Arsip Kategori: Lives

Midnight Venting

These are those days when my self-esteem falls down as usual in my life pattern.

It is always like this.

I lost my passion. I lost my grip to write again. I lost..myself and the dream within it.

It is the time when I really need someone to hear my vent. My uneasiness. My worriness. My anger. My sadness. Even.. a lil bit happiness from watching some Korean drama episodes. Now, it takes only 2 minutes to 2 a.m. And I miss myself.

When I was busy with activities and my college routines I longed for holiday. To rest myself. To take time for writing any piece that I want to write.However, it was not as I expected back then. Things turned out to be messed. I turned to be messed up.  Lanjutkan membaca Midnight Venting

Iklan

Untuk Adikku

Dek,

malam ini apakah kamu sudah mengerjakan PR?

apakah kamu ada ujian besok?

apakah kamu bahagia dengan dunia sekolah barumu?

Aku bisa berkata pada “adik-adik”ku lain untuk rajin belajar, tapi mengucapkannya padamu rasanya tak pernah.

Dek,

apa kau mulai suka dengan anak perempuan?

Siapa?

apa kau mulai nakal untuk mengetahui sesuatu yang seharusnya kamu simpan untuk nanti? Lanjutkan membaca Untuk Adikku

Hiper—

Ada saat dimana aku merasa gagap. Merasa bodoh. Merasa payah.

Semua orang pasti pernah.

Mungkin aku selalu merasa bisa. Narsistik kah?

Ah, entahlah.

Ketika aku merasa payah, segeralah aku maki diri. Padahal tidak perlu—

Rasanya pandanganku atas kesempurnaan dan segala sesuatu yang ideal sudah melampaui garis, lalu..

akhirnya ku mati kutu

Hiper-sensorik,

Hyper-speculation,

Ah, tuhkan!

Aku harus banyak belajar—

Contemplating My Major

“Why I took English Major?”

The question has been quivering inside my head lately. After doing Community Outreach in a month, I learned lots of thing. One of them is the need to find my future career.

“What do I want to be?”

Another question appeared.

Then I remained silent through the days. I don’t know it’s too late or not, but I became worry thinking this matter. Through this two years, I’ve never ever been sure of what will I do next in post-university life. I think I have some good skills in teaching, but I want more than that. I want more than teaching.

I also want to travel, meeting other people, gaining new experience, volunteer to a community. Yes! There are many to-do lists in my mind!

Okay, I’ve already taken English Major, so what’s next?

“Why I study language?”

At some point, I think I am interested in linguistics field. In my opinion, linguistics is an unique science. There are not much numbers in there, which I really love to study, and I can explore and imagine the possibility of languages can do. However, new questions appear.

“Do I want to be a linguist?” Lanjutkan membaca Contemplating My Major

Let’s be Humanized!

Everything seems different in the third term in college. In this term, I learnt a lot about life lessons during the lectures. Because I was majoring science when I was in high school, I had never learnt about human studies, such as sociology or anthropology. However, now, I study culture, literature, and philosophy. Of course, it is because I’m a student of faculty of humanities. Somehow, by attending so many lectures that I took for this term, I began to think reflectively about us as human. Then one question appear: Are we machines or humans?

I’ve been wondering about this issue during this term. Maybe this is not what people think or most of students think these days, but suddenly the question appear in the middle of Research Methods class. The lecturer, Mr.Junaedi, said that we are modern people. We want everything fast, we want everything instant, we want do things with less effort, and we want to make everything to be practical and efficient. In addition, we also spend more time in the outdoor rather than in our houses. Now, we are busy with ourselves and pay less attention to our families. What do you think? Are those represents you?

For me, I am. Home is not like home anymore. Nowadays, home is just a dwelling not a house. Look at the apartments that are built around us. Houses are replaced by simple compartments whose price are high. Less windows, no terrace, no backyard, functional design, and all the elements of a house seem decreased.

Inevitable, in this millennium era invented technology becomes part of our life. Indirectly, internet and smartphones are our ‘God’ in everyday life. Most of modern people use smartphone to communicate and make our job done faster. In addition, there are many applications, such as social media and games are invented. However, those applications —unconsciously— are distracting us. For example, some people tend to care their cyber life rather than their real life. The more we get in touch in Internet make us isolated. As a result, we are likely to be machines without feeling. Like robots, even zombies.

By writing this journal, I don’t mean to preach or teach. I know that we as humans both have flaws and beauty in the same time.  Overall, I just want to say: Let’s be humanized!

Pertengahan Semester 3

Halooo para pembaca dan mahasiswa sastra sejagat raya yang luar biasa!

Sudah lama hilang dari peradaban akhirnya bisa menulis lagi. Gue mau cerita tentang pengalaman-pengalaman di pertengahan semester yang hectic ini. Pertama, UTS?? Uts hanya mitos tapi bisa dimasukin ke IP lo. See? UTS cuma mitos.

Sebenernya itu buat ngehibur diri gue aja karena uts kali ini, gue gak tau nasib gue bakal gimana. Ada yang bener-bener maksimal gue usahain, ada juga yang engga, ada juga yang salah strategi, pokoknya banyak. Jangan deh males belajar, karena lo pasti bakal nyesel di akhir. Dan itu merupakan rasa sesal gue terbesal seumur hidup. Lebay ya?Tapi serius, gue nyesel banget karena gue gak belajar bener-bener akhirnya gua pun ga puas ngerjainnya, soal masalah hasil gue serahin ke Allah SWT yang maha Kuasa.  Lanjutkan membaca Pertengahan Semester 3

Nyesel Masuk Sastra? Bego.

Sori, mungkin judul post di atas memang agak kasar. Tapi setelah gue mengendap disini, sang FIB UI tercinta, gue sadar bahwa gue gak pernah nyesel masuk sastra. Mungkin beberapa orang bilang ini cuma bualan belaka. Tapi engga lho. Justru orang-orang yang masih berpikir bahwa kuliah di sastra itu ga ada gunanya atau ga ada prospek bagus ke depannya.

Mungkin emang, kuliah di sastra gak selalu bikin lo kaya. Tetapi ya itu pilihan hidup, karena hakikatnya kebahagiaan bukan hanya soal duit. Contohnya tante gue, kuliah di ekonomi, merangkak dari bawah dulu emang, dan sampe akhirnya beliau jadi Key Account Manager di salah satu perusahaan multinasional di Indonesia. Gajinya? Jangan tanya, banyak  yang pasti. Tapi setiap orang punya kelemahan dan kekurangan. Gue dan keluarga gue mungkin gapunya pemasukan yang setinggi beliau, tapi gue sekeluarga masih sederhana dan bersyukur. Tapi kalo masalah kebahagiaan? Cuma gue dan Allah yang tau. Lanjutkan membaca Nyesel Masuk Sastra? Bego.

Menjadi Mahasiswa Tingkat 2 #CatatanAnakSastra

Singkatnya, setelah liburan 2 bulan yang tidak ada habisnya itu, aku kembali menjalani rutinitasku. Kuliah.

Gila, pikirku. Aku sekarang sudah menjadi mahasiswa tingkat 2 alias sophomore! Setelah mengatasi masalah SIAK (Sistem Akademik di UI) yang terus menerus menghantui, akhirnya IRS (Isian Rencana Studi) ku pun disetujui. Omong, omong aku ganti lagi nama blog ini menjadi Catatan Anak Sastra. Mungkin aku memang tidak konsisten. Entah kenapa, reasanya blog ini memang perlu di ‘revitalisasi’ kemana arah tulisan ini akan bertuju.

Hari pertama menjadi mahasiswa tingkat 2 rasanya memang banyak yang berubah. Kelas baru, pergaulan baru, dosen baru, mata kuliah baru, dan strategi baru. Awalnya aku takut, entah kenapa hanya takut saja, karena aku selalu dibayang-bayangi oleh IP. Padahal sebenarnya orangtua ku tidak menargetkan apa-apa, tapi ini karena beasiswa yang aku dapatkan rasanya ‘menuntut’ku untuk mendapatkan lebih dan fokus kepada kuliah ketimbang kegiatan-kegiatan asik di luar akademis. Sedih? Tidak, sih. Cuma bingung.

Aku bingung harus mulai darimana, harus membuat rencana apa, well ini karena aku tipe orang yang terstruktur jadi memang urusanku dengan diriku sendiri sedikit rumit. Aku mulai membaca buku-buku referensi tentang college life, membuat target,mengatur prioritas, dan hal-hal mengenai kemahasiswaan. Ini agak telat sebenarnya, seharusnya aku sudah baca buku-buku seprti ini sejak tingkat 1 lalu. But, late is better than not at all, right? Lanjutkan membaca Menjadi Mahasiswa Tingkat 2 #CatatanAnakSastra

Gagal Ketemu Naya & Jebraw

Sejujurnya, sakit sih ngepost ini. Literally, pain. Tapi, Peter Van Houten bilang bahwa “Pain remains to be felt.” So, why don’t I write this such tiny pain?

Awalnya pada tanggal 23 Agustus, gue lagi iseng buka Instagram trus ada teasernya Naya sama Jebraw tentang Grand Launching Jalan2Men 2015. Gue ngefans dari jalan2men pertama kali ada. Waktu itu temen gue Tami yang ngasih tau gue ada acara yang super seru banget yang dikeluarin Males Banget dot com.

Gue sih udah tau MBDC pas kelas 10. Dulu, pas jaman-jaman jadi pengurus OSIS gue ‘disupply’ video MBDC sama temen gue yang rada absurd. Mulai dari Telemakita sampe video-video tentang tips aneh. Nah, mulai dari situ gue kenal MBDC. So, I’ve known MBDC for 4 years until now. I think, it’s not such a big think since I’m not BIG fan of MBDC. However, I still watch MBDC’s videos now and then.

Nah, balik lagi ke acara Grand Launching Jalan2Men 2015. Acaranya bertempat di Fx Sudirman lantai 7, yaitu di Cinemaxxnya. Gue langsung excited trus langsung ngisi form registrasi online. Trus, gue ajakin juga temen gue yang ngefans banget ama Naya & Jebraw. Awalnya bingung sih nanti dapet email konfirmasi atau engga, di instagram juga ada yang nanya tapi gak di respon sama adminnya. Gue jadi beranggapan, mungkin kalo udah regis kita pasti bisa masuk. Karena seumur gue hidup, gue belum pernah diusir dari suatu event cuma gara-gara hal sepele.

Pas tanggal 26 Agustus, gue dan temen gue berangkat dari Stasiun UI kira-kira jam 1 kuranglah. Well, ini agak konyol sih. Acaranya baru mulai jam 5 sore, tapi registrasinya udah mulai jam 3 sore. Yaudahlah kita cari aman dengan berangkat ‘pagi’. Kita turun di St.Sudirman, trus naik Busway jurusan blok M dan turun di halte Gelora Bung Karno. Tinggal jalan dikit dari GBK, nyampelah di Fx. Jam udah menunjukan jam setngah tiga tapi pas kita ke atas: SEPI. Lanjutkan membaca Gagal Ketemu Naya & Jebraw