Arsip Tag: mahasiswa

Anak Ambis, Katanya?

“Anak Ambis!” pekik orang-orang bertaburan di kepalaku.

Ada satu kata dalam kamusku yang mengalami degradasi makna: Ambisius.

Ambisius pada dasarnya bermakna netral. Tidak ada konotasi apa pun pada kata itu awalnya. Namun, setelah menginjak bangku kuliah kata itu terkesan satirik. Bahkan begitu mengintimidasi di daun telinga. Memekakkan telinga ketika terlalu lama di dengar. Pada akhirnya buatku sedikit muak. Baik pada orang-orang yang menuduhku, dan parahnya diriku sendiri.

Jadi, di sinilah aku. Di ambang krisis identitas yang merasuk di tiap aliran darah sampai sinapsis di otak. Mencari-caro jati diri karena tidak terima oleh label yang begitu mengintimidasi hingga aku akhirnya hilang kepercayaan diri. Mungkin depresi hingga rasanya hanya ingin makan mie setiap hari.

Apa hubungannya? Aku tidak tahu. Karena segalanya tidak jelas dan mengabur seperti pandangan mataku dengan 1.5 dan 1.75 dioptri miopi.

Apa itu anak ambis? Lanjutkan membaca Anak Ambis, Katanya?

Iklan

Sepanjang Jalan Kukusan Teknik

Daerah ini sebetulnya bukanlah resmi bernama Kukusan Teknik, namun begitulah orang-orang menyebutnya karena daerah ini dekat dengan Fakultas Teknik UI.

Sudah dua tahun aku tinggal di daerah kos-kosan ini. Pulang-pergi tak ada bosannya jalan kaki dari rumah kos ke kampus lalu sebaliknya. Entah kenapa hari ini aku melihat daerah yang biasa disebut “Kutek” dari sisi yang berbeda dari sebelumnya.

Kau tahu, dalam hidup terkadang kita sering “take for granted” sekeliling kita, terutama hal-hal trivial yang terkadang dianggap tidak penting. Biasanya kita baru menyadari bahwa sesuatu bisa berarti bagi diri kita adalah ketika kita merasakan kehilangan.

Dalam hidupku, aku berusaha meminimalisir kejadian itu.

Pagi ini aku berangkat ke kampus pukul 7.45, sudah terhitung telat sebenarnya mengingatku belum sarapan. Akhirnya aku hanya membeli roti dan susu kotak sambil menyantapnya di jalan (jangan ditiru ya). Mas-mas penjaga warung yang sudah biasa melihatku selalu tahu aku sedang buru-buru dan hanya menggeleng-geleng sambil tersenyum melihat kebiasaanku yang suka telat di pagi hari. Jarak dari kosku ke kampus FIB bisa ditempuh 15 menit jalan kaki. Tidak terlalu jauh bagi yang terbiasa jalan kaki. Walaupun mas-mas ojek dekat rumah kosku menawarkan jasanya, aku terpaksa menolak karena sedang irit akhir bulan ini.

Kutek di pagi hari belum terlalu kentara kehidupannya. Warung makan- warung makan sepanjang jalan masih tutup. Hanya beberapa toko kelontong yang buka dan penjual nasi uduk yang sudah aktif berjualan. Lanjutkan membaca Sepanjang Jalan Kukusan Teknik

Seperti Katak yang keluar dari Tempurung

Di akhir-akhir semester 3 ini gue merasakan sesuatu yang berubah dalam diri gue. Terutama pemikiran gue akan satu hal.

Semester ini gue belajar banyak hal-hal baru kaya filsafat, metode penelitian budaya, kebudayaan dan sastra Inggris, trus Morfologi ( salah satu cabang linguistik yang ngebahas tentang struktur kata). Menurut gue “mereka” semua itu berhubungan satu sama lain. Filsafat jadi Ibunya sementara yang lain jadi anak-anak filsafat yang bisa mendukung filsafat atau bahkan mengkhianati filsafat. Kenapa gue bisa bilang gitu? Lanjutkan membaca Seperti Katak yang keluar dari Tempurung

Hari-hari berganti

Hari-hari berganti. Rasanya waktuku semakin menipis. Aku masih duduk di bangku ini. Melihat orang-orang yang perlahan pergi. Kapankah aku pergi? Bekal yang kubuat belum penuh tuk memenuhi kepergianku nanti.

Hari-hari berganti. Menulis membuatku pusing. Sesuatu yang pernah kucintai tapi sekarang mati. Tidak mati. Hanya ku benci. Aku ingin pergi. Aku ingin pergi.

Dalam doa setiap pagi yang kusisipkan dalam hati, ya Tuhan kapankah ku pergi? Ku merasa bodoh, tak punya apapun tuk di genggam. Ku malas. Ku resah. Terdistraksi oleh budaya sosialisme yang sedang gempar akhir-akhir ini. Padahal hanya niat tuk membaur dengan kawan tapi membuat adiksi. Lanjutkan membaca Hari-hari berganti

Hai lagi Neptunus

Hampir satu tahun, Neptunus.

Setelah melewati setengah tahun menjadi mahasiswa, banyak yang berubah dalam hidupku. Entah itu pola pikirku, orangtuaku, atau bahkan orang-orang yang berada di sekitarku. Rasanya sangat berbeda ketika masih di SMA dulu.

Dalam hitungan bulan hidupku langsung berubah, Nus. Untungnya, sejauh ini yang terasa perubahan yang baik yang terjadi selama ini. Walaupun sebenarnya berbagai rintangan menerpa. Tapi, ya bukankah itu hidup, Nus? Selalu berpasang-pasangan. Antara manis dan pahit, hitam dan putih, gelap dan terang, tangis dan tawa, dan bahkan perempuan dan lelaki. Karena keragaman itulah hidup menjadi ’hidup’. Warna.

Beberapa bulan lalu aku genap berumur 18 tahun. Di umur yang tanggung ini aku ingin menghabiskan waktuku dengan belajar. Belajar apa saja. Tidak harus belajar di belakang meja, mencatat, dan mendengarkan kuliah. Tapi belajar bagaimana menjalani hidup dengan baik. Dengan segala kekurangan dan kelebihan yang kita miliki. Aku ingin berguru, Nus. Tapi sayangnya, kamu terlalu jauh di capai di bawah sana.

Banyak hal yang bisa aku pelajari saat ini, Nus. Bukan hanya mata kuliah saja, tetapi pengalaman-pengalaman banyak orang. Mulai dari keluargaku, sahabatku, lalu sampai oorang yang tidak aku kenal yang hanya aku baca biografinya. Ini menyenangkan, Nus. Kita bisa mengambil hikmah dari setiap kisah, lalu menerapkannya di kehidupan sehari-hari. Tidak hanya itu. Aku juga bisa mengambil banyak pelajaran dengan menonton film. Bahkan setingkat film kartun Doraemon sekalipun memiliki makna yang luar biasa. Jika aku mendeskripsikan diriku sekarang hanya ada satu kalimat yang bisa aku katakan.

“Haus akan ilmu.” Lanjutkan membaca Hai lagi Neptunus

Pengakuan, (dengan koma)

Komplikasi dalam diriku sebenarnya tidak serumit orang-orang dewasa punya, tetapi tetap membuatku resah.

Sudah satu semester aku berkuliah, dan begitu banyak yang berubah dalam hidupku. Ada perubahan yang baik, ada juga yang tidak. Menjadi mahasiswa sastra di salah satu universitas di Depok ini tidak mudah bagiku. Tidak semudah itu. Begitu banyak cultural shock dalam diriku tapi untungnya tidak mengimplikasikan hal yang signifikan.

Aku.. takut.

Hanya perasaan itu yang mengganjal dalam diriku dan sekarang menggerogoti dagingku. Aku tidak tahan lagi sebenarnya tapi apa daya, apapun hasilnya nanti itu adalah hal yang terbaik.

Sekarang aku banyak belajar tentang hidup. Hidup sebagai manusia itu sendiri, hidup sebagai manusia yang menyembah Tuhan, hidup sebagai pelajar, hidup sebagai harapan bangsa, dan banyak lagi. Manusia itu banyak mengeluh. Terkadang mengeluh itu wajar tetapi ketika keluhan itu sudah berlebihan rasanya manusia itu sendiri yang salah. Itu hal yang ku pelajari. Salah satunya tentu saja.

Aku juga belajar bagaimana yang terjadi dalam hidup kita sekarang adalah kompetisi. Semua orang berkompetisi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya baik jasmani atau rohani. Seperti aku yang berkompetisi ditengah manusia-manusia cerdas sementara aku bukan tipe manusia yang seperti itu. Sehingga aku perlu bahan bakar yang lebih banyak untuk mengejar ketertinggalanku dengan mereka.

Aku juga belajar banyak tentang mimpi. Bagaimana mimpi itu diwujudkan, bagaimana kita menaiki tangga untuk menuju mimpi kita dan tidak merasa puas atas apa yang aku miliki saat ini. Dalam konteks ini, ilmu yang saya maksud. Ilmu yang tidak terbatas dan saya memilih satu bidang dari sekian banyaknya cabang ilmu: Bahasa.

Aku harap setelah menulis ini rasa takut dalam dadaku akan menghilang. Rasa khawatir itu akan sirna diterpa waktu.

Ah, apakah aku sudah utuh kembali?

Sebaiknya aku berkutat dengan tugasku lagi.