Arsip Bulanan: Oktober 2013

Ironikal Momen

Aku menghilang di tengah kapal karam yang semakin temaram
Aku membisu ketika pekaknya suara ombak hinggap di telinga
Aku menutup mata ketika sinar mulai menepi di pelupuk angkasa

Semua orang kesal, semua orang marah, membenci, memendam rasa dengki

Tapi ketika ku berada, kalian ada dimana?
Ketika aku bicara, kalian tak mendengar!
Ketika ku membuka mata, kalian sudah menjauh menghilangkan asa

–ketika segala rasa menyeruak di rintik hujan, 18.36–

Get the Point(Memahami Inti dari Sebuah Ide)

Esensi. Isi.  Kedua kata ini saling berequal. Gagasan pokok. Ide. Sama. Hm, how do we get the point of several idea?

It’s quite simple. Kita mendengarkan, memahami, memfilter kata-kata sulit atau tidak perlu. And.. that’s it! All we have to do is listen, listen, and get it what the main idea. Tapi, bagaimana jika kita terus sulit memahami inti dari suatu percakapan atau bacaan?

The answer is.. listen and read. Dengan mendengar dan membaca kita bisa belajar banyak hal. Dan tentu saja wawasan kita bertambah. Nah, jika kedua hal tersebut telah dilakukan apa yang perlu kita lakukan selanjutnya? Yup, berbicara. Setelah wawasan kita bertambah kita harus berani berbicara, terutama di depan umum. Hal ini akan sangat bermanfaat bagi diri kita.

Nah, berikut tips-tips menyampaikan ide atau argumentasi di depan umum:
-Percaya diri
-Tidak takut salah
-Pilih kata-kata yang mudah dipahami(menggunakan kata-kata yang tidak umum kemungkinan tidak dapat di mengerti oleh orang lain)
-Tidak ada unsur SARA
-Pembawaan yang santai, sehingga orang lain seolah-olah dapat berpikir seperti anda
-Hindari repetisi (pengulangan) yang tidakpenting

Ya! Semoga tips-tips di atas dapat bermanfaat bagi para readers. See you next time.

Ilusi Rintik Hujan

Titik-titik air lincahnya menari
Seluruh alam menyambut seri
Tatkala butiran awan menjatuhkan pati, ia berilusi dalam hati seorang diri

Diri bergeming, rintik air berilusi
Frase jiwa menjuntai dengan sunyi
Beralih pada klausa yang tidak peri
Bertanya, sudahkah ini?

Kini, hujan t’lah berhenti
Tapi jiwa itu masih terilusi
Hingga ranah pijakan telah lari
Sang ilusi hanyalah kenangan mati

–ditengah hujan, menunggu sampai pulang. 17.55–

“What we need to learn is
always there before us, we
just have to look around us
with respect and attention
in order to discover where
God is leading us and which step we
should take next.”

― Paulo Coelho, The Zahir

“We don’t always choose
the best solution but we
carry on regardless, trying
to remain upright and
decent in order to do honor
not to the walls or the doors or the
windows but to the empty space inside,
the space where we worship and
venerate what is dearest and most
important to us.”

― Paulo Coelho, The Zahir

Malam di Hari Ini

Sejenak saja aku ingin menikmati malam ini dengan tenang
Sang dewi yang mempesona tergantung elok di angkasa dimana segala asa manusia ada di sana
Malam ini akan kuhabiskan telak
Berbaring diatas beledu, menelisik malam

Seketika kau berdiri di hadapanku
Matamu berkilat, tapi katup dibawah hidungmu itu bergetar
Ada apa denganmu?

Kau mencoba meraih tanganku
Sebersit ku bermonolog dalam senyap, mengapa tanganku menepis punyamu?
Sebuah reflek gerik tak di pahami
Menguraikan berantai-rantai tanda tanya dalam benakmu

Kusimpan lisanku dalam hati, aku pun tak memahami
Arti dari sekardus memoar yang tersingkap mati

Malam sedang berdebat tentang diri sepasang manusia
Lalu seketika keduanya pergi, menempuh langkah yang seharusnya tidak terbagi

Secangkir kenangan

Kertas Warna

20131018-160508.jpg

Bagaimana kalau kita nikmati sore ini dengan secangkir kenangan tentangmu?
Lalu, kita sulut menjadi abu. Hingga rindu tak terlalu mengaduh.

Cangkir di hadapanku tak ubahnya rasa perih yang kausisakan dalam perjalanan kisah kita.
Getirnya menjelma punggungmu yang tak lagi membalik ke arahku.
Dan, aku memilih menikmatinya.

Karena cinta tak selamanya berakhir baik-baik saja

Gambar: @zaydutsman

Lihat pos aslinya