Arsip Tag: manusia

Apa Itu Aku? (Inspired by MRP)

seonggok daging berumur seperlima abad

dalam balutan epidermi yang bertanya

tentang eksistensi diri sang keparat—menyusup di

antara nadi yang bersilangan hingga

ke pati

 

apa?

apa itu aku?

ku tusuk-tusuktanya itu hingga

darah mengucur turun mengusik sinapsis saraf di sela

hasta dan karpal

 

molekul-molekul itu, mungkin hemoglobin

atau buku sketsa, sepeda, abakus canggih, dan warna hitam

 

Ah, itu aku.

Nyesel Masuk Sastra? Bego.

Sori, mungkin judul post di atas memang agak kasar. Tapi setelah gue mengendap disini, sang FIB UI tercinta, gue sadar bahwa gue gak pernah nyesel masuk sastra. Mungkin beberapa orang bilang ini cuma bualan belaka. Tapi engga lho. Justru orang-orang yang masih berpikir bahwa kuliah di sastra itu ga ada gunanya atau ga ada prospek bagus ke depannya.

Mungkin emang, kuliah di sastra gak selalu bikin lo kaya. Tetapi ya itu pilihan hidup, karena hakikatnya kebahagiaan bukan hanya soal duit. Contohnya tante gue, kuliah di ekonomi, merangkak dari bawah dulu emang, dan sampe akhirnya beliau jadi Key Account Manager di salah satu perusahaan multinasional di Indonesia. Gajinya? Jangan tanya, banyak  yang pasti. Tapi setiap orang punya kelemahan dan kekurangan. Gue dan keluarga gue mungkin gapunya pemasukan yang setinggi beliau, tapi gue sekeluarga masih sederhana dan bersyukur. Tapi kalo masalah kebahagiaan? Cuma gue dan Allah yang tau. Lanjutkan membaca Nyesel Masuk Sastra? Bego.

Surat untuk Kugy (Agen Neptunus Yang Katanya Sudah Pensiun)

Dear Kugy Karmachameleon,

Tadi malam sahabatku memintaku untuk menulis surat padamu. Semalam, ia menonton film tentangmu, Gy. Katanya, ia kangen jadi agen Neptunus lagi. Dia bilang dia sudah menulis surat pada Neptunus kalau dia sudah pensiun jadi agen Neptunus sejak lama. Tentu saja aku tidak tahu, aku Cuma menyampaikan saja.

Kembali, ia menemukan sisa-sia perahu kertas yang tidak ia hanyutkan. Lucu membacanya. Seperti anak kecil, polos, dan bebas kata-kata di surat itu terdengar. Dia ingat, ketika menulis dengan spidol berwarna berbeda yang menentukan suasana hatinya ketika menulis perahu kertas itu. Tidak ada tanggal atau tahun atau bulan atau hari. Ia juga lupa kapan menuliskan surat-surat itu. Entah satu tahun lalu atau dua tahun lalu. Masa-masa confetti katanya. Dulu, hidupnya seperti confetti yang beragam warna. Mulai dari warna gelap sampai terang, rasanya berjalan begitu cepat. Lanjutkan membaca Surat untuk Kugy (Agen Neptunus Yang Katanya Sudah Pensiun)

Goresan Gadis yang Sedang Sok Tahu

Akhir-akhir ini aku sering memperhatikan orang-orang. Mengamati mengapa mereka bisa melakukan ini itu dari hal yang terburuk sampai yang terbaik. Kadang aku terkagum, terkejut, tersenyum, tapi lebih sering terheran karenanya.

Terkadang manusia sering merasa dirinya benar. Selalu merasa dirinya benar dan seolah argumentasi ialah yang paling benar. Manusia biasanya mengumpulkan argumentasi-argumentasi banyak orang demi membela persepsi yang mereka miliki. Atau ada saja mereka yang bersikukuh dengan argumentasinya tanpa menilik ulang terlebih dahulu, dan hanya mementingkan dirinya sendiri. Egoisme yang kental dalam diri mereka. Sedikit sekali yang terbuka pikirannya dan memandang persepsi orang lain dengan baik. Tapi masih ada. Masih ada mereka yang mau mendengarkan dan berempati tanpa pamrih.

Pernahkan kamu merasakan itu? Merasa dirimu ‘seolah’ tidak bersalah padahal keadaan mengatakan sebaliknya. Aku hanya sering memperhatikan bahwa manusia mempunyai dua mata dan dua telinga bukan semata-mata karena begitu. Tetapi manusia seharusnya melihat problematika tidak dari satu perspektif saja. Setidaknya dua. Perspektif diri kita sendiri dan orang lain.

Aku masih tidak mengerti mengapa manusia, termasuk saya sendiri, terlalu mementingkan dirinya sendiri. Mencari-cari alasan ketika disalahkan. Tidak terima atas perlakuan orang lain yang buruk. Kurang puas dengan apa yang telah mereka dapatkan. Dan..hal-hal yang destruktif lainnya.

Aku menulis ini bukan aku merasa benar atau apa. Aku hanya ingin mencurahkan perasaanku bahwa terkadang manusia itu mempunyai banyak kelemahan. Memang, setiap manusia mempunyai kelemahan dan kelebihan. Itu tergantung diri mereka sendiri, bagaimana bisa mengutamakan kelebihan mereka dibandingkan kekurangannya. Sampai saat ini pun aku masih belajar tentang hal itu. Apa yang manusia butuhkan untuk membuktikan dirinya ya?

Fokus?

Mungkin.

Yang jelas, dari pengamatanku selama ini.. manusia sering sekali tidak bersyukur. Aku pun seperti itu. Mereka mempersulit diri mereka sendiri untuk hidup. Yah, membicarakan manusia memang tidak ada habisnya. Karena apa?

Karena manusia adalah paradoks bagi dirinya sendiri.

-Gadis yang Sedang Sok Tahu-

#Day2 MEMAAFKAN

Hari ini saya belajar dan mencoba untuk ikhlas. Memaafkan oranglain adalah salah satu cara kita untuk memaafkan diri kita sendiri. Saya pernah mendapatkan kutipan bahwa menunda maaf dan menyimpan dendam untuk oranglain sama saja dengan menyakiti diri kita sendiri.

Suatu hari saya membaca buku lalu ada pertanyaan yang paling saya ingat dan akan saya ingat seumur hidup “Apa manfaatnya jika anda masih menyimpan dendam dan enggan untuk memaafkan?” Jujur, hati saya sangat terpukul membacanya dan saya merutuki diri sendiri akan hal itu. Bodoh, bodoh, bodoh.. Tuhan saja mau memaafkan hambanya yang berlumur dosa mengapa manusia tidak? Pikir saya waktu itu.

Awalnya, saya mengalami kesulitan. Saya mengklaim bahwa meminta maaf itu lebih mudah dibandingkan memaafkan. Saya masih tidak terima oleh perlakuan orang-orang terhadap saya waktu dulu. Saya masih mengingat kebaikan saya akan orang itu, padahal Tuhan pun dengan ikhlas memberikan rahmat kepada hambanya. Sekali lagi, manusia tidak.

Manusia terlalu mementingkan egonya, terkadang. Tidak semua manusia seperti itu tapi kebanyakan manusia begitu. Termasuk diri saya sendiri yang merasa tidak terima disakiti oranglain, tapi faktanya adalah saya yang menyakiti diri sendiri.

Ketika saya memutuskan untuk memaafkan orang yang sangat berat saya maafkan sebelumnya ada perasaan lega yang muncul tiba-tiba. Hati mendadak tenang dan ringan. Mungkin, selama ini hal itu menghantui saya tanpa saya sadari. Tapi kini sudah tidak, karena keajaiban memaafkan yang luar biasa.

Karena saya percaya untuk menjadi manusia diatas rata-rata perlu perjuangan yang gigih, termasuk membuka hati dan pikiran kita lebih luas untuk menjadi manusia yang lebih baik. Memaafkan salah satu caranya.

Tuhan, terimakasih atas keajaiban-keajaiban yang telah Engkau berikan sampai saat ini. Termasuk mempertemukanku dengan buku yang sangat luar biasa “21 Days to be Transhuman”. Mama, terimakasih atas doa-doa mu yang selalu engkau panjatkan di tiap sujud dan tangismu. Engkau adalah representasi dari transhuman sebenarnya. Untuk sahabatku yang luar baisa, Windy Utami Dewi. Kamu mengajarkan banyak hal dan keajaiban hidup dari cerita-ceritamu yang senantiasa menggelitikku tiap malam. Dan untuk seseorang yang tidak pernah lelah ada untukku, terimakasih telah menemani hingga pagi buta di sela-sela aktivitasmu yang padat. Saya berhutang banyak kepada kalian semua.

 

Hari kedua dari 21 hari.

Seharian. Di kosan. Menambah Wawasan.

Hari ini saya banyak belajar. Walaupun sebenarnya seharian saya habiskan di kosan.

Dalam buku 21 Days to be TransHuman oleh Nanang Qosim, saya belajar bahwa memberi haruslah dengan ikhlas. Tentu saja hal ini sangat biasa di dengar tapi apakah biasa kita lakukan?

Manusia cenderung mengharapkan balasan ketika memberi. Balasan yang di harapkan bisa dalam bentuk apa saja, seperti ucapan, tingkah laku, atau bahkan sebuah barang. Contoh sederhana ketika kita tersenyum kepada seseorang dan seseorang itu tidak memberikan respon yang baik, manusia cenderung merasa sebal atau berpikir negatif tentang orang tersebut. Ini merupakan salah satu bukti bahwa manusia itu pada dasarnya pamrih atas segala sesuatu. Lanjutkan membaca Seharian. Di kosan. Menambah Wawasan.

Manusia terkadang membela hal yang salah demi seseorang yang disayanginya, atau mungkin TERLALU disayanginya di depan manusia yang lain. Padahal dirinya juga tahu dan paham.
Kenapa manusia (itu) terus di bela mu? Kenapa hanya kepada ku kau membela? Sudah pantaslah memantaskan diri.

Ini hanya renungan untuk kita, atau engkau yang merasa. Bahwa manusia memiliki lika-liku pemikiran yang rumit (terkadang). Yang berdampak pada manusia itu sendiri. Terjebak. Tidak bisa keluar akibat Ego-nya dan sisi Id yang membuat manusia serakah.

Karena sesuatu yang di embel-embeli kata ‘terlalu’ tidak baik adanya.