepasang manusia
Lalu seketika keduanya pergi, menempuh langkah yang seharusnya tidak terbagi