Arsip Tag: perjuangan

Anak Ambis, Katanya?

“Anak Ambis!” pekik orang-orang bertaburan di kepalaku.

Ada satu kata dalam kamusku yang mengalami degradasi makna: Ambisius.

Ambisius pada dasarnya bermakna netral. Tidak ada konotasi apa pun pada kata itu awalnya. Namun, setelah menginjak bangku kuliah kata itu terkesan satirik. Bahkan begitu mengintimidasi di daun telinga. Memekakkan telinga ketika terlalu lama di dengar. Pada akhirnya buatku sedikit muak. Baik pada orang-orang yang menuduhku, dan parahnya diriku sendiri.

Jadi, di sinilah aku. Di ambang krisis identitas yang merasuk di tiap aliran darah sampai sinapsis di otak. Mencari-caro jati diri karena tidak terima oleh label yang begitu mengintimidasi hingga aku akhirnya hilang kepercayaan diri. Mungkin depresi hingga rasanya hanya ingin makan mie setiap hari.

Apa hubungannya? Aku tidak tahu. Karena segalanya tidak jelas dan mengabur seperti pandangan mataku dengan 1.5 dan 1.75 dioptri miopi.

Apa itu anak ambis? Lanjutkan membaca Anak Ambis, Katanya?

Hari-hari berganti

Hari-hari berganti. Rasanya waktuku semakin menipis. Aku masih duduk di bangku ini. Melihat orang-orang yang perlahan pergi. Kapankah aku pergi? Bekal yang kubuat belum penuh tuk memenuhi kepergianku nanti.

Hari-hari berganti. Menulis membuatku pusing. Sesuatu yang pernah kucintai tapi sekarang mati. Tidak mati. Hanya ku benci. Aku ingin pergi. Aku ingin pergi.

Dalam doa setiap pagi yang kusisipkan dalam hati, ya Tuhan kapankah ku pergi? Ku merasa bodoh, tak punya apapun tuk di genggam. Ku malas. Ku resah. Terdistraksi oleh budaya sosialisme yang sedang gempar akhir-akhir ini. Padahal hanya niat tuk membaur dengan kawan tapi membuat adiksi. Lanjutkan membaca Hari-hari berganti

Surat untuk Kugy (Agen Neptunus Yang Katanya Sudah Pensiun)

Dear Kugy Karmachameleon,

Tadi malam sahabatku memintaku untuk menulis surat padamu. Semalam, ia menonton film tentangmu, Gy. Katanya, ia kangen jadi agen Neptunus lagi. Dia bilang dia sudah menulis surat pada Neptunus kalau dia sudah pensiun jadi agen Neptunus sejak lama. Tentu saja aku tidak tahu, aku Cuma menyampaikan saja.

Kembali, ia menemukan sisa-sia perahu kertas yang tidak ia hanyutkan. Lucu membacanya. Seperti anak kecil, polos, dan bebas kata-kata di surat itu terdengar. Dia ingat, ketika menulis dengan spidol berwarna berbeda yang menentukan suasana hatinya ketika menulis perahu kertas itu. Tidak ada tanggal atau tahun atau bulan atau hari. Ia juga lupa kapan menuliskan surat-surat itu. Entah satu tahun lalu atau dua tahun lalu. Masa-masa confetti katanya. Dulu, hidupnya seperti confetti yang beragam warna. Mulai dari warna gelap sampai terang, rasanya berjalan begitu cepat. Lanjutkan membaca Surat untuk Kugy (Agen Neptunus Yang Katanya Sudah Pensiun)

Hai lagi Neptunus

Hampir satu tahun, Neptunus.

Setelah melewati setengah tahun menjadi mahasiswa, banyak yang berubah dalam hidupku. Entah itu pola pikirku, orangtuaku, atau bahkan orang-orang yang berada di sekitarku. Rasanya sangat berbeda ketika masih di SMA dulu.

Dalam hitungan bulan hidupku langsung berubah, Nus. Untungnya, sejauh ini yang terasa perubahan yang baik yang terjadi selama ini. Walaupun sebenarnya berbagai rintangan menerpa. Tapi, ya bukankah itu hidup, Nus? Selalu berpasang-pasangan. Antara manis dan pahit, hitam dan putih, gelap dan terang, tangis dan tawa, dan bahkan perempuan dan lelaki. Karena keragaman itulah hidup menjadi ’hidup’. Warna.

Beberapa bulan lalu aku genap berumur 18 tahun. Di umur yang tanggung ini aku ingin menghabiskan waktuku dengan belajar. Belajar apa saja. Tidak harus belajar di belakang meja, mencatat, dan mendengarkan kuliah. Tapi belajar bagaimana menjalani hidup dengan baik. Dengan segala kekurangan dan kelebihan yang kita miliki. Aku ingin berguru, Nus. Tapi sayangnya, kamu terlalu jauh di capai di bawah sana.

Banyak hal yang bisa aku pelajari saat ini, Nus. Bukan hanya mata kuliah saja, tetapi pengalaman-pengalaman banyak orang. Mulai dari keluargaku, sahabatku, lalu sampai oorang yang tidak aku kenal yang hanya aku baca biografinya. Ini menyenangkan, Nus. Kita bisa mengambil hikmah dari setiap kisah, lalu menerapkannya di kehidupan sehari-hari. Tidak hanya itu. Aku juga bisa mengambil banyak pelajaran dengan menonton film. Bahkan setingkat film kartun Doraemon sekalipun memiliki makna yang luar biasa. Jika aku mendeskripsikan diriku sekarang hanya ada satu kalimat yang bisa aku katakan.

“Haus akan ilmu.” Lanjutkan membaca Hai lagi Neptunus

Ketika hari ini, inilah aku

Hari ini, merupakan hari yang spesial. Everyday is special actually.Tapi, kali ini aku merasakan sesuatu magis yang terjadi dalam kehidupanku. Kini.. perjuangan itu terbayar sudah. Tapi bukan berarti kini aku berhenti berjuang. Justru, ini adalah awal. Awal dari perjalanan sebuah gadis pemimpi yang selalu nekat.

Hari ini, memakai pakaian putih-putih berbalut Jaket Kuning khas Universitas Indonesia, hatiku sangat berbahagia. Inilah.. aku. Aku yang realistis dalam bermimpi. Walaupun aku tahu, terwujudnya mimpi bukan berarti mendapatkan apa yang kita impikan-impikan sebelumnya. Tetapi.. bagaimana kita mendapatkan sesuatu yang terbaik bagi diri kita.

Tapi, aku masih bermimpi.

Berhenti untuk bermimpi? Itu bukan diriku. Karena diriku ini gadis pemimpi yang selalu nekat. Usaha, doa, dan kemauan. Hanya itu modalku.

Dan, ini sama sekali belum cukup. Tapi aku harus tetap bersyukur. Aku bersyukur kepada Allah SWT, yang senantiasa berada dekat dalam hati. Mengalir dalam setiap pergerakan tubuhku. Engkau tiada tertandingi.

Masih ada waktu perjuangan untuk 3,5 tahun kedepan. Berkarya, Mengabdi, dan Berprestasi. Untukmu mimpi, aku tahu kau masih di depan sana di jarak yang tak terpandang. Tapi aku yakin, kau selalu menungguku tuk ada disana.

 

And,Mom.. please, you have to see my succeed.

 

Gadis yang Ditemani Sang Venus

Gadis itu kini menyepi. Duduk di sudut ranjangnya, memeluk lututnya erat-erat. Tak pedulikan rasa sesak di dadanya yang kian menjadi-jadi. Ia hanya menangis. Karena ia memang perlu menangis, begitu katanya.

Kini rasa sesak di dadanya tertutupi oleh rasa sakit di ulu hatinya. Astaga.. apakah ia tidak cukup kuat untuk menghadapi semuanya ataukah justru ia terlalu kuat dan akhirnya melampaui batas?
Lanjutkan membaca Gadis yang Ditemani Sang Venus